Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Lesunya Daya Beli Sektor Ritel Bangunan di Banda Aceh, Toko Bangunan Terbeban Kenaikan Harga Material

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
October 22, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Lesunya Daya Beli Sektor Ritel Bangunan di Banda Aceh, Toko Bangunan Terbeban Kenaikan Harga Material

BANDA ACEH — Pergerakan usaha ritel bahan bangunan di toko bangunan di Banda Aceh saat ini tengah berada dalam tekanan berat. Gelombang penurunan daya beli masyarakat yang dikombinasikan dengan kenaikan harga bahan material bangunan dan keterlambatan pencairan dana proyek infrastruktur membuat aktivitas transaksi di tingkat toko bangunan merosot signifikan jika dibandingkan dengan kondisi dua tahun lalu.

Pengusaha toko bangunan di Banda Aceh, Safrizal, mengungkapkan bahwa dinamika pasar sebenarnya sempat mencatatkan kinerja yang sangat stabil sepanjang tahun 2024.

Kala itu, tingkat permintaan konsumen dan pasokan barang dari distributor berada dalam keseimbangan yang ideal. Namun, memasuki tahun 2025, sinyal lesunya pasar mulai terlihat seiring menyusutnya pasokan distributor dan menurunnya kemampuan belanja konsumen. Kondisi tersebut berlanjut hingga tahun 2026, di mana angka penjualan di tingkat toko ritel bangunan diperkirakan telah anjlok mencapai 20 hingga 30 persen.

“2024 stabilnya banyak keluar, banyak masuk barang. 2025 suplai berkurang, daya beli juga mulai menurun. 2026 makin parah lagi. Turunnya sekitar seperempat, 20 sampai 30 persenlah,” kata Safrizal.

Rentetan Gangguan Rantai Pasok dan Lonjakan Harga

Anjloknya transaksi di tingkat eceran tidak lepas dari serangkaian faktor eksternal yang memicu lonjakan harga material utama.

Gejolak geopolitik global di kawasan Selat Hormuz berdampak langsung pada kenaikan harga bahan-bahan kimia industri sebagai bahan baku dasar material.

Tekanan tersebut kian diperparah oleh musibah cuaca ekstrem dan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Aceh, sehingga melumpuhkan jalur distribusi darat.

Kemacetan parah pada infrastruktur transportasi, seperti yang terjadi di jembatan penghubung lintas Medan–Aceh, membuat arus pengiriman barang terhambat dalam waktu yang lama.

Kondisi kelangkaan pasokan ini kemudian diduga dimanfaatkan oleh oknum penimbun barang untuk memainkan harga di pasaran. Dampaknya, harga komoditas vital seperti semen sempat melonjak tajam dari harga normal sekitar Rp60.000 menjadi Rp90.000 hingga Rp100.000 per sak, sebelum akhirnya berangsur turun.

Sementara itu, komoditas besi beton terus mengalami kenaikan dan pasokan material pasir sangat bergantung pada kondisi cuaca serta debit air di lokasi tambang galian pasir.

Efek Domino Macetnya Pembayaran Proyek

Tantangan bagi pelaku usaha toko bangunan ritel makin kompleks akibat terhambatnya arus kas pencairan proyek, baik proyek infrastruktur pemerintah maupun swasta. Banyak pekerjaan konstruksi di lapangan yang telah mencapai progres 50 hingga 60 persen, namun terkendala dalam pencairan termin pembayaran.

Safrizal menjelaskan bahwa kondisi ini menciptakan efek domino yang merugikan rantai usaha konstruksi lokal di daerah.

“Pemerintah enggak mutarin uang, proyek orang udah jalan 50-60 persen barang udah ambil, macet pembayaran. Distributor macet, kita macet juga. Kalau toko yang bermitra gitu, macet pembayaran. Toko harus bayar ke distributor, macet juga,” tutur Safrizal.

Di sisi lain, keberadaan toko bangunan skala kecil atau UMKM semakin terimpit oleh pola pengadaan barang dari pengembang properti (developer) skala besar.

Menurut Safrizal, para pengembang kini lebih memilih memotong rantai distribusi dengan membeli material secara langsung dan memborong dari distributor besar di kota-kota pusat seperti Medan. Pola ini praktis menutup peluang toko bangunan eceran lokal untuk mendapatkan porsi dari proyek-proyek pembangunan hunian.

Perilaku Konsumen dan Prospek Pasar

Menghadapi tingginya harga material dan ketidakpastian kondisi ekonomi hingga penghujung tahun, perilaku konsumen ritel turut mengalami pergeseran. Masyarakat dan pemilik hunian secara umum memilih untuk memegang uang tunai (safety cash) guna mengantisipasi kebutuhan pokok yang lebih mendesak.

“Orang ini safety uang untuk bertahan hidup, bukan untuk uang bulan 12 ini, tapi untuk 2027. Jadi orang tahan uang, tahan belanja,” tambah Safrizal.

Akibatnya, rencana renovasi hunian ringan maupun pembangunan rumah mandiri sebagian besar ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Tanpa adanya intervensi stabilisasi harga material dan kelancaran serapan anggaran proyek di sektor konstruksi, para pelaku usaha memprediksi pasar bahan bangunan masih akan berada dalam fase stagnasi hingga tahun depan.[]

Tags: Acehbahan bangunanBanda AcehEKonomiKonstruksi
ShareTweetSendShare

Related Posts

Komoditas Kopi Aceh: Masalah Produktivitas, Turunnya Nilai Ekspor, dan Tantangan Kesejahteraan Petani
Ekonomi

Komoditas Kopi Aceh: Masalah Produktivitas, Turunnya Nilai Ekspor, dan Tantangan Kesejahteraan Petani

October 22, 2026
PT PEMA Fokus Optimalkan Hasil Diversifikasi Bisnis di 2027
Daerah

PT PEMA Fokus Optimalkan Hasil Diversifikasi Bisnis di 2027

October 20, 2026
Pembukaan MTQ ke-35 Aceh Besar Tanggal 24 Oktober 2026, Diikuti 663 Peserta
Daerah

Pembukaan MTQ ke-35 Aceh Besar Tanggal 24 Oktober 2026, Diikuti 663 Peserta

October 20, 2026
Lukman Age dan Muhammad Riza Nurdin Resmi Jabat Direksi PT PEMA
Daerah

Lukman Age dan Muhammad Riza Nurdin Resmi Jabat Direksi PT PEMA

October 20, 2026
Wagub Dek Fadh dan Forkopimda Sambut Pangdam IM Brigjen TNI Mahesa Fitriadi, Putra Aceh yang Kembali Mengabdi di Tanah Kelahiran
Daerah

Wagub Dek Fadh dan Forkopimda Sambut Pangdam IM Brigjen TNI Mahesa Fitriadi, Putra Aceh yang Kembali Mengabdi di Tanah Kelahiran

October 18, 2026
Realisasi Anggaran Tambahan TKD Aceh 2026 Capai Rp 621,96 Miliar, Publik Dapat Pantau Langsung Lewat Portal P2K
Daerah

Realisasi Anggaran Tambahan TKD Aceh 2026 Capai Rp 621,96 Miliar, Publik Dapat Pantau Langsung Lewat Portal P2K

October 18, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Sekda Aceh Buka Bimtek Penilaian Maladministrasi Bersama Ombudsman, Dorong Penguatan Kualitas Pelayanan Publik

Sekda Aceh Buka Bimtek Penilaian Maladministrasi Bersama Ombudsman, Dorong Penguatan Kualitas Pelayanan Publik

July 29, 2026
Memulihkan Infrastruktur Sumber Daya Air Aceh Pascabencana Hidrometeorologi

Memulihkan Infrastruktur Sumber Daya Air Aceh Pascabencana Hidrometeorologi

April 30, 2026
Pemko Banda Aceh Anggarkan Rp679 Juta untuk Konten Instagram-TikTok

Pemko Banda Aceh Anggarkan Rp679 Juta untuk Konten Instagram-TikTok

September 10, 2025
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!