Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Sejarah

“Sejarah Hidup” di Mukim Seulimeum

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
July 26, 2026
Reading Time: 6 mins read
0
“Sejarah Hidup” di Mukim Seulimeum

Oleh: Muhajir Al-Fairusy, Penulis Buku Mukim Lamteuba Bij Seulimeum.

“…DI/TII Aceh tidak memberontak dan ingin merdeka dari Indonesia, kami hanya melakukan “demonstrasi bersenjata,” menuntut hak Aceh sebagaimana janji Soekarno, Pangdam dikembalikan, Polda dikembalikan, Kejaksaan dikembalikan sebagai sebuah provinsi sah, kami tidak ingin dileburkan dalam Sumatera Utara, itu saja.”

TINJAUAN.ID | Demikian salah satu irisan dan petikan dialog bersama Muhammad Yakob saat mulai bercerita sejarah Aceh di awal kemerdekaan Indonesia. Kalimat ini ia kutip dari Hasan Saleh. Keduanya bagian dari DI/TII Aceh.

Kala itu, Muhammad Yakob tergabung dalam Kompi I-Seulimeum pimpinan Muhammad Ali, dari keterangan lain disebutkan jika per-kompi berisi 100-200 personel.

Kompi DI/TII Aceh sendiri menyebar di seluruh Aceh saat pemberontakan ini berlangsung. Tak hanya merasakan dan menyaksikan peristiwa DI/TII, Muhammad Yakob juga pernah menjabat sebagai Mukim Seulimeum selama dua dekade lebih.

Saat menjabat sebagai tokoh puncak adat ini, tak terhitung korban konflik, terutama kombatan yang harus ia jemput jasadnya.

Lebih daripada rentetan dua peristiwa berdarah di Aceh tersebut setelah bergabung dengan Indonesia, ia mengaku masih sempat merasakan suasana perang dengan Belanda dan Jepang-karena ia lahir di tahun 1930.

Deru kereta api dari Kuta Radja yang membawa anak-anak Belanda, lalu berhenti di Seulimeum mengisi air dari toren sebelum melanjutkan perjalanan ke Padang Tiji, semua masih sempat ia saksikan langsung.

Pada tahun 1942, ia juga melihat langsung peristiwa penebasan Kontroler-Tinggelman di rumah dinas-Seulimeum yang dilakukan oleh Pang Leh dan teuku Ubit, mayatnya lalu dibuang di dekat kantor Polsek Seulimeum sekarang.

Peristiwa yang gempar dan cukup heroik, seorang anak muda Aceh berusia belasan tahun terlalu berani menebas Belanda di tangga rumah dinasnya. Kini, usia Muhammad Yakob menjelang 96 tahun, tapi ia masih mampu merekam dengan rinci dan teliti setiap jengkal perjalanan hidup yang dialami.

Sore itu, di tengah gerimis yang membasahi tanah, kami duduk berhadapan dengan seorang pelaku sekaligus saksi sejarah. Di sebelahnya, sebatang tongkat yang terbuat dari kayu, dengan warna yang kian tampak “berminyak” karena terus digenggam terlalu lama bersandar dekat bahunya.

Ia duduk di sebuah kursi sofa lapuk berwarna merah dan berkulit beludru, pakainnya begitu rapi dengan sarungan, layaknya seorang prajurit yang sangat disiplin soal bersih dan tertib. Di kepalanya melingkat peci bulat. Pandangannya jauh ke depan, di bawah rumah Aceh yang sederhana-diapit oleh bukit-bukit Mukim Seulimeum, Chik Kob-sapaan akrabnya bercerita dengan tutur yang cukup teratur, meskipun usianya menjelang se-abad.

Hadir kala itu Asnawi Zainun, seorang praktisi adat Aceh yang juga pernah menjabat sebagai Mukim di Siem, Aceh Besar. Turut serta Cucu Syeh Nurdin atau Teungku di Meukek, seorang pejuang DI/TII yang pernah dikirim oleh Abu Daud Ke Mesir sejak pertengahan tahun 1930-an, lalu pulang dari sana bergabung dengan DI/TII dan wafat di Jeuram, Nagan Raya.

Dalam pertemuan itu, juga hadir Abulis, cucu dari Teungku Chik Tanoh Abee yang juga masih memiliki jaringan kekerabatan dengan Teuku Raden Tanoh Abee. Semua yang hadir, menyimak dengan tekun apa yang diceritakan oleh Chik Kob. Ia benar-benar “sejarah hidup” yang masih bertahan karena kesehatan dan pengalaman panjang.

Dalam banyak catatan sejarah, relasi Aceh dan Jakarta terus kian merenggang sejak 1 Januari 1949. Bukan tanpa sebab, tapi didasari oleh sikap pengingkaran janji Soekarno terhadap Aceh.

Jasa Aceh bagi Indonesia sangat mengakar, sebab itu disebut daerah modal, mulai dari mempertahankan Medan Area, hingga mendistribusikan gaji para pegawai Indonesia pertama sekali. Tapi, “tak ada angin tak ada hujan,” Residen Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Aceh tiba-tiba dibubarkan, dan dilebur dalam Provinsi Sumatera Utara.

Peleburan dan pembubaran ini dilakukan setelah pusat berhasil membentuk Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Utara pada tanggal 13 September 1948 di Tapaktuan.

Sikap sepihak pemerintah pusat ini ternyata menyimpan sebal dan kecewa bagi elite dan rakyat Aceh, Soekarno dituduh mengangkangi janji dan hak pada Aceh. Sejak itu, hubungan Aceh dan Pusat terus mereput.

Dalam bukunya Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal (1995), Sjamaau Gaharu menyebut banyak hal yang berubah setelah Provinsi Aceh dibubarkan; Pelabuhan Ulee Lheu ditutup, semua barang harus melalui Belawan. Pelabuhan Lhok Seumawe dan Langsa mulai sepi, dan pegawai yang berasal dari Aceh banyak dirumahkan.

Akumulasi kekecewaan ini, mendorong meletusnya pemberontakan dan peristiwa Darul Islam (DI) dengan pasukannya Tentara Islam Indonesia (TII) Aceh selama hampir sembilan tahun (1953-1962). Persinggungan Abu Daud dan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo melalui Mustafa Rasyid, belakangan ia diketahui ditangkap saat akan kembali ke Jawa dari Aceh.

Sehari menjelang meletusnya DI/TII di Aceh pada tanggal 20 September 1953, Chik Kob masih sangat muda, ia mengira-ngira usianya kala itu 18 tahun. Muhammad Yakob sendiri adalah lulusan Sekolah Menengah Islam yang didirikan tahun 1950 sebagai semangat pembangunan sumber daya manusia di Aceh pascakemerdekaan, lokasinya masih dalam kawasan Kodam Iskandar Muda sekarang.

Sekolah ini adalah bagian dari PUSA. Ada banyak tokoh Aceh alumnus SMI, seperti Maimun Saleh-seorang pilot asal Aceh, Ismail Sunny, Mustafa Hafaz, Asma-ibunda Azwar Abubakar, bahkan Deliar Noer sendiri disebut oleh Teuku Islah-anak dari Teuku Ubit pernah bersekolah di SMI Aceh. Cerita ini ia dapat dari ibunya langsung-Faridah yang juga alumnus SMI, dan sempat menjadi anggot Dewan di Aceh Besar.

PUSA sendiri adalah organisasi Islam dan pergerakan modernis di Aceh yang berdiri pada 5 Mei 1939. Awalnya, gerakan ini terfokus bagi pengembangan pemikiran dan Pendidikan. Lalu, perlahan bergerak ke politik dengan menggeser peranan Uleebalang yang telah lama menduduki birokrasi pemerintahan.

Aris Arif Mundayat dalam Ulama dan Uleebalang di Aceh; Kontestasi Ideologi Islam (1996) menyebut jika pergerakan PUSA telah menjadikan mereka menjadi elite politik yang militant sekaligus reformis, diataranya lewat Pendidikan dengan wacana moralitas keislaman dalam rangka melawan perpolitikan “sekular” para Uleebalang.

Sebagai catatan, tidak semua ulama PUSA menjadi bagian dari DI/TII. Beberapa dari mereka menolak menjadi bagian dari DI/TII dengan tetap fokus pada pengembangan pendidikan dan agama, seperti Teuku Wahab Kenaloe.

Mengenai wajah pendidikan formal di Aceh, selain SMI, tidak banyak sekolah saat itu di Aceh terang Chik Kob, terutama Kuta Radja, hanya ada empat SR (Sekolah Rakyat); di kawasan Peunitie, Blang Padang, Jambo Tape dan Peunayong.

Chik Kob masih ingat betul wajah dan batas Kuta Radja saat itu, yang kini berubah menjadi Kota Banda Aceh. Menurutnya luas Banda Aceh dan keramaian tidak seperti sekarang. Sekolah Agama sendiri hanya ada dua; al-Khairiyah di dekat Masjid Raya Baiturrahman-sekolah Islam ini diiniiasi oleh Tuanku Raja Keumala setelah bersurat dengan H.N.A. Swart, dan Darussalam Institute yang berlokasi di Merduati.

Muhammad Yakob ingat betul detik-detik peristiwa DI/TII meletus di Aceh. “Abu Daud” panggilan akrab Daud Beureueh baru saja kembali dari kunjungan ke Pantai Barat Aceh, tidak pasti di mana, apakah ia baru pulang dari Meulaboh atau Tapaktuan.

Malam itu suasana tampak tegang dan suasananya terkesan panik terang Chik Kob yang juga kerap disapa Guru Akob oleh masyarakat Seulimeum. Setelah pintu ditutup rapat, pertemuan berlangsung lama dan sangat rahasia.

Chik Kob ingat betul, sembari menutup pintu ruang pertemuan, seseorang berpesan padanya untuk siaga dan berjaga-jaga di luar karena ada rapat penting tegasnya. Saat itu, Chik Kob tidak terlalu paham betul apa yang akan dibahas dalam rapat dadakan tersebut.

Selama ini ia juga hanya berperan sebagai penyampai pesan dan surat menyurat antara Ayah Gani dengan Daud Beureueh dari kawasan Pante Pirak ke Neusu.

Pertemuan itu berlangsung di rumah dinas Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh di Neusu. Kedekatan dan pertemuannya yang sering dengan Abu Daud adalah melalui perantara abangnya Abdul Gani Usman atau yang kerap disapa “Ayah Gani.”

Ayah Gani disebut-sebut sebagai salah seorang paling dekat dengan Abu Daud, ia sekretaris Gubernur Militer, yang kemudian menjadi Ketua Dewan Revolusi DI/TII Aceh.

Ayah Gani sendiri saat peristiwa DI/TII ditangkap di Kemukiman Lamteuba, masyarakat Lamteuba kelahiran tahun 40-50-an di sana sangat familir dengan sosok Ayah Gani yang mereka panggil dengan sebutan “Ayah Gani”-orangnya sangat berintegritas.

Setelah rapat rahasia dengan suasana tegang malam itu, besoknya status Aceh berubah menjadi daerah darurat, Aceh memberontak untuk pertama sekali sejak menjadi bagian dari Indonesia.

Pemberontakan ini berlangsung selama hampir satu dekade. Perang Sembilan tahun itu tak mampu menundukkan Aceh dengan senjata, akhirnya Indonesia memilih jalan damai lewat musyawarah kerukunan rakyat Aceh 17-21 Desember 1962.

Kondisi serupa juga diaminkan oleh Chik Kob, yang membandingkan perang DI/TII di Aceh lebih heroik dibanding konflik setelahnya, di mana Indonesia kewalahan menghadapi pasukan DI/TII di Aceh yang terorganisir dan bekas Tentara Islam Indonesia tersebut. Apalagi, alasan paling utama pemberontakan ini didasari oleh kekecewaan pengingkaran janji Soekarno dan didukung oleh semangat keagamaan.

Meskipun, terlalu mahal harga yang harus dibayar Aceh dari konflik dan peristiwa “demonstrasi bersenjata” ini, nyawa bahkan masa depan Aceh.

Pasca peristiwa DI/TII, Muhammad Yakob ditawarkan beberapa pilihan oleh Kolonel Husein Yusuf, apakah berangkat ke Malasyia, menjadi TNI atau ke Batavia. Menjadi TNI adalah pilihan gratis dan percuma saat itu bagi eks-tentara DI/TII Aceh.

Muhammad Yakob mengaku lelah berperang, dan ia kurang cakap bahasa Inggris. Akhirnya, Muhammad Yakob muda memilih ke Batavia-Jakarta untuk mencari pengalaman di ibukota, di sana ia bertemu banyak tokoh Aceh, diantaranya; Teungku Arsyad anak dari Teungku Chik Muhammad Ali Tanoh Abee yang pernah menjadi salah seorang pejabat tinggi pada awal pembentukan Bank Aceh. Namun, karena keadaan tak pasti, pada tahun 80-an, ia kembali ke Aceh dan menjadi Mukim di Seulimeum.

Muhammad Yakob yang kini berusia 96 tahun, ia mengaku menetap di rumah saja, sudah jarang bepergian karena usianya yang kian sepuh. Tapi, ia masih diberi kesehatan yang cukup baik, lagi mampu mendengar dengan terang, melihat dengan jelas, mengingat setiap peristiwa dengan rekaman yang masih ketat, dan paling penting ia berbicara dengan fasih.

Satu fenomena dan kondisi yang langka dan terbatas jika melihat merosotnya angka harapan hidup manusia di Aceh sejak penyakit diabetes dan stroke menyerang begitu masif. Saat ditanya apa kunci sehat, ia mengaku hanya menjaga pola makan dan pikiran.

Tags: DI/TIIPUSAsejarah Aceh
ShareTweetSendShare

Related Posts

Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi
Daerah

Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi

July 27, 2026
23 Nama Samaran, Satu Buron: Kisah Tan Malaka Jadi Orang Paling Dicari di Asia
Sejarah

23 Nama Samaran, Satu Buron: Kisah Tan Malaka Jadi Orang Paling Dicari di Asia

July 16, 2026
Sejarah Napoleon Bonaparte: Kejeniusan dan Gaya Kepemimpinan di Medan Perang
Militer

Sejarah Napoleon Bonaparte: Kejeniusan dan Gaya Kepemimpinan di Medan Perang

July 12, 2026
Komunitas Baca Bireuen Telusuri Warisan Intelektual Tengku Chiek Awe Geutah, Kaji Manuskrip Berusia Lebih dari Tiga Abad
Daerah

Komunitas Baca Bireuen Telusuri Warisan Intelektual Tengku Chiek Awe Geutah, Kaji Manuskrip Berusia Lebih dari Tiga Abad

July 4, 2026
Memaknai Kehadiran Presiden Prabowo di Beijing
Ekonomi

Sejarah Cina Modern: Dari Revolusi hingga Kebangkitan Ekonomi

June 30, 2026
Sumitro Djojohadikusumo, Arsitek Ekonomi Indonesia Modern
Sejarah

Sumitro Djojohadikusumo, Arsitek Ekonomi Indonesia Modern

June 16, 2026
Next Post
Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi

Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi

Discussion about this post

Recommended Stories

Penambang Indonesia pertaruhkan nyawa di gunung berapi aktif

January 1, 2023
Proses Hukum di KPK, Menko Yusril Tegaskan Pemerintah Kooperatif dan Dukung Penuh Pemberantasan Korupsi di Sektor Imigrasi

Proses Hukum di KPK, Menko Yusril Tegaskan Pemerintah Kooperatif dan Dukung Penuh Pemberantasan Korupsi di Sektor Imigrasi

June 5, 2026
Menteri Ekraf Umumkan Penurunan Tarif Pajak Royalti bagi Penulis

Menteri Ekraf Umumkan Penurunan Tarif Pajak Royalti bagi Penulis

May 27, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!