Banda Aceh — Pemerhati politik dan pemerintahan, Risman A. Rachman, mengajak masyarakat Aceh untuk tidak memperpanjang polemik terkait video Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang sempat viral. Menurutnya, persoalan itu sudah selesai setelah Pemerintah Aceh dan Kementerian Pertanian sama-sama memberikan penjelasan resmi.
“Kalau kedua belah pihak sudah menjelaskan duduk perkaranya, semestinya ruang curiga ditutup. Yang perlu kita lebarkan justru ruang kerjasama yang lebih agresif, apalagi Pak Amran itu orang Bugis. Jadi jangan dimusuhi, tapi diajak lebih agresif agar beliau mendapat kredit poin berlebih dari Aceh, sebagaimana keturunan Bugis di masa lalu,” ujar Risman, Minggu (9/8/2026).
Sebagaimana diketahui, sejarah panjang hubungan Aceh–Bugis kerap menghadirkan persatuan. Dari Putroe Sani di masa Kesultanan hingga Jusuf Kalla dan Hamid Awwaluddin yang memediasi lahirnya MoU Helsinki, peran Bugis selalu menjadi energi pemersatu, kata Risman.
Ia mengingatkan, kerjasama agresif ini semakin penting mengingat daya rusak bencana terhadap sektor pertanian dan perkebunan di Aceh. Data Satgas PRR menunjukkan, lebih dari 57 ribu hektare sawah di Aceh rusak akibat bencana, dengan rincian 27.483 ha rusak ringan, 13.405 ha rusak sedang, dan 16.283 ha rusak berat. Dari target pemulihan 31.464 ha, baru sekitar 7.357 ha (23,38%) yang selesai konstruksi. “Kita tidak bisa lagi bekerja setengah hati. Bencana alam berulang kali merusak lahan dan produksi. Karena itu, spirit persaudaraan Aceh–Bugis harus kita hidupkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan membangun kembali sektor pertanian,” tegasnya.
Menjelang peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada 15 Agustus mendatang, Risman mengajak publik menjadikan momentum ini sebagai ruang refleksi bersama untuk merawat ikatan persaudaraan lintas generasi.
“Spirit inilah yang perlu kita hidupkan kembali: kita kawan, bukan musuh. Kita pererat persahabatan, kita perkuat perdamaian, dan kita jelang kemajuan bersama melalui jalan membenahi sektor pertanian dan perkebunan,” ujarnya.
Ia menutup dengan harapan, jika dulu Jusuf Kalla berperan mengakhiri konflik panjang, maka kini Menteri Amran Sulaiman dapat memajukan pertanian dan perkebunan Aceh.
Sebelumnya, Jabal Sab melalui beranda Facebook-nya menulis tentang akar sejarah panjang hubungan Aceh–Bugis. Ia menyebut Daeng Mansyur atau Teungku Chik Di Reubee, tokoh Bugis, pernah menjadi bagian keluarga kerajaan Aceh. Putrinya, Putroe Sani, menikah dengan Sultan Iskandar Muda dan melahirkan Meurah Pupok serta Sulthanah Safiyatuddin. Bahkan, beberapa generasi setelahnya, keluarga berdarah Bugis dari era Maharajalela turut didapuk menjadi Sultan Aceh. Jabal menulis, “begitulah sekelumit hubungan Aceh–Bugis. Mereka tak dianggap orang luar, bahkan didapuk menjadi Sultan.”[]










Discussion about this post