ACEH UTARA — Pengadaan kitab-kitab ilmu untuk dayah di seluruh wilayah Aceh dinilai menjadi salah satu kebutuhan penting dalam upaya memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus melestarikan tradisi keilmuan Islam di seluruh dayah di Aceh. Apalagi berkaca pada kondisi lapangan di dayah-dayah dan mempertimbangkan beban finansial para santri.
Hal tersebut disampaikan Tisri Fachreza Khosyi, SH (Reza Khosyi), Kabid Keagamaan GP Ansor Kabupaten Aceh Utara. Menurutnya, kitab merupakan sarana utama dalam proses pembelajaran di dayah sehingga ketersediaannya perlu mendapat perhatian serius, termasuk dari pemerintah.
“Pengadaan kitab ilmu adalah kebutuhan pokok bagi dayah dan santri. Kitab merupakan sumber ilmu utama dan menjadi pegangan dalam proses belajar-mengajar di dayah,” ujar Tisri.
Ia mengatakan, keterbatasan kitab masih menjadi persoalan di sejumlah dayah, terutama yang berada di wilayah pelosok, termasuk di wilayahnya di Aceh Utara. Tidak semua dayah memiliki koleksi kitab yang lengkap dan memadai untuk menunjang kebutuhan belajar para santri.
Bahkan, kata dia, terdapat kondisi ketika satu atau dua kitab harus digunakan secara bergantian oleh banyak santri. Sebagian kitab lainnya juga sudah dalam kondisi usang, rusak, atau memiliki jumlah salinan yang terbatas.
“Keterbatasan koleksi dan ketersediaan kitab membuat proses belajar menjadi kurang optimal. Santri terkadang harus menyalin isi kitab secara manual agar memiliki pegangan sendiri,” katanya.
Bantuan bagi Santri Kurang Mampu
Tisri juga menyoroti persoalan biaya yang harus ditanggung santri, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Harga sejumlah kitab, terlebih edisi terbaru atau kitab dengan koleksi lengkap, dinilai dapat menjadi beban tambahan bagi keluarga santri.
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan sebagian santri harus menunda membeli kitab, menggunakan salinan lama, atau berbagi kitab dengan sesama santri.
Karena itu, ia mendorong pemerintah agar memberikan dukungan terhadap pengadaan kitab sebagai bagian dari upaya pemerataan akses pendidikan keagamaan.
“Bantuan pengadaan kitab bukan sekadar pemberian barang, tetapi juga bentuk dukungan terhadap pemerataan kesempatan belajar. Santri dari keluarga kurang mampu harus tetap memiliki kesempatan untuk belajar dengan kitab yang memadai,” ujarnya.
Menjaga Warisan Keilmuan Aceh
Selain menunjang kegiatan belajar-mengajar, Tisri menilai pengadaan kitab memiliki dimensi yang lebih luas, yakni menjaga warisan keilmuan Islam yang telah berkembang dan diwariskan melalui tradisi dayah di Aceh.
Menurutnya, keberadaan kitab-kitab klasik maupun kitab yang menjadi rujukan dalam tradisi pendidikan dayah merupakan bagian penting dari kesinambungan keilmuan generasi ke generasi.
“Menjaga kelengkapan kitab berarti ikut menjaga warisan ilmu yang telah diwariskan para ulama dan leluhur kita,” katanya.
Ia juga menilai semakin lengkap referensi yang tersedia di dayah, semakin besar peluang santri untuk memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman keagamaan.
“Dayah merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Aceh. Karena itu, menjaga sarana belajarnya, dalam hal ini ketersediaan kitab, berarti ikut menjaga identitas, tradisi keilmuan, dan masa depan generasi muda di Bumi Aceh.”
Dinas Pendidikan Dayah Aceh selaku instansi pelaksana yang membidangi pendidikan dayah di tiap tahunnya turut mengadakan kegiatan pengadaan kitab sebagai bagian dari mendukung kegiatan pembelajaran di dayah.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, melalui Kepala Bidang Manajemen Sarana dan Prasarana sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Lian Sofyan, menjelaskan bahwa program penyediaan Al-Qur’an dan kitab merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Aceh terhadap keberlangsungan pendidikan dayah.
“Program ini pada prinsipnya merupakan bentuk perhatian Pemerintah Aceh untuk mendukung keberlangsungan pendidikan dayah, khususnya dalam membantu tersedianya bahan pembelajaran yang dibutuhkan para santri,” kata Lian.[]












Discussion about this post