Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menegaskan bahwa Turkiye merupakan mitra strategis bagi Indonesia dan termasuk sedikit negara yang memiliki hubungan dialog tingkat tinggi secara rutin dengan Jakarta.
Tinjauan.id – Baru-baru ini, Menlu RI Sugiono dan Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengunjungi Ankara, Turkiye. Kedua menteri tersebut disambut oleh Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan dan Menteri Pertahanan Turkiye Yaşar Güler. Dalam pertemuan bilateral tersebut, masing-masing negara menyatakan bahwa hubungan bilateral Indonesia-Turkiye adalah mitra strategis.
Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menegaskan bahwa Turkiye merupakan mitra strategis bagi Indonesia dan termasuk sedikit negara yang memiliki hubungan dialog tingkat tinggi secara rutin dengan Jakarta, menyusul pertemuan bersama menteri luar negeri dan pertahanan kedua negara di Ankara, seperti dirilis Anadolu.
Sugiono menyatakan kunjungannya ke Turkiye merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan.
Ia menekankan bahwa pertemuan ini digelar setelah pelaksanaan pertemuan pertama Dewan Kerja Sama Strategis Tingkat Tinggi Indonesia–Turkiye yang berlangsung pada 2025 dengan kehadiran Presiden Indonesia dan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan.
“Turkiye adalah mitra strategis bagi Indonesia. Indonesia hanya memiliki sedikit mitra yang memiliki dialog reguler pada tingkat seperti ini,” ujar Sugiono.
Kerjasama Lintas Sektor
Sugiono menilai pertemuan tersebut memiliki arti strategis karena membahas berbagai prioritas utama bilateral, termasuk kerja sama ekonomi.
Sugiono menyebut peningkatan akses pasar bagi produk strategis dan penyelesaian perjanjian perdagangan bebas preferensial menjadi langkah awal menuju kerja sama yang lebih luas.
Menurutnya, langkah tersebut berpotensi membuka peluang ekonomi besar yang akan menguntungkan kedua negara.
Di sektor energi, Sugiono menyampaikan bahwa Indonesia dan Turkiye sepakat memperkuat kerja sama di bidang energi terbarukan.
Kedua negara juga menyetujui pengembangan ekosistem baterai secara bersama, investasi di sektor petrokimia, proyek energi dan pertambangan, serta pembentukan dana bersama untuk mendukung proyek-proyek strategis.
Sugiono juga menekankan pentingnya kerja sama pertahanan bagi Indonesia, terutama dalam upaya mencapai kemandirian strategis di tengah dinamika regional dan global yang semakin kompleks.
Ia menambahkan bahwa Ankara dan Jakarta secara rutin berkoordinasi dan bertukar pandangan di berbagai forum internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Kerja Sama Islam, D8, dan ASEAN.
Menurutnya, kedua negara memiliki kepentingan bersama dalam mendorong sistem ekonomi global yang lebih adil serta memperkuat kerja sama di dunia Islam.
Terkait isu Palestina, Sugiono menyatakan Indonesia terus berupaya melindungi hak-hak rakyat Palestina dan mendorong penyelesaian krisis Gaza melalui berbagai platform internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Sugiono juga mengundang Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan beserta delegasi untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi D8 yang akan digelar di Jakarta tahun ini.
Ia juga menyatakan harapannya agar Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan dapat hadir dalam pertemuan tersebut.
Sambutan Menlu Turkiye
Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan menegaskan hal yang sama, pentingnya kemitraan strategis antara Turkiye dan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan regional dan global, termasuk isu keamanan, ekonomi, serta stabilitas kawasan.
Dalam keterangannya, Fidan mengingatkan bahwa Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan telah mengunjungi Jakarta pada Februari 2025 dan memimpin pertemuan pertama Dewan Kerja Sama Strategis Tingkat Tinggi.
Kunjungan tersebut kemudian diikuti kunjungan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ke Turkiye pada April lalu.
“Para pemimpin kedua negara telah memberikan arahan yang jelas untuk membawa hubungan Turkiye dan Indonesia ke tingkat tertinggi. Berdasarkan kemauan politik yang kuat ini, kami membahas seluruh aspek kerja sama strategis dalam pertemuan hari ini,” kata Fidan.
Ia menegaskan komitmen kedua negara untuk meningkatkan nilai perdagangan bilateral hingga mencapai 10 miliar dolar AS. Menurut Fidan, kerja sama strategis akan diperdalam di sektor konstruksi, energi, kesehatan, serta industri halal.
Fidan juga menekankan pentingnya kerja sama multilateral, khususnya dalam kerangka kebijakan “Kembali ke Asia” negara itu.
Ia menyebut Indonesia sebagai mitra kunci dalam upaya Ankara memperkuat hubungan dengan kawasan Asia Pasifik dan ASEAN.
Dalam isu regional, Fidan menyatakan Turkiye dan Indonesia memiliki kerja sama erat terkait Palestina dan Gaza. Kedua negara merupakan bagian dari kelompok kontak yang dibentuk Organisasi Kerja Sama Islam dan Liga Arab.
Ia menilai kerja sama dengan Indonesia selama dua tahun terakhir telah memberikan hasil nyata.
Menurut Fidan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa negara-negara Islam dapat mencapai kemajuan jika menunjukkan inisiatif, keberanian, dan komitmen bersama.
Kerjasama Pertahanan
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan komitmen Indonesia dan Turkiye untuk memperkuat kerja sama pertahanan strategis melalui proyek bersama di kedua negara, yang akan diformalkan dalam sebuah perjanjian kerja sama pertahanan bilateral.
Sjafrie mengatakan kedua negara sepakat membangun fondasi kuat kerja sama pertahanan melalui proyek konkret yang dijalankan secara timbal balik di kedua negara.
“Dengan proyek-proyek yang akan kami laksanakan bersama di kedua negara, kami akan membangun dasar yang kuat dan memahkotai kerja sama pertahanan Indonesia dan Turkiye melalui sebuah perjanjian kerja sama pertahanan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan sumber daya manusia, termasuk peningkatan profesionalisme, penguatan kapasitas, serta peningkatan kemampuan militer melalui program pendidikan dan pelatihan bersama.
Menurut Sjafrie, Indonesia dan Turkiye berencana segera membentuk kelompok kerja bersama yang akan mulai bekerja dalam waktu dekat, baik di Turkiye maupun di Indonesia, untuk merealisasikan program-program yang telah disepakati.
Dalam sektor industri pertahanan, Sjafrie menekankan bahwa kerja sama akan mencakup teknologi tingkat lanjut, termasuk teknologi pesawat tempur.
“Dalam kerangka ini, kerja sama teknologi maju akan diwujudkan dan teknologi jet tempur juga akan termasuk di dalamnya. Kami ingin memulai kerja sama ini secepat mungkin,” kata Sjafrie.
Ia menambahkan, melalui kerja sama pertahanan dengan Turkiye, kemampuan pertahanan Indonesia diharapkan dapat ditingkatkan dan dikembangkan secara signifikan.
Selain isu pertahanan bilateral, Menhan Sjafrie juga menyinggung situasi di Gaza. Ia menyatakan bahwa upaya pembentukan dan penguatan pasukan penjaga perdamaian akan terus didorong sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dan Turkiye dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan serta global.[]













Discussion about this post