TINJAUAN.ID | Pergantian kepemimpinan di Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), apabila jadi dilaksanakan, akan menjadi momentum penting bagi Aceh untuk memastikan pengelolaan sumber daya migas berjalan optimal, transparan, dan berdaya saing. Salah satu nama yang layak dipertimbangkan untuk mengisi posisi strategis ini adalah Said Malawi, putra Pidie Jaya dengan rekam jejak panjang di industri migas nasional maupun internasional.
Rekam Jejak Profesional yang Solid
Said Malawi saat ini menjabat sebagai Commissioning & Start-Up Manager di PT JGC Indonesia, posisi strategis yang mengharuskannya mengawal dan memimpin pengelolaan proyek-proyek migas besar di Indonesia. Pada 2023, ia dipercaya sebagai Commissioning and Startup Manager untuk Terminal LNG Sumbawa dan Regasifikasi — sebuah proyek berskala nasional yang menuntut ketelitian teknis dan kepemimpinan manajerial tingkat tinggi.
Jauh sebelum itu, kariernya telah teruji di panggung internasional. Ia pernah menjabat sebagai LNG S&L Supervisor di Qatargas, salah satu perusahaan energi terbesar dunia. Selama di Qatar, Said terlibat dalam proyek besar seperti Commissioning dan Start-up Dermaga LPG Ras Laffan (2006), serta memimpin penyelesaian Shutdown Train-6 LNG Qatargas dengan standar keselamatan tinggi — pencapaian yang membuatnya menerima sejumlah penghargaan dari Qatargas.
Kombinasi pengalaman ini menempatkan Said sebagai sosok langka: profesional Aceh yang memahami seluk-beluk industri LNG dari hulu ke hilir, dari commissioning hingga operasional, di lingkungan kerja global yang sangat kompetitif.
Fondasi Akademik yang Kuat
Kompetensi teknis Said dibangun di atas fondasi pendidikan yang jelas: Teknik Mesin di Universitas Negeri Medan (Univa) dan Politeknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), dilanjutkan dengan gelar Magister Manajemen predikat Cumlaude dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala. Perpaduan latar belakang teknik dan manajemen ini relevan langsung dengan tuntutan jabatan Kepala BPMA, yang membutuhkan pemahaman teknis migas sekaligus kapasitas manajerial dan pengambilan kebijakan.
Kepemimpinan Organisasi dan Jejaring Internasional
Said bukan sekadar profesional teknis. Ia aktif memimpin organisasi, tercatat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar (PERMIQA) dan Ketua Umum Badan Musyawarah Masyarakat Pidie Jaya (BAMUS) di Jakarta. Pengalaman ini mengasah kemampuannya membangun konsensus, mengelola kepentingan beragam pihak, dan menjaga hubungan lintas komunitas — kemampuan yang krusial bagi seorang pemimpin lembaga publik seperti BPMA.
Jejaringnya juga menembus level diplomatik dan bisnis internasional. Ia menjadi panitia Forum Bisnis Indonesia di Qatar yang disponsori KBRI, memfasilitasi kunjungan pemerintah Aceh ke Qatar, serta menjadi delegasi Kongres Diaspora Indonesia di Los Angeles pada 2012. Konektivitas internasional semacam ini berpotensi membuka peluang investasi dan kerja sama migas bagi Aceh.
Komitmen Nyata terhadap Aceh
Yang membedakan Said dari sekadar profesional migas berprestasi adalah dedikasinya yang konsisten terhadap tanah kelahirannya. Ia pernah berdiskusi strategis dengan Wali Nanggroe Aceh membahas upaya menarik investasi ke Aceh, tampil sebagai pembicara di Politeknik Lhokseumawe dan forum diskusi publik “Menakar Potensi Besar Energi Aceh” yang digagas Dewan Mahasiswa Aceh, serta mewakili Kesultanan Aceh dalam Festival Warisan Budaya Nusantara di Borobudur.
Rangkaian aktivitas ini menunjukkan bahwa keterlibatan Said terhadap Aceh bukan sekadar simbolis, melainkan berkelanjutan — mencakup dimensi ekonomi, pendidikan, hingga budaya.
Mengapa Said Malawi Layak Memimpin BPMA
Beberapa alasan menjadikan Said Malawi kandidat yang layak dipertimbangkan untuk memimpin BPMA:
Kompetensi teknis teruji — pengalaman langsung dalam commissioning, start-up, dan operasional proyek LNG berskala besar, baik di dalam maupun luar negeri.
Kapasitas manajerial terverifikasi — gelar Magister Manajemen cumlaude dan posisi manajerial aktif di perusahaan migas nasional.
Jejaring internasional — relasi kuat dengan komunitas energi global, khususnya di Qatar, yang dapat dimanfaatkan untuk kerja sama dan investasi.
Kepemimpinan organisasi teruji — pengalaman memimpin organisasi masyarakat di dalam dan luar negeri.
Kedekatan emosional dan komitmen terhadap Aceh — keterlibatan aktif dan berkelanjutan dalam isu pembangunan, investasi, dan budaya Aceh.
Dengan kombinasi keahlian teknis, kapasitas manajerial, jejaring internasional, dan dedikasi terhadap Aceh, Said Malawi merupakan sosok yang pantas dipertimbangkan sebagai calon Kepala BPMA — figur yang diharapkan mampu membawa pengelolaan migas Aceh ke standar profesionalisme internasional sekaligus tetap berpijak pada kepentingan masyarakat Aceh.[]










Discussion about this post