Banda Aceh – Di luar lingkaran birokrasi, namanya mungkin tidak terlalu sering muncul. Tapi bagi orang-orang yang sudah lama berkecimpung di pemerintahan daerah Aceh, Asnawi, S.T., M.S.M., bukan nama asing.
Pria ini kini menjabat Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh setelah resmi dilantik oleh Gubernur Muzakir Manaf pada Jumat, 27 Februari 2026, di Anjong Mon Mata, Pendopo Gubernur Aceh. Ia masuk dalam daftar 25 pejabat eselon II yang dilantik malam itu, menerima SK Nomor Peg.821.22/34/2026. Dengan SK itu, ia resmi menggantikan Taufik, S.T., M.Si., yang pindah ke Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Aceh.
Perjalanan Asnawi di birokrasi dimulai dari bawah. Ia tercatat masuk sebagai CPNS pada 2006 — berarti sudah hampir dua dekade ia menjalani rutinitas pemerintahan daerah. Sebagian besar masa kerjanya dihabiskan di lingkungan pemerintahan Aceh Utara, wilayah yang punya karakteristik dan dinamika tersendiri, termasuk dalam hal pengelolaan sumber daya alam.
Dari sisi pendidikan, Asnawi menempuh S1 Teknik Sipil antara tahun 1994 hingga 1999. Hampir 15 tahun kemudian, ia kembali ke bangku kuliah dan menyelesaikan S2 Magister Sains Manajemen pada 2016. Kombinasi latar belakang teknis dan manajerial inilah yang dianggap menjadi modalnya dalam memimpin sektor ESDM yang memang butuh dua pendekatan itu sekaligus.
Di kalangan birokrasi, Asnawi dikenal sebagai sosok yang tidak banyak gaya. Ia digambarkan sebagai figur yang humanis — tipe pemimpin yang tidak menciptakan jarak berlebihan dengan bawahannya. Loyalitas kepada pimpinan juga disebut sebagai salah satu karakter menonjolnya, sesuatu yang rupanya menjadi pertimbangan penting dalam kepercayaan Mualem kepadanya.
Penunjukan ini memang bukan keputusan sembarangan. Dinas ESDM Aceh bukan instansi ecek-ecek. Di bawah atapnya ada urusan pasokan energi daerah, penerbitan dan pengawasan izin pertambangan, pengelolaan sumber daya alam, hingga pengawasan distribusi BBM dan LPG. Semua itu bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh.
Gubernur Mualem sendiri sudah menyatakan secara terbuka bahwa sektor ESDM adalah salah satu kekuatan Aceh yang harus dikelola dengan serius — transparan, adil, dan berorientasi jangka panjang. Asnawi kini diberi mandat untuk menerjemahkan kata-kata itu menjadi kerja nyata.
Pengalaman panjang di birokrasi daerah, kedekatan dengan dinamika masyarakat, dan rekam jejak yang bersih menjadi modal awal yang ia bawa ke kursi barunya. Tantangan berikutnya: membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah alamat.













Discussion about this post