Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Akademisi UIN Ar-Raniry Tawarkan Alam Peudeung sebagai Solusi Polemik Bendera Aceh

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
June 26, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Akademisi UIN Ar-Raniry Tawarkan Alam Peudeung sebagai Solusi Polemik Bendera Aceh

BANDA ACEH – Polemik mengenai bendera dan lambang Aceh kembali menjadi perhatian kalangan akademisi. Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh bersama lembaga advokasi dan riset Trida menggelar diskusi publik bertajuk “Refleksi Sejarah Alam Peudeung: Penguatan Karakter dan Kepemimpinan Mahasiswa”.

Dalam acara tersebut dibahas tawaran perspektif historis mengenai Alam Peudeung sebagai alternatif penyelesaian polemik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teater Museum UIN Ar-Raniry, Kamis (25/6/2026), menghadirkan pakar hukum tata negara Dr. Delfi Suganda, LL.M., filolog dan sejarawan Hermansyah, M.Th., M.Hum., serta Ketua Yayasan Sultan Alaidinsyah sekaligus keturunan Sultan Aceh, Tuanku Warul Walidin, S.E., Ak. Diskusi juga dihadiri Wakil Dekan II FISIP Dr. Muhammad Talal, Direktur Trida Daniel Akbar Taqwaddin, Ph.D., dan Ketua Program Studi Ilmu Politik Ramzi Murziqin, S.H.I., M.A.

Direktur Trida, Daniel Akbar Taqwaddin, mengatakan ruang diskusi intelektual di Aceh semakin terbatas sehingga perlu dihidupkan kembali melalui forum-forum akademik yang membahas persoalan strategis daerah.

“Kami di Trida yang beranggotakan para akademisi dan pelaku IT berusaha mengisi kekosongan ini dengan cara-cara akademik. Forum ini merupakan langkah awal untuk menghidupkan kembali budaya berpikir kritis,” katanya.

Sementara itu, Wakil Dekan II FISIP UIN Ar-Raniry, Dr. Muhammad Talal, menyebut persoalan implementasi Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh yang berbenturan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2007 membutuhkan pendekatan yang mampu menjembatani berbagai kepentingan.

“Alam Peudeung adalah tawaran resolusi, bukan instrumen konfrontasi,” ujarnya saat membuka diskusi.

Dalam paparannya, Dr. Delfi Suganda menjelaskan bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh memang memberikan kewenangan kepada Pemerintah Aceh untuk menetapkan bendera daerah melalui qanun. Namun, menurutnya, ketentuan tersebut berbenturan dengan PP Nomor 77 Tahun 2007 yang melarang penggunaan lambang daerah yang menyerupai simbol organisasi separatis.

“Di sinilah letak kebuntuannya. Secara hierarki, qanun tidak boleh bertentangan dengan PP. Dibutuhkan political will untuk merevisi UUPA dan mereformulasi qanun, atau mencari terobosan hukum berbasis bukti sejarah yang kuat,” kata Delfi.

Dari sisi sejarah, Hermansyah memaparkan sejumlah dokumen yang tersimpan di berbagai museum di Eropa sebagai bukti bahwa Alam Peudeung merupakan bendera perang resmi Kesultanan Aceh.

Hermansyah menjelaskan bahwa penambahan simbol bulan dan bintang baru terjadi ketika Aceh menjalin hubungan dengan Turki Utsmani, sedangkan garis hitam-putih baru muncul setelah Aceh bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Secara historis, tidak ada satu pun bendera Kesultanan Aceh yang memuat garis hitam-putih sebelum masa integrasi,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Tuanku Warul Walidin yang merujuk pada manuskrip 21 Wasiat Sultan Aceh. Menurutnya, Alam Peudeung telah menjadi simbol pemersatu kerajaan-kerajaan di Aceh sejak masa Sultan Ali Mughayat Syah dan mengandung nilai-nilai kepemimpinan, integritas, serta kemajuan peradaban.

“Alam Peudeung adalah simbol pemersatu. Selama 500 tahun ia menyatukan Samudera Pasai, Perlak, Pidie hingga wilayah barat selatan di bawah satu panji syariat Islam,” katanya.

Diskusi tersebut menghasilkan tiga rekomendasi, yakni mendorong revisi terbatas terhadap Undang-Undang Pemerintahan Aceh terkait pengaturan bendera daerah, menjadikan Alam Peudeung sebagai alternatif identitas resmi Aceh yang dinilai lebih inklusif dan tidak berasosiasi dengan kelompok politik tertentu, serta memperkuat pendidikan sejarah melalui lembaga pendidikan dan forum-forum publik.

Menutup kegiatan, Dr. Muhammad Talal berharap diskusi akademik semacam ini dapat menjadi kontribusi perguruan tinggi dalam melahirkan pemimpin Aceh yang memiliki pemahaman sejarah dan identitas daerah yang kuat.

“Kualitas pemimpin masa depan ditentukan oleh seberapa dalam ia memahami akar sejarahnya. Dari sinilah Aceh melangkah maju tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.[]

Tags: AcehBendera Acehdiskusi publikTrida Advokasi dan RisetUIN ar-raniry
ShareTweetSendShare

Related Posts

Brigjen Pol Ruddi Setiawan Ditunjuk sebagai Kapolda Aceh, Berikut Profil dan Rekam Jejak
Daerah

Brigjen Pol Ruddi Setiawan Ditunjuk sebagai Kapolda Aceh, Berikut Profil dan Rekam Jejak

June 26, 2026
ISNU Aceh Bahas Disabilitas dan Pembangunan Bersama Aktivis Agus Hasan Hidayat
Daerah

ISNU Aceh Bahas Disabilitas dan Pembangunan Bersama Aktivis Agus Hasan Hidayat

June 26, 2026
Harga TBS Sawit di Bawah Standar, Bupati Aceh Barat Panggil Seluruh Perusahaan PKS
Daerah

Harga TBS Sawit di Bawah Standar, Bupati Aceh Barat Panggil Seluruh Perusahaan PKS

June 26, 2026
Surati Presiden Prabowo, Mualem: Migas Andaman untuk Hilirisasi di KEK Arun Lhokseumawe
Daerah

Surati Presiden Prabowo, Mualem: Migas Andaman untuk Hilirisasi di KEK Arun Lhokseumawe

June 25, 2026
Buntut Demo Tambang Beutong Ateuh: Sekdes Dipecat, Tuding Bupati Nagan Raya Pura-Pura Tuli dan Buta
Daerah

Buntut Demo Tambang Beutong Ateuh: Sekdes Dipecat, Tuding Bupati Nagan Raya Pura-Pura Tuli dan Buta

June 23, 2026
Soal Blok Andaman, Kapolda Pastikan Investasi di Aceh Aman dan Nyaman
Daerah

Soal Blok Andaman, Kapolda Pastikan Investasi di Aceh Aman dan Nyaman

June 23, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Belajar dari Raditya Dika: Kiat Sukses Jadi Influencer, dari Blogger ke Ikon Digital

Belajar dari Raditya Dika: Kiat Sukses Jadi Influencer, dari Blogger ke Ikon Digital

September 6, 2025
Mualem Jajaki Kerja Sama Pengembangan Peternakan dan Pertanian dengan Australi

Mualem Jajaki Kerja Sama Pengembangan Peternakan dan Pertanian dengan Australi

October 27, 2025
Bupati Aceh Besar Lantik Sejumlah Kadis dan Pejabat Administrator, Tekankan Amanah Jabatan dan Peningkatan Kinerja

Bupati Aceh Besar Lantik Sejumlah Kadis dan Pejabat Administrator, Tekankan Amanah Jabatan dan Peningkatan Kinerja

June 3, 2026

Popular Stories

  • Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!