Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Opini

AKBP Arif Fazlurrahman dan Ikhtiar Membangun Karakter Polisi yang Humanis

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
August 1, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
AKBP Arif Fazlurrahman dan Ikhtiar Membangun Karakter Polisi yang Humanis

Beberapa waktu lalu, melalui akun media sosialnya AKBP Arif Fazlurrahman menceritakan kisah sederhana yang kemudian menjadi viral.

Penulis: M. Fauzan Febriansyah* 

TINJAUAN.ID | Ada ironi dalam persoalan pelayanan publik yang sering terjadi tapi luput dari perhatian kita. Seseorang kerap baru memahami arti melayani ketika ia pernah merasakan bagaimana rasanya tidak dilayani dengan baik.

Pengalaman tidak dilayani dengan baik oleh rekan sejawat menjadi pengalaman yang reflektif serta membentuk cara pandang AKBP Arif Fazlurrahman, S.H., S.I.K., M.Si., terhadap profesi yang telah ia jalani.

Saya mengikuti perjalanan karier beliau sejak beberapa tahun terakhir. Yang menarik bukan hanya capaian jabatannya serta prestasi operational. Melainkan cara ia memaknai hubungan antara polisi dan masyarakat dalam pelayanan dan penegakan hukum.

Beberapa waktu lalu, melalui akun media sosialnya AKBP Arif, menceritakan kisah sederhana yang kemudian menjadi viral.

Saat itu Arif sengaja datang ke sebuah kantor polisi untuk melaporkan kehilangan sepeda pancalnya. Ia datang tanpa memperkenalkan dirinya sebagai anggota Polri.

Yang diterimanya bukan pelayanan yang ramah. Karena nilai sepeda dianggap tidak seberapa, laporan itu diperlakukan dengan dingin. Tidak dipersilakan duduk. Tidak ada empati. Seolah kehilangan kecil bukan persoalan penting.

Alih-alih menyimpan pengalaman itu sebagai kemarahan pribadi, Arif menjadikannya bahan refleksi bagi institusinya. Ia berkisah kepada anak buahnya bahwa setiap orang yang datang ke kantor polisi membawa masalah yang bagi mereka sangat besar, meskipun bagi petugas nilainya tampak kecil.

Arif memberikan pesan yang kuat bahwa pelayanan publik kepolisian tidak boleh diukur dari siapa yang datang membuat pengaduan dan berdasarkan harga barang yang hilang. Tapi pelayanan dilakukan berlandaskan penghormatan terhadap martabat manusia.

Kisah tersebut kemudian banyak diperbincangkan media nasional karena menghadirkan kritik dari dalam tubuh Polri sendiri terhadap budaya birokrasi yang masih menyisakan wajah kurang ramah kepada masyarakat. Nilai yang ingin disampaikan sederhana: kualitas pelayanan publik lahir dari empati, bukan memandang pangkat dan jabatan.

Mutasi terbaru AKBP Arif dari Kapolres Lamongan menjadi Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, membawa harapan bahwa model kepemimpinan yang humanis akan hadir di salah satu wilayah dengan kompleksitas lalu lintas terbesar di Indonesia.

Dalam teori administrasi publik modern, kepercayaan masyarakat (public trust) bukan dibangun pertama-tama oleh penindakan hukum.

Kepercayaan masyarakat dibangun oleh pengalaman sehari-hari warga ketika berinteraksi dengan negara. Ketika masyarakat datang membuat laporan. Ketika meminta pertolongan. Ketika mengurus administrasi. Ketika mereka merasa diperlakukan sebagai manusia.

Karena itu pelayanan publik bukan sekadar prosedur administratif. Pelayanan publik adalah komunikasi moral antara negara dengan masyarakatnya.

Latar belakang pendidikan AKBP Arif sebagai seorang santri yang pernah bercita-cita menjadi dokter, ditambah pengalaman kehilangan sepeda—kemudian membentuk gaya kepemimpinan Arif dalam setiap jenjang karier dan tempat ia bekerja.

Di Lamongan, misalnya, ia memulai masa tugas bukan dengan menunjukkan kewenangan, tetapi dengan bersilaturahmi kepada para ulama, termasuk Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat KH Abdul Ghofur. Ia bahkan secara terbuka meminta doa dan nasihat sebelum menjalankan amanah sebagai Kapolres.

Dalam budaya nusantara, tindakan semacam itu memiliki makna simbolik. Pemimpin yang datang meminta nasihat sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa kekuasaan tidak membuat seseorang merasa paling benar.

Sebutan “polisi santri” yang melekat kepada dirinya bukan sekadar sebutan identitas untuk anggota Polri berlatar pesantren. Lebih jauh, penabalan sosial oleh masyarakat itu mencerminkan cara pandang bahwa keamanan tidak hanya dibangun melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui pendekatan keagamaan dan komunitas masyarakat.

Pendekatan tersebut terlihat dalam berbagai kegiatan Polres Lamongan, mulai dari penguatan sinergi dengan pondok pesantren, edukasi mitigasi bencana bagi para santri, hingga pembinaan generasi muda melalui pendekatan preventif.

Model seperti ini sejalan dengan konsep community policing yang banyak dipraktikkan di berbagai negara. Sebuah filosofi penegakan hukum yang berfokus pada kemitraan kolaboratif antara polisi dan warga. Polisi tidak ditempatkan semata sebagai aparat penegak hukum. Mereka juga menjadi mitra sosial masyarakat.

Namun humanis tentu bukan berarti lunak. Dalam berbagai kesempatan, Arif juga menegaskan bahwa penegakan hukum tetap harus dilakukan tanpa kompromi terhadap pelanggaran yang mengancam ketertiban umum.

Ketika mengamankan agenda masyarakat di Lamongan, ia menekankan bahwa tidak boleh ada negosiasi terhadap pelanggaran hukum, siapa pun pelakunya.

Di sinilah keseimbangan itu terlihat. Empati kepada masyarakat. Tetapi tegas terhadap pelanggaran. Pendekatan seperti inilah yang justru penting diwujudkan dalam birokrasi reformasi kepolisian.

Kini Arif dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Tantangannya tentu jauh lebih besar. Jakarta bukan hanya soal kemacetan. Jakarta adalah ruang perjumpaan jutaan warga dengan aparat negara setiap hari.

Dimana setiap tilang, pengaturan arus kendaraan, peristiwa kecelakaan, pelayanan di Samsat, semuanya menjadi wajah negara di mata masyarakat.

Sebab masyarakat tidak selalu mengingat berapa banyak pelanggaran yang ditindak. Namun, mereka hampir selalu mengingat bagaimana mereka diperlakukan.

Karena itu, jika pengalaman kehilangan sepeda bisa melahirkan filosofi pelayanan yang lebih manusiawi, maka publik berharap filosofi yang sama dapat mewarnai pelayanan lalu lintas di ibu kota.

Di tengah tuntutan reformasi Polri yang terus disuarakan, kisah AKBP Arif Fazlurrahman mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendasar: hukum memang ditegakkan dengan kewenangan, tetapi kepercayaan hanya dapat dibangun melalui kemanusiaan.

*Penulis adalah pengamat Kebijakan Publik dan Pendiri Movement For Future (MFF) Syndicate.

Tags: polisiPolrireformasi Polri
ShareTweetSendShare

Related Posts

7 Jurus BK Hebat: Langkah Strategis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah
Opini

7 Jurus BK Hebat: Langkah Strategis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah

July 31, 2026
Musda Demokrat Aceh: Langkah Strategis Memilih Figur Berdaya Ungkit
Opini

Sayuti Abubakar Dikaitkan dengan Perkara SAP Law Firm, Ini Penjelasan Hukum yang Jarang Dibahas

July 25, 2026
Musda Demokrat Aceh: Langkah Strategis Memilih Figur Berdaya Ungkit
Opini

Musda Demokrat Aceh: Langkah Strategis Memilih Figur Berdaya Ungkit

July 18, 2026
Refleksi Media Massa Hari Ini: Menjadikan Aksi Kemanusiaan Sebagai Agenda Utama Publik di Aceh
Opini

Refleksi Media Massa Hari Ini: Menjadikan Aksi Kemanusiaan Sebagai Agenda Utama Publik di Aceh

July 16, 2026
Blok Andaman dan Ancaman Kutukan Sumberdaya Alam
Opini

Strategi “Cato Rimueng” Geopolitik Aceh-Pusat di Atas Papan Blok Andaman

June 24, 2026
Aceh–Turki: Kemanusiaan, Kurban, dan Jaringan Alumni
Opini

Aceh–Turki: Kemanusiaan, Kurban, dan Jaringan Alumni

June 16, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Walikota Banda Aceh Tinjau Proyek Banda Aceh Academy: Harapan Baru untuk Peningkatan SDM dan Ekonomi

Walikota Banda Aceh Tinjau Proyek Banda Aceh Academy: Harapan Baru untuk Peningkatan SDM dan Ekonomi

July 30, 2025
Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa Sigli, 23 Juli 2025 – Komunitas Beulangong Tanoh menggelar kegiatan Syarah Budaya bersama tokoh Aceh, Alijullah Hasan Yusuf, pada Rabu (23/7) sore di balai kayu Pekarangan Warong Kupi Kulam, Sigli. Acara dimulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIB dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan serta komunitas, termasuk FAMe Pidie dan sejumlah komunitas literasi dan budaya lainnya. Alijullah Hasan Yusuf, atau akrab disapa Pak Ali, merupakan tokoh asal Blang Paseh yang dikenal luas sejak tahun 1970-an melalui kisahnya sebagai “penumpang gelap” menuju Eropa. Kisah tersebut kemudian dibukukan dengan judul Penumpang Gelap dan menjadi titik awal ketenarannya. Dalam kegiatan tersebut, Pak Ali membagikan pengalamannya merantau dari Aceh hingga ke Eropa. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang dipenuhi oleh pembacaan Hikayat Aceh di kampung halaman, ketertarikannya terhadap pesawat, hingga akhirnya memberanikan diri naik pesawat sebagai penumpang gelap setelah meneliti kebiasaan orang-orang di bandara saat bekerja di Jakarta. “Waktu kecil saya hanya dengar bunyi pesawat dari kejauhan. Saat melihat langsung pesawat di Kuta Cane, saya cuma bisa berbisik dalam hati: suatu hari saya akan naik pesawat itu, apa pun caranya,” ujar Pak Ali disambut tawa oleh segenap peserta yang hadir. Selain berbagi kisah pribadinya, Pak Ali juga menceritakan pertemuannya dengan sejumlah tokoh nasional, seperti Bung Hatta, Soemitro Djojohadikoesoemo, Daud Beureueh, Hasan Tiro, dan B.J. Habibie. Ia mengungkapkan bahwa Bung Hatta adalah sosok yang menyemangatinya untuk menuliskan kisah hidupnya. “Pak Hatta bilang langsung ke saya, ‘Ali, kamu harus menulis kisah hidupmu. Ini penting untuk generasi muda.’ Itu yang membuat saya mulai serius menulis,” jelas Pak Ali. Dorongan itu melahirkan buku otobiografi Penumpang Gelap yang kemudian banyak dibaca dan dikagumi, termasuk oleh calon istrinya sendiri, yang kelak ia temui dan nikahi di Indonesia. Sementara itu, pertemuannya dengan B.J. Habibie terjadi di sebuah bukit di Paris, di mana Pak Ali dan Mantan Presiden Indonesia ke-3 itu berdiskusi panjang mengenai pembangunan Aceh, termasuk rencana menghidupkan kembali jalur kereta api Aceh yang belum sempat terwujud. “Pak Habibie bilang ke saya, dia ingin membangun Aceh dengan menghidupkan kembali jalur kereta api. Tapi takdir berkata lain, beliau keburu dilengserkan,” ujar Pak Ali dengan nada haru. Pak Ali hadir di lokasi acara dengan pakaian santai, kaos berkerah putih, celana jeans biru, sepatu putih, lengkap dengan topi dan kacamata. Ia didampingi oleh istrinya, Suryati, serta anak perempuan mereka. Acara yang dipandu langsung oleh Yulia Erni, berlangsung dalam suasana akrab dan penuh antusiasme. Pesertapun terlihat aktif menyimak dan berebutan untuk melayangkan pertanyaan yang bermuara dialog panjang. Di penghujung ceritanya tadi, Pak Ali menyampaikan pesan yang menjadi inti dari perjalanan hidupnya sekaligus warisan pemikiran yang ingin ia tularkan kepada generasi muda, “Kita harus berani merantau, menulis, dan membaca,” Menurutnya, tiga hal sederhana ini merantau, menulis, dan membaca adalah kunci yang telah membuka banyak pintu dalam hidupnya. Merantau mengajarkannya tentang dunia dan keberanian, menulis membuatnya diingat dan dikenang, sementara membaca membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Merantau membuat saya berani keluar dari kampung, dari zona nyaman. Menulis membuat saya bisa merekam hidup saya, dan membaca membuat saya mengerti hidup orang lain,” jelasnya. Pak Ali berharap agar generasi muda Aceh, khususnya peserta yang hadir hari itu, tidak ragu untuk bermimpi besar, dan menjelajah dunia.

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa

July 23, 2025
Kak Na: TP Posyandu Aceh Dukung Upaya Kemenkes Capai Target Cakupan Vaksinasi dan IDL

‎Wagub Fadhlullah dan Grup Aceh Bersatu Malaysia Bantu Pemulangan Jenazah Warga Pidie dari Malaysia

May 30, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!