Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Dunia

Hegemoni Amerika Serikat dan Alasan Dibalik Perang

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
January 10, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Memahami Polemik Bank Aceh

Di zaman ini, perang diciptakan untuk perputaran industri militer dengan produksi alutsista bersakala besar dan tentunya ada analisis cost-benefit sebuah negara untuk diinvasi, ada alasan ekonomi yang kuat dibalik perang, termasuk Amerika Serikat.

The tautology of hegemony every century adalah sepenggal tagline buku kedua saya Mencari Tuhan-Tuhan Peradaban yang menggambarkan bagaimana genealogi hegemoni dari abad klasik hingga kontemporer.

Semua negara atau imperium pernah memiliki masa keemasannya. Masa keemasan selalu diasosiasikan dengan smasembawa pangan dan energi. Akan tetapi negara adidaya untuk mencapai predikat tersebut selalu berjalan di atas kolonialisasi negara-negara kecil.

Itu terjadi di era dulu hingga sekarang. Ia hanya bermetamorfosa dalam bentuk baru yang di kenal dengan pasar bebas, sebuah tools ekonomi liberal yang menjadi palu godam bagi negara yang tidak well qualified, akan tetapi kaya akan sumber daya.

Dalam paradigma lama, perang tidak hanya bertujuan ekspansi, akan tetapi perang juga berfungsi sebagai katup pengaman untuk melepas semua tekanan internal keluar. Selain itu, untuk melebarkan wilayah-wilayah untuk kompensasi para pangeran dan jenderal imperium besar sebagai bentuk pendelegasian kekuasaan.

Di zaman ini, perang di ciptakan untuk perputaran industri militer dengan large scale of production alutsista dan tentunya ada analisis cost-benefit sebuah negara untuk diinvasi, ada alasan ekonomi yang kuat dibalik perang.

Kita bisa melihat hal ini di Panama untuk kepentingan Terusan Panama, invasi Bush dan Blair di Irak untuk kepentingan core national interest Amerika yaitu minyak dan sekarang Venezuela dengan motif yang sama.

Amerika adalah negara adidaya yang sangat ketergantungan dengan minyak untuk menjadi pelumas industri domestiknya. Bahkan menurut studi literasi, potensi Amerika merusak ozon bumi setara dengan 146 negara anggota protokol Kyoto dari 192 total anggota.

Artinya, jika AS benar-benar berkomitmen pada lingkungan maka perubahan iklim tidak akan separah sekarang. Hanya saja Amerika berdalih jika benar-benar meratifikasi protokol Kyoto dan perjanjian Paris, maka akan berdampak pada stabilitas ekonomi domestik dan global.

AS tidak akan benar-benar mampu berkomitmen terhadap environmental ethics, ia akan lebih mementingkan kebutuhan industri manufakturnya. Bahkan tak jarang mengklaim bahwa perubahan iklim adalah mitos.

Dari serangkaian uraian ini, adalah penyebab asal utama mengapa AS selalu mengincar minyak dan memastikan keberlangsungan stok energi untuk menghindari krisis seperti yang terjadi pada tahun 1929 lalu.

Walaupun terdapat berbagai bahasa politik untuk melegalkan invasi Amerika mulai dari “Komunisme, Perang terhadap terorisme, demokratisasi dan hancurkan rezim otoriter dan perang terhadap narkoba”.

Dalam anatomi ekonomi-politik, mata uang sebuah negara tidak selalu menjadi signifikan prediktor kesuksesan sebuah negara. Buktinya AS bahkan harus mendepresiasi mata uangnya di Plaza accord agar neraca transaksi globalnya kembali stabil. Dan banyak indeks faktor X lainnya sebuah negara dikatakan maju.

Seperti militer, sumber daya energi, mineral kritis dan yang paling mutakhir di era sekarang adalah semikonduktor. Ini adalah komoditas yang jauh lebih interest bagi Amerika. Pesawat siluman B-2 spirit milik AS adalah wujud nyata dari pentingnya semikonduktor yang mampu menghindari sensor radar negara target invasi.

AS wajib memastikan dirinya settle, proper dan well qualified dalam berbagai ajang pertarungan global baik ekonomi, militer dan sumber daya agar memenuhi kualifikasi doktrin Wolfowitz yang menyatakan bahwa tidak ada boleh negara yang mampu menyaingi Paman Sam.

Donald trump adalah seorang pebisnis, ia mampu mendiagnosa kesehatan perusahaannya. Begitu juga dengan negara yang ia pegang sekarang. Trump berdiri di atas mencusuar melihat problem AS secara komprehensif dari berbagai lini mulai dari tarif bagi negara-negara lain, anti terhadap imigran, sumber daya energi, mineral kritis untuk pengembangan teknologi militer dan ekonomi hectocorn domestiknya.

Upaya ini dia lakukan bermuara pada jargon kampanyenya yaitu #MakeAmericanGreatAgain yang dilakukan secara simultan dan perbaikan dari berbagai arah. Memberhentikan bantuan luar negeri melalui USAID, memproteksi pasar domestik dengan tarif, membatasi imigran masuk ke AS.

Oleh: Rahmat Fahlevi, penulis buku Mencari Tuhan-Tuhan Peradaban.

Tags: Amerika SerikatPerangpolitik global
ShareTweetSendShare

Related Posts

Kelompok Intelektual Baru Lahir di Saat Kampus Mati Suri
Opini

Kelompok Intelektual Baru Lahir di Saat Kampus Mati Suri

January 29, 2026
Riset Oxford, Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Terdampak Panas Ekstrem Dunia pada Tahun 2050
Dunia

Riset Oxford, Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Terdampak Panas Ekstrem Dunia pada Tahun 2050

January 27, 2026
Mesin Profiling Politik Tercanggih Adalah Algoritma TikTok: Begini Cara Kerjanya
Dunia

Mesin Profiling Politik Tercanggih Adalah Algoritma TikTok: Begini Cara Kerjanya

January 23, 2026
Trump Tegaskan Ambisi Kuasai Greenland di Davos, Berikut Alasannya
Dunia

Trump Tegaskan Ambisi Kuasai Greenland di Davos, Berikut Alasannya

January 22, 2026
Realisme Trump, Robohnya Patung Liberty, dan Momen Peralihan Sejarah
Dunia

Realisme Trump, Robohnya Patung Liberty, dan Momen Peralihan Sejarah

January 21, 2026
Menakar Prospek Kemitraan Strategis RI-Turkiye: Keuntungan bagi Indonesia
Dunia

Menakar Prospek Kemitraan Strategis RI-Turkiye: Keuntungan bagi Indonesia

January 17, 2026
Next Post
Agar Anak Bisa Kembali Belajar, Orang Tua dan Relawan Gotong Royong Bersihkan SLBN Aceh Tamiang

Agar Anak Bisa Kembali Belajar, Orang Tua dan Relawan Gotong Royong Bersihkan SLBN Aceh Tamiang

Kak Na Apresiasi Dedikasi Para Guru di Lokasi Bencana

Kak Na Apresiasi Dedikasi Para Guru di Lokasi Bencana

Discussion about this post

Recommended Stories

Penambang Indonesia pertaruhkan nyawa di gunung berapi aktif

January 1, 2023

BPS: Inflasi RI selama 2022 tembus 5.51%

January 2, 2023
Prabowo Anugerahi 5 Purnawirawan Gelar Jenderal Bintang 4, Ada Menhan Sjafrie dan Bang Ali!

Prabowo Anugerahi 5 Purnawirawan Gelar Jenderal Bintang 4, Ada Menhan Sjafrie dan Bang Ali!

August 10, 2025

Popular Stories

  • Tingkat Pengangguran Usia Muda Tinggi, Indonesia Berjuang Ciptakan Lapangan Kerja

    Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Review Laporan Keuangan Bank Aceh Syariah (I) ; Triliunan Dana Diinvestasikan ke Luar Aceh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi.tinjauan@gmail.com

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • Contact Us

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?