BANDA ACEH — Masyarakat Aceh akan mendapat kesempatan mengikuti rangkaian Rihlah Dakwah Aceh 2026 bersama ulama dan dai nasional, Al Habib Jindan bin Novel, pimpinan Yayasan Al-Fachriyah, Tangerang. Rihlah Dakwah Aceh 2026 akan berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu, 22–23 September 2026, dengan dua agenda utama di Banda Aceh.
Pada Selasa, 22 September 2026, Habib Jindan dijadwalkan mengisi tausiyah Maulid setelah salat Isya berjamaah di Masjid Babuttaqwa Utama, Jeulingke, Polda Aceh.
Sehari berikutnya, Rabu, 23 September 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Dars Fajr setelah salat Subuh berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Kegiatan tersebut terbuka untuk umum. Kehadiran Habib Jindan di Aceh diharapkan menjadi momentum silaturahmi sekaligus penguatan tradisi keilmuan, majelis taklim, dan dakwah Islam yang berkembang di tengah masyarakat Aceh.
Habib Jindan, Ulama yang Menempuh Pendidikan di Tarim
Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan lahir di Sukabumi, 21 Desember 1977. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Islam Meranti dan Madrasah Jam’iyatul Khair, Tanah Abang, sebelum melanjutkan pendidikan agama di Darul Musthafa, Tarim, Hadramaut, Yaman.
Di Tarim, ia belajar kepada sejumlah ulama, antara lain Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Habib Ali Masyhur bin Hafidz, Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, serta sejumlah ulam lainnya.
Pendidikan di Tarim menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual dan dakwah Habib Jindan. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan mengembangkan aktivitas dakwah serta pendidikan melalui Yayasan Al-Fachriyah di Tangerang.
Saat ini, Habib Jindan tercatat sebagai pimpinan Yayasan Al-Fachriyah, anggota inti Majelis Syura yang dibentuk dan ditunjuk oleh Habib Umar bin Hafidz, penasihat Majelis Silaturahmi Ulama dan Habaib Kota Tangerang, serta anggota senior Majelis Al-Wafa bi Ahdillah.
Kiprah Dakwah di Tingkat Nasional
Kiprah Habib Jindan tidak hanya berlangsung di lingkungan Pesantren Al-Fachriyah. Ia aktif mengisi berbagai majelis keagamaan, pesantren, forum ulama, dan kegiatan keislaman di berbagai daerah Indonesia.
Dalam sejumlah forum nasional, ia juga menyampaikan pandangan mengenai pentingnya dakwah yang santun dan menjaga persaudaraan. Dalam Multaqa Ulama Jakarta pada 2020, misalnya, Habib Jindan menekankan bahwa provokasi, adu domba, dan caci maki bukan bagian dari dakwah Nabi Muhammad SAW.
Ia juga pernah memberikan tausiyah di lingkungan Kementerian Pertahanan RI pada Ramadan 2023. Dalam kesempatan tersebut, Habib Jindan menyampaikan pesan mengenai salat, zikir, kesabaran, pengendalian emosi, serta pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.
Jejaring Dakwah Melampaui Indonesia
Pengalaman Habib Jindan juga memiliki dimensi internasional. Ia pernah menempuh pendidikan di Tarim, Hadramaut, salah satu pusat tradisi keilmuan Islam yang memiliki jaringan ulama dan pelajar dari berbagai negara. Ia juga tercatat terlibat dalam forum ulama internasional di Malaysia.
Pada Muktamar Ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah Sedunia di Putrajaya, Malaysia, Mei 2015, nama Habib Jindan tercantum sebagai salah satu ulama Indonesia yang mengikuti forum tersebut bersama sejumlah ulama dari berbagai negara.
Sebelumnya, pada 2015, Habib Jindan juga menjadi penceramah dalam program keagamaan berskala besar di Malaysia, menunjukkan bahwa aktivitas dakwahnya telah menjangkau komunitas Muslim di luar Indonesia.
Jejaring tersebut turut berkaitan dengan hubungan keilmuan dan dakwahnya dengan Habib Umar bin Hafidz, ulama asal Tarim yang memiliki jaringan dakwah internasional. Habib Jindan adalah salah satu murid Habib Umar dan anggota inti Majelis Syura yang dibentuk olehnya.
Dakwah Berbasis Ilmu dan Akhlak
Salah satu karakter yang menonjol dalam dakwah Habib Jindan adalah penekanannya pada ilmu, sanad, adab, dan akhlak.
Dalam berbagai ceramahnya, ia mengingatkan bahwa dakwah tidak cukup hanya dengan kemampuan berbicara, tetapi harus dibangun di atas ilmu dan keteladanan. Pandangan tersebut sejalan dengan tradisi pendidikan yang ia jalani di Tarim dan kemudian dikembangkan melalui Al-Fachriyah.
Karena itu, Rihlah Dakwah Aceh 2026 tidak sekadar menghadirkan seorang penceramah dari luar daerah. Agenda tersebut juga menjadi ruang perjumpaan antara tradisi keilmuan Islam Aceh dengan jaringan dakwah yang berkembang di tingkat nasional dan internasional.
Kehadiran Habib Jindan di Masjid Babuttaqwa Utama Jeulingke Polda Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkuat silaturahmi, memperdalam ilmu agama, dan mengambil keteladanan dari tradisi dakwah yang mengedepankan ilmu serta akhlak.[]












Discussion about this post