BANDA ACEH – Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Dalimi, mengecam beredarnya materi publikasi yang menggiring opini seolah-olah ulama kharismatik Aceh, Abu Mudi, memberikan dukungan kepada Nurdiansyah Alasta dalam Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Aceh.
Menurut Dalimi, pencatutan nama ulama tanpa izin merupakan tindakan yang tidak beretika, dan menyesatkan publik.
“Hasil tabayyun kami kepada Abu Mudi sangat jelas. Beliau menegaskan tidak mendukung Nurdiansyah Alasta. Beliau juga menjelaskan tidak ingin dilibatkan dalam urusan internal partai,” kata Dalimi.
Menurut Dalimi, materi publikasi yang menggiring opini seolah-olah Abu Mudi mendukung Nurdiansyah justru telah mempermalukan Nurdiansyah sendiri, terlepas dari siapa pihak yang membuat maupun menyebarkannya.
“Kalau benar ada pihak yang membangun kesan seolah-olah Abu Mudi mendukung Nurdiansyah, justru yang paling dirugikan adalah Nurdiansyah sendiri. Cara-cara seperti ini mempermalukan diri sendiri dan menjatuhkan martabat,” ujar Dalimi.
“Ambisi politik tidak boleh menghalalkan segala cara. Mencatut nama Abu Mudi tanpa izin bukan hanya mempermalukan diri sendiri, tetapi juga mencederai kehormatan ulama. Nama ulama tidak boleh dipakai sebagai alat untuk mencari legitimasi politik,” tegasnya.
Dalimi juga menyampaikan permohonan maaf kepada Abu Mudi atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat tindakan pihak tak bertanggungjawab yang mencatut nama beliau tanpa persetujuan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Abu Mudi. Kami sangat menyesalkan tindakan oknum yang membawa nama ulama ke dalam kontestasi internal partai tanpa izin dan tanpa persetujuan beliau,” ujarnya.
Dalimi mengaku prihatin sekaligus malu atas peristiwa tersebut. Selama hampir 25 tahun menjadi bagian dari Partai Demokrat, ia baru kali ini menyaksikan praktik politik seperti itu.
“Selama hampir 25 tahun saya berada di Partai Demokrat, baru kali ini saya melihat nama seorang ulama dicatut secara terang-terangan untuk kepentingan kontestasi internal partai. Ini memalukan dan sama sekali tidak mencerminkan tradisi politik Partai Demokrat,” katanya.
Ia menegaskan, tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang diwariskan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Partai Demokrat mengajarkan politik yang santun, berintegritas, dan menghormati ulama. Kepercayaan tidak dibangun melalui manipulasi opini atau pencatutan nama tokoh, tetapi melalui pengabdian, rekam jejak, dan integritas. Cara-cara seperti ini tidak memiliki tempat di Partai Demokrat,” tutup Dalimi.[]












Discussion about this post