Ekonomi Indonesia hari ini menurut ekonom Chatib Basri tak seburuk yang dibayangkan, tapi fiskal Jadi titik lemah yang harus ditangani dengan baik.
TINJAUAN.ID | Di tengah gejolak nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS dan berbagai kekhawatiran tentang arah ekonomi nasional, suara Chatib Basri kembali menjadi rujukan publik. Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan RI itu tampil dalam Grab Business Forum 2026 di Shangri-La Hotel, Jakarta, Selasa 9 Juni 2026 dan menyampaikan penilaian yang optimis namun penuh peringatan.
Chatib Basri adalah ekonom senior yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan RI periode 2013–2014 dan Kepala BKPM 2012–2013, dikenal luas atas keahliannya di bidang kebijakan ekonomi makro dan fiskal. Dalam forum tersebut, ia memulai dengan nada yang relatif menenangkan.
Chatib menilai kondisi perekonomian domestik Indonesia saat ini tidak seburuk yang banyak dibayangkan. “Domestic economy, yang menarik adalah situasi di domestik itu enggak seburuk yang dibayangkan. Karena kalau dilihat di kuartal pertama, household consumption-nya itu masih relatively lumayan,” kata Chatib Basri di Jakarta, Selasa, 10 Juni 2026.
Menurutnya, konsumsi rumah tangga di kuartal pertama itu didorong oleh momen puasa dan Lebaran, sehingga pertumbuhan masih terasa cukup solid.
Soal pertumbuhan PDB, ia tetap realistis. Chatib menilai pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,5% hingga 5% masih tergolong baik jika dibandingkan dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian.
“Orang boleh berdebat angkanya 5,6% atau 5,1%, 4,7%, berapapun angkanya itu tidak negative growth. Jadi ekonomi kita kalau bicara dari global standar, 4,5% sampai 5% is not bad at all di saat dunia seperti ini,” kata Chatib.
Ekonomi Indonesia Bukan Seperti Krisis 1998,Tapi Jangan Lengah
Kekhawatiran publik yang membandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter 1998 langsung ia tepis dengan tegas. “Sama enggak ’98 dengan 2026? The answer is no karena yang membedakan paling besar adalah flexible exchange rate,” ujar Chatib.
Menurutnya, struktur ekonomi nasional telah mengalami perubahan besar sehingga lebih siap menghadapi gejolak ekonomi global. Sistem keuangan yang lebih matang, pemahaman risiko yang lebih baik, serta instrumen pengelolaan risiko yang semakin berkembang menjadi fondasi penting dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Berbeda dengan 1998, pada tahun 2026 kelompok menengah atas hingga korporasi sudah melakukan langkah antisipasi melalui lindung nilai (hedging) maupun menyimpan aset dalam bentuk valuta asing, sehingga sektor korporasi lebih resilien.
Meski kondisi domestik terbilang terjaga, Chatib tak menutup mata terhadap tekanan nyata yang sedang dihadapi Indonesia. Dan analisisnya soal akar masalah ini terbilang tajam.
Melalui Granger Causality test, Chatib menemukan bahwa faktor terbesar yang menjelaskan pelemahan rupiah bukanlah konflik geopolitik, melainkan risiko fiskal — di mana sekitar 23 persen varian perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat dijelaskan oleh pergerakan Credit Default Swap (CDS).
CDS sendiri adalah instrumen asuransi bagi investor asing yang membeli obligasi pemerintah — angkanya naik saat persepsi risiko fiskal meningkat.
Yang mengkhawatirkan, memburuknya angka CDS Indonesia sudah mulai terlihat sejak Januari 2026, jauh sebelum ketegangan perang di Timur Tengah meningkat. Hal ini dipicu oleh keputusan Moody’s mengubah outlook ekonomi Indonesia menyusul kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran yang diprediksi mendekati angka tiga persen.
Kesimpulannya tegas: “Soal kita itu adalah soal confidence di fiskal,” kata Chatib.
Chatib Basri Menawarkan Solusi
Chatib tak hanya mendiagnosis masalah, ia juga menawarkan resep. Dan pilihannya hanya satu.
Dari tiga opsi yang ada — menaikkan pajak, memotong belanja, atau menambah utang — Chatib menegaskan hanya satu yang realistis: “Cut the spending selectively.”
Menaikkan pajak dinilai tak bijak karena akan memukul daya beli masyarakat bawah yang sedang lesu, sementara menambah utang baru pun tak ideal karena cost-nya akan sangat mahal di tengah tingginya suku bunga global dan pelemahan rupiah.
Langkah memotong belanja secara selektif dipandang Chatib sebagai obat paling mujarab yang harus diambil pemerintah saat ini, demi menjaga kredibilitas dan keberlanjutan fiskal Indonesia di mata investor global.
Kelas Menengah dan Ancaman AI
Di balik angka agregat yang masih positif, Chatib mengingatkan bahwa ada segmen masyarakat yang sedang dalam tekanan riil.
Ia menegaskan bahwa kondisi daya beli di Indonesia tidak bisa dilihat secara agregat, tetapi harus dilihat secara granular per kelompok masyarakat. “Kelompok yang spending-nya antara sekitar 3 juta sampai 10 juta, itu mereka experience negative growth di dalam 7 tahun terakhir,” jelasnya.
Selain itu, Chatib juga memperingatkan ancaman disrupsi kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi memperparah ketimpangan melalui fenomena K-shaped recovery — kondisi di mana satu kelompok masyarakat tumbuh pesat sementara kelompok lainnya justru merosot tajam.
Tantangan Indonesia di tahun 2026 ini ada dua hal: menjaga disiplin anggaran demi mempertahankan kepercayaan pasar, sekaligus memastikan SDM Indonesia mampu beradaptasi dengan era AI.
Pesan Chatib Basri
Pesan Chatib Basri sebenarnya sederhana namun berat: Indonesia tidak dalam krisis, tapi bukan berarti aman. Fondasi domestik masih berdiri, namun kepercayaan pasar terhadap fiskal adalah pertaruhan yang tidak boleh dianggap remeh.
Jika pemerintah mampu menjaga kredibilitas fiskal dengan melakukan penghematan yang terukur, ada harapan kondisi ini bisa diperbaiki, “soal confidence risk, kalau isu ini di-address, sebetulnya ada harapan ini bisa diperbaiki.”
Kini keputusan ada di tangan pemerintah.
Sumber: Grab Business Forum 2026, Jakarta, 9 Juni 2026.











Discussion about this post