Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Prolegomena

Hamka, Hayati dan Tonjolan Buah Dada: Kolonialisme dan Budaya yang Porak-Poranda

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
September 13, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Hamka, Hayati dan Tonjolan Buah Dada: Kolonialisme dan Budaya yang Porak-Poranda

Waktu berlalu dan sejarah telah menyembuhkan dirinya. Di masa abad ke-21, kejenuhan akan gaya hidup modern dan sekuler telah mendorong masyarakat Muslim hampir di seluruh belahan dunia kembali memandang dan berjalan menuju ke arah agamanya, Islam.

Oleh: Jabal Ali Husin Sab

TINJAUAN.ID | Sejak masa roman legendaris Hamka yang mengambil setting modernisasi masa penjajahan Belanda jelang merdeka, dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, sekularisme dan gaya kehidupan Barat telah merasuk dalam relung batin alam Melayu-Nusantara, sebagaimana digambarkan di dalam novel tersebut.

Gadis sepolos Hayati diperkenalkan gaya berpakaian modis kebarat-baratan oleh Halimah, teman sekolahnya di Padang Panjang. Hayati dipaksa berpakaian dengan kebaya membentuk badan dan menampakkan setengah buah dadanya yang tampak menonjol keluar.

Hamka sendiri yang mendeskripsikan soal “tonjolan buah dada” dalam novelnya. Bukan ia hendak merangsang pembaca–toh ia seorang ulama–tapi ia hendak melukiskan realita yang sebegitu dahsyatnya di era itu.

Tak ada luka yang lebih pedih dari pengaruh kolonialisme Belanda. Bukan soal petani yang diperbudak, atau hasil alam yang dirampas. Tapi soal bagaimana alam pikir masyarakat Melayu-Nusantara dan cara pandang Islam berbalutkan adat dan resam yang telah menyatu kuat, ditantang dan dilawan.

Penentangan dan perlawanan itu muncul bukan oleh noni-noni Belanda, tapi oleh anak bangsa sendiri. “Hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut”, tertanam kuat dalam falsafah orang Aceh. “Adat basandikan syarak, syarak basandikan kitabullah,” semboyan urang Minang yang menjadi bukti Islam mengakar kuat dalam masyarakat Minangkabau. Kolonialisme menerabas itu semua, porak-poranda.

Atas kondisi sosial-budaya itu pula (di balik segala kontroversinya) mungkin yang mendasari bangkitnya fanatisme Islam politik bernuansa pan-Islamisme yang di Aceh digerakkan oleh Abu Daud Beureueh, yang juga turut menggerakkan kakek saya adik-beradik; Hasan Sab, Husen Sab dan Sab Cut, untuk berada di front terdepan atas pegerakan politik Islam yang mungkin hari ini kita lihat sebagai suatu gerakan yang mungkin salah kaprah, fanatis dan berdarah-darah.

Meski saya tak setuju mengenai ekses dampak konflik sosial yang merambat entah kemana-kemana, karena pembunuhan adalah tetap larangan paling besar dalam agama, namun ada kondisi sejarah yang tak bisa terelak. Ketika alam batin anak-anak muda saat itu memberontak menghadapi kehinaan keji atas Islam dan tanah airnya yang berasal dari kolonialisme dan rekayasa sosial-budaya paling canggih dalam sejarah militer dunia kala itu, hasil buah pikir antropolog yang diaplikasikan dengan begitu baik sebagai taktik penaklukan militer oleh Snouck Hurgronje. Jadilah kita semua–baik yang membunuh maupun terbunuh–sebagai korban sejarah yang berpunca dari penjajahan yang hina.

***

Waktu berlalu dan sejarah telah menyembuhkan dirinya. Di masa abad ke-21, kejenuhan akan gaya hidup modern dan sekuler telah mendorong masyarakat Muslim hampir di seluruh belahan dunia kembali memandang dan berjalan menuju ke arah agamanya, Islam.

Antropolog kenamaan Belanda Martin Van Bruinessen menamakan fenomena ini dengan istilah “conservative turn“. Dalam kacamata antropologi yang eurosentric (Eropa sentris), biasnya membuat mereka melihat gejala kembali ke agama ini, di negara-negara Muslim, sebagai sesuatu yang cenderung buruk, penguatan konservatisme, dan bahkan dianggap sebagai sifat yang kontraproduktif terhadap kebebasan, nilai-nilai moderat, dan kemajuan.

Meski juga tak semua dampak dari kembalinya masyarakat Muslim modern kepada agama adalah mutlak sesuatu yang baik–misalnya ketika responsnya adalah ekstrimisme dalam beragama, fanatisme terhadap ajaran agama, sikap antitoleransi, dan penyimpangan lainnya–namun sisi lain yang kita lihat dalam fenomena sosial keagamaan ini adalah bahwa masyarakat Muslim merasa tidak memiliki identitas yang otentik. Merasa tidak sepadu dan sepadan dengan identitas dan gaya hidup Barat yang disadari bukan karakter orisinil dari diri mereka sendiri.

Akhirnya masyarakat Muslim dunia mulai sadar akan identitasnya, jati dirinya yang paling asali. Sebagai Muslim, mereka kembali mempelajari Islam dan tergerak untuk hidup sebagaimana petunjuk ajaran Islam. Motif terbesar adalah karena faktor kesadaran identitas dan upaya untuk benar-benar menjadi diri sendiri.

Dan sebagaimana pada generasi sebelumnya, di tiap-tiap pergolakan pemikiran di fase-fase zaman, pertentangan antara generasi yang dulu dengan yang lainnya akan terjadi, sebagaimana sebelumnya.

Jika dulu yang tua, kolot, konservatif ditentang oleh yang muda, moderat dan progresif. Sementara di fase yang disebut “conservative turn” justru memposisikan yang muda sebagai yang “konservatif”, yang ingin kembali ke akar, ingin kembali ke asal, ingin kembali ke agama.

Jika upaya “kembali” tidak disikapi dan dijalani dengan bijak oleh semua pihak, kemungkinan kesalahpahaman dan keretakan antar generasi yang berpotensi untuk menciptakan gesekan-gesekan, atau polaritas yang terbentuk dalam masyarakat, lewat segala bentuknya, bisa saja tak terhindarkan.

Gerak sebagian Muslim ini perlu disikapi dengan baik, misalnya dengan mengarahkan mereka untuk belajar memahami ajaran agama dengan benar dari sosok yang tepat.

Jangan sampai malah mereka yang dominannya para pemuda terjebak dalam doktrin dan narasi sempalan yang dekat dengan pemahaman ekstrim, dan puncaknya adalah pada ekspresi politik yang menginginkan perubahan tatanan secara instan, terlebih lewat jalur-jalur kekerasan.

Jika tak diarahkan dengan benar, yang ditakutkan adalah kita semua kembali menjadi korban yang malang dari gerak sejarah: upaya pembelaan agama lewat jalur-jalur yang berlawanan sama sekali dari esensi ajaran agama.

ShareTweetSendShare

Related Posts

Dokumen CIA 1984: Saat Jepang Memburu Minyak di Lepas Pantai Aceh
Sejarah

Dokumen CIA 1984: Saat Jepang Memburu Minyak di Lepas Pantai Aceh

September 10, 2026
Politik Islam dan Upaya Mencari Akar Masalah Umat Islam dalam Politik
Kolom

Politik Islam sebagai Sebuah Mazhab dalam Ilmu Politik

September 3, 2026
Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh
Daerah

Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh

August 22, 2026
Kisah Mar’ie Muhammad: Menteri Keuangan Jujur yang Dijuluki “Mr. Clean”
Sejarah

Kisah Mar’ie Muhammad: Menteri Keuangan Jujur yang Dijuluki “Mr. Clean”

August 22, 2026
Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Molod) di Aceh
Sejarah

Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Molod) di Aceh

August 19, 2026
Kericuhan di Hari Damai Aceh, Riak-Riak Ruang Digital yang Semula Terabaikan
Editorial

Kericuhan di Hari Damai Aceh, Riak-Riak Ruang Digital yang Semula Terabaikan

August 17, 2026
Next Post
Wagub Aceh di Forum DPD RI: Perpanjang Otsus, Naikkan Jadi 2,5 Persen untuk Pulihkan Aceh

Wagub Aceh di Forum DPD RI: Perpanjang Otsus, Naikkan Jadi 2,5 Persen untuk Pulihkan Aceh

Discussion about this post

Recommended Stories

Pemerintah Aceh Perkuat Pemulihan Fasilitas Pendidikan di Wilayah Terpencil Pascabencana

Pemerintah Aceh Perkuat Pemulihan Fasilitas Pendidikan di Wilayah Terpencil Pascabencana

January 31, 2026
Lewat Meuseuraya Digital, Aceh Bangun Platform Responsif Tangani Dampak Banjir

Lewat Meuseuraya Digital, Aceh Bangun Platform Responsif Tangani Dampak Banjir

February 15, 2026
Chatib Basri Menilai Ekonomi Indonesia Hari Ini

Chatib Basri Menilai Ekonomi Indonesia Hari Ini

June 14, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!