Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Opini

Demonstrasi Damai dan Ancaman Provokator: Melindungi Nyawa dengan Kesadaran Teoritis sekaligus Kolektif

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
August 30, 2025
Reading Time: 3 mins read
0
Demonstrasi Damai dan Ancaman Provokator: Melindungi Nyawa dengan Kesadaran Teoritis sekaligus Kolektif

Tuanku Muhammad Radiyan

Berdasarkan kajian teori sosial, kehadiran aktor-aktor yang menjadi provokator dalam demonstrasi bukanlah kebetulan, melainkan strategi terencana untuk mengalihkan narasi dan memberikan legitimasi bagi tindakan represif.

Oleh: Tuanku Muhammad Radiyan*

Akhir-akhir ini, gelombang unjuk rasa kembali memenuhi jalan-jalan ibu kota dan berbagai kota besar di Indonesia. Suara-suara yang menuntut keadilan dan perubahan bergema lantang, mencerminkan dinamika demokrasi yang hidup. Namun, di balik semangat perjuangan yang mulia tersebut, muncul bayangan kelam yang mengancam: eskalasi kekerasan yang telah memakan korban jiwa.

Tragedi kematian dalam aksi demonstrasi bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan potret suram betapa mudahnya situasi damai berubah menjadi arena berbahaya.

Fenomena ini tidak dapat dipisahkan dari kehadiran provokator yang kerap menyusup dalam barisan demonstran. Berdasarkan kajian teori sosial, kehadiran aktor-aktor ini bukanlah kebetulan, melainkan strategi terencana untuk mengalihkan narasi dan memberikan legitimasi bagi tindakan represif.

Setiap nyawa yang melayang menjadi pengingat pahit bahwa ruang demokrasi kita masih rentan terhadap manipulasi dan kekerasan yang dibungkus kepentingan politik.

Demonstrasi merupakan manifestasi fundamental dari hak berserikat dan berkumpul dalam sebuah demokrasi. Bagi sejarawan Charles Tilly, unjuk rasa menjadi salah satu repertoires of contention atau kumpulan strategi pertentangan, yakni sarana sah bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan menuntut perubahan.

Namun, dalam situasi politik yang tegang, kemurnian tujuan ini sering diuji oleh kehadiran aktor-aktor yang ingin mengalihkan narasi, yaitu provokator. Memahami dinamika ini melalui lensa teori sosial bukan hanya akademis, melainkan sebuah keharusan praktis untuk menjaga nyawa dan mempertahankan integritas perjuangan.

Provokator selalu dijadikan sebagai alat penutup ruang demokratis. Dalam Teori Proses Politik (Political Process Theory) dinyatakan bahwa gerakan sosial membutuhkan political opportunity structure – celah dalam sistem politik – untuk dapat efektif. Aksi demonstrasi damai berusaha membuka celah ini dengan menunjukkan dukungan publik yang luas dan legitimasi moral.

Kehadiran provokator, yang sering kali didalangi oleh pihak yang berkepentingan mempertahankan status quo, bertujuan khusus untuk menutup celah ini dengan cepat.

Tindakan anarkis yang mereka picu memberikan justifikasi bagi pihak berwenang untuk melakukan pembubaran paksa, seringkali dengan kekerasan, sehingga mengakhiri potensi dialog dan mematikan jalur perubahan yang damai. Dengan kata lain, provokator adalah instrument represif yang menyamar untuk meredam suara rakyat.

Aktor-aktor semacam ini akan dikerahkan untuk merusak mobilisasi dan legitimasi. Kesuksesan sebuah gerakan bergantung pada kemampuannya mengumpulkan sumber daya; dukungan publik, simpati, dan organisasi yang solid. Ini yang disebut sebagai Resource Mobilization atau mobilisasi sumber daya.

Provokator secara sistematis menyerang sumber daya ini. Sebuah demonstrasi yang tertib dan damai memiliki modal sosial yang besar. Namun, satu tindakan pelemparan batu atau pembakaran yang diprovokasi dapat mengubah citra tersebut secara instan di mata publik. Narasi media beralih dari “massa menuntut keadilan” menjadi “perusuh anarkis”. Dukungan publik pun luntur.

Simpulnya, provokator bekerja untuk meracuni sumber daya terpenting gerakan: legitimasinya.

Lebih penting lagi, perlu digaungkan suatu narasi damai yang harus dipertahankan bagaimana caranya.

Gerakan sosial perlu membangun framing atau bingkai naratif yang kuat untuk mendapatkan dukungan, seperti bingkai “perlawanan terhadap ketidakadilan” atau “perjuangan rakyat”.

Provokator hadir untuk merusak bingkai ini dan menggantinya dengan counter-frame yang destruktif, seperti “kekacauan”, “anarki”, atau “ancaman ketertiban”. Pelemparan molotov oleh segelintir orang yang didalangi lebih powerful dampaknya daripada ribuan spanduk yang berisi tuntutan.

Ia menggeser seluruh percakapan publik. Karena itu, kewaspadaan terhadap provokator adalah bagian dari perang bingkai, yaitu mempertahankan makna dan tujuan sebenarnya dari demonstrasi.

Oleh karena itu, kewaspadaan kolektif harus ditingkatkan demi keberlangsungan gerakan unjuk rasa yang sistematis, solid dan rapih. Beberapa langkah strategis yang dapat diambil adalah:

Pertama, adalah pengorganisasian yang lebih ketat. Peningkatkan koordinasi dan disiplin internal merupakan hal mutlak. Setiap peserta harus memahami rute, waktu, dan tata tertib. Pengawal aksi yang terlatih dan dapat diidentifikasi dengan jelas merupakan sumber daya penting untuk mengantisipasi infiltrasi.

Kedua, patroli mandiri oleh relawan wajib dilakukan untuk memantau gerak-gerik mencurigakan di sekitar kerumunan. Teori Proses Politik mengajarkan bahwa lawan akan memanfaatkan kerentanan. Mengidentifikasi provokator potensial sebelum mereka bertindak adalah bentuk pertahanan proaktif.

Ketiga, dalam dunia dengan informasi yang serba cepat, pendokumentasian secara cerdas menjadi hal krusial. Setiap aksi provokatif harus di dokumentasi secara jelas. Bukti visual ini tidak hanya berguna untuk otoritas hukum tetapi juga untuk counter-narasi di media.

Keempat, dalam perang bingkai, bukti adalah senjata. Penyebarluasan rekaman dengan konteks yang tepat harus dilakukan demi mempertahankan framing demonstran yang damai.

Kelima, dan ini yang terpenting, adalah menjaga keselamatan nyawa. Jika provokasi memicu kekerasan dan eskalasi tidak terhindarkan, keselamatan jiwa adalah hal yang paling utama. Menjauh dari episentrum kerusuhan bukanlah bentuk pengecut, melainkan strategi untuk melestarikan perjuangan dalam jangka panjang. Korban seperti Almarhum Affan Kurniawan dan beberapa korban lainnya adalah sedikit contoh dari eskalasi yang tidak terkontrol. Tragis tetapi seharusnya dapat dihindari.

Demonstrasi damai adalah pilar demokrasi, sementara provokator adalah antitesisnya. Dengan memahami motif dan taktik mereka, kita tidak hanya menjadi waspada, tetapi juga menjadi lebih cerdas dan strategis dalam berjuang.

Mari kita suarakan aspirasi dengan lantang, namun juga lindungi setiap nyawa dengan kesadaran penuh. Karena pada akhirnya, kemenangan sebuah gerakan diukur dari kemampuannya membawa perubahan nyata, bukan dari jumlah kerusakan yang ditinggalkan.

*Penulis adalah pengamat politik, peneliti Center for Aceh Development (CAD), Ketua PW Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Nanggroe Atjeh Darussalam.

Tags: Demo 28 Agustusdemonstrasiindonesia
ShareTweetSendShare

Related Posts

Corvée
Opini

Corvée

February 10, 2026
Mencari Figur Ketua Demokrat Aceh: Tak Ada Kemenangan yang Tak Diperjuangkan
Opini

Mencari Figur Ketua Demokrat Aceh: Tak Ada Kemenangan yang Tak Diperjuangkan

February 6, 2026
Melihat Sisi Baik Kekerasan: Pandangan Sosiologis
Opini

Melihat Sisi Baik Kekerasan: Pandangan Sosiologis

February 5, 2026
Dianggap Sumber Kegaduhan, Jubir KPA Bang Jack Libya Sepakat Mualem Ganti Ketua DPRA
Daerah

Dianggap Sumber Kegaduhan, Jubir KPA Bang Jack Libya Sepakat Mualem Ganti Ketua DPRA

February 2, 2026
Kisah Hubungan Mualem dengan Rian Syaf dan Dukungan Partai Demokrat
Laporan dan Analisis

Kisah Hubungan Mualem dengan Rian Syaf dan Dukungan Partai Demokrat

February 1, 2026
Kelompok Intelektual Baru Lahir di Saat Kampus Mati Suri
Opini

Kelompok Intelektual Baru Lahir di Saat Kampus Mati Suri

January 29, 2026
Next Post
Vonis 10 Tahun Penjara Nyonya N Dihilangkan, 22 Aset Dikembalikan

Vonis 10 Tahun Penjara Nyonya N Dihilangkan, 22 Aset Dikembalikan

Ribuan Massa Aliansi Rakyat Aceh Gelar Aksi di Depan Gedung DPRA

Ribuan Massa Aliansi Rakyat Aceh Gelar Aksi di Depan Gedung DPRA

Discussion about this post

Recommended Stories

Jadi Mesin Pertumbuhan, Ekonomi Kreatif Kini Tambang Baru Nasional

Jadi Mesin Pertumbuhan, Ekonomi Kreatif Kini Tambang Baru Nasional

December 29, 2025
Tgk. Irfan Siddiq Apresiasi Program Beut Kitab Bak Sikula

Tgk. Irfan Siddiq Apresiasi Program Beut Kitab Bak Sikula

October 2, 2025
Mualem Tutup KKN UGM di Pulo Aceh, Singgung Persoalan Mendasar Warga di Pulo Aceh

Mualem Tutup KKN UGM di Pulo Aceh, Singgung Persoalan Mendasar Warga di Pulo Aceh

August 7, 2025

Popular Stories

  • Tingkat Pengangguran Usia Muda Tinggi, Indonesia Berjuang Ciptakan Lapangan Kerja

    Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Review Laporan Keuangan Bank Aceh Syariah (I) ; Triliunan Dana Diinvestasikan ke Luar Aceh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi.tinjauan@gmail.com

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • Contact Us

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?