Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Wali Nanggroe Soroti Mangkraknya RS Regional Aceh Barat, Siap Temui Presiden Perjuangkan Kelanjutan Pembangunan

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
May 17, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Wali Nanggroe Soroti Mangkraknya RS Regional Aceh Barat, Siap Temui Presiden Perjuangkan Kelanjutan Pembangunan

Meulaboh — Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar, menyatakan keprihatinan sekaligus kebanggaannya terhadap kondisi pembangunan Rumah Sakit (RS) Regional Aceh Barat yang hingga kini belum rampung, meski progres fisik disebut telah mencapai sekitar 50 persen.

Kabag Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe Zulfikar Idris menyebutkan, pernyataan itu disampaikan Wali Nanggroe saat melakukan kunjungan kerja ke RS Regional Aceh Barat bersama Bupati Aceh Barat, Tarmizi, Minggu 17 Mei 2026.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari perhatian serius Wali Nanggroe terhadap pembangunan sektor kesehatan di wilayah Barat Selatan (Barsela) Aceh.

Wali Nanggroe mengaku terkejut melihat perkembangan rumah sakit yang menurutnya memiliki desain dan kualitas konstruksi berstandar tinggi.

“Saya melihat gedung ini luar biasa, cukup bagus. Konstruksinya bergaya Eropa dan menurut saya tidak kalah dengan yang ada di Eropa maupun Singapura,” kata Wali Nanggroe.

Namun di sisi lain, ia mempertanyakan alasan pembangunan rumah sakit tersebut terhenti, padahal anggaran yang telah dikucurkan dinilai sangat besar.

Menurut Wali Nanggroe, kondisi mangkraknya pembangunan berpotensi menyebabkan kerusakan bangunan apabila tidak segera dilanjutkan. Karena itu, ia berkomitmen memperjuangkan penyelesaian proyek tersebut melalui dukungan pemerintah pusat.

Wali Nanggroe menegaskan akan mengupayakan pertemuan langsung dengan Presiden bersama Bupati Aceh Barat guna meminta perhatian dan dukungan terhadap penyelesaian RS Regional tersebut.

Ia juga meminta agar disusun dokumentasi lengkap berupa video dan kronologi pembangunan rumah sakit sejak awal hingga kondisi terkini untuk disampaikan kepada Presiden sebagai bahan pertimbangan.

Wali Nanggroe mengungkapkan, gagasan pembangunan RS Regional Aceh Barat telah dirintis sejak masa pemerintahan Dr. Zaini Abdullah. Bahkan saat itu, pihak dari Jerman disebut bersedia memberikan dukungan, termasuk pembiayaan serta pelatihan tenaga medis dengan standar pelayanan Eropa.

Rumah sakit tersebut dirancang agar mampu menghadirkan layanan kesehatan modern bagi masyarakat Aceh, khususnya wilayah Barsela, sehingga ketergantungan terhadap RSUD dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh dapat berkurang.

“Yang terpenting sekarang adalah melanjutkan pembangunan demi masyarakat Aceh agar memperoleh layanan kesehatan yang layak sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Aceh Barat Tarmizi menyebut kunjungan Wali Nanggroe tidak hanya membahas pembangunan RS Regional, tetapi juga penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan UMKM, hingga pembangunan daerah.

Terkait kelanjutan pembangunan rumah sakit, Tarmizi mengatakan pendanaan melalui APBA saat ini sedang dibahas di tingkat Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA). Ia berharap tahun ini tersedia alokasi minimal Rp50 miliar agar proyek tidak kembali kosong anggaran.

Selain itu, pihaknya juga mengusulkan skema multiyears dengan dukungan minimal Rp150 miliar saat dana Otonomi Khusus kembali tersedia.

Menurut Tarmizi, apabila dukungan anggaran terpenuhi, maka RS Regional Aceh Barat ditargetkan dapat mulai difungsikan pada akhir 2028.

“Jika tersedia tambahan sekitar Rp200 miliar lagi, fasilitas IGD, rawat inap hingga poli pelayanan dapat diselesaikan sepenuhnya,” katanya.

Keberadaan rumah sakit tersebut dinilai strategis karena akan melayani masyarakat di tiga kabupaten dalam kawasan Barat Selatan Aceh.

Dalam kesempatan itu, Bupati Tarmizi juga menyoroti pentingnya pembenahan data desil masyarakat sebagai dasar penyaluran layanan dan program kesehatan.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat disebut telah membuka pelatihan operator, membentuk posko pengaduan di tingkat gampong, serta melakukan pendampingan untuk memperbaiki validitas data.

Hingga batas waktu yang ditentukan, capaian perbaikan data mencapai sekitar 60 persen dan akan dilanjutkan hingga triwulan ketiga. Pemerintah menargetkan penyempurnaan data selesai pada Agustus–September sehingga data final dapat tersedia pada Oktober.

Menurut Tarmizi, validasi data sangat penting agar masyarakat tidak lagi mengalami kendala administratif saat mengakses layanan kesehatan.[]

Tags: Aceh Baratrumah sakit regionalWali Nanggroe Malik Mahmud
ShareTweetSendShare

Related Posts

Rapat Forkompimda Aceh Bahas Dinamika Kerusuhan pada Hari Damai Aceh
Daerah

Rapat Forkompimda Aceh Bahas Dinamika Kerusuhan pada Hari Damai Aceh

August 16, 2026
Dari Lamteuba ke Thailand, Meusifeut Mahasiswa UNIDA-Lamteuba Pukau Warga Kampung Aceh Malaysia
Daerah

Dari Lamteuba ke Thailand, Meusifeut Mahasiswa UNIDA-Lamteuba Pukau Warga Kampung Aceh Malaysia

August 16, 2026
Perdamaian Aceh Harus Jadi Energi Positif yang Menggerakkan Pembangunan
Daerah

Perdamaian Aceh Harus Jadi Energi Positif yang Menggerakkan Pembangunan

August 16, 2026
Generasi Muda Diperkenalkan dengan Naskah Aceh Kuno Koleksi Rizki Wahyudi
Daerah

Generasi Muda Diperkenalkan dengan Naskah Aceh Kuno Koleksi Rizki Wahyudi

August 16, 2026
81 Tahun Republik: Dari Kedaulatan Politik Menuju Kedaulatan Ekonomi
Daerah

81 Tahun Republik: Dari Kedaulatan Politik Menuju Kedaulatan Ekonomi

August 16, 2026
DPC Demokrat Aceh Besar Gelar Gerakan Langit Biru, Bersihkan Meunasah dan Tanam Pohon
Daerah

DPC Demokrat Aceh Besar Gelar Gerakan Langit Biru, Bersihkan Meunasah dan Tanam Pohon

August 15, 2026
Next Post
Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia, Aktor Tunggal atau Instrumen Politik? 

Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia, Aktor Tunggal atau Instrumen Politik? 

Pernyataan Rampok Dana JKA, Jubir Pemerintah Aceh: Terlalu Semena-mena

Gubernur Mualem Cabut Pergub JKA, Rakyat Aceh Berobat Seperti Biasa

Discussion about this post

Recommended Stories

Diskusi Dua Dekade Damai Aceh: Revisi UUPA untuk Kesejahteraan dan Keadilan

Diskusi Dua Dekade Damai Aceh: Revisi UUPA untuk Kesejahteraan dan Keadilan

August 12, 2025
Bahrul Jamil Dilantik Jadi Sekda Aceh Besar, PC IPNU Aceh Besar Ucapkan Selamat

Bahrul Jamil Dilantik Jadi Sekda Aceh Besar, PC IPNU Aceh Besar Ucapkan Selamat

July 14, 2025
KIA Putuskan Data HGU Merupakan Informasi Terbuka, Perintah BPN Aceh Batalkan Lembar Uji Konsekuensi

KIA Putuskan Data HGU Merupakan Informasi Terbuka, Perintah BPN Aceh Batalkan Lembar Uji Konsekuensi

March 4, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!