ACEH TAMIANG — Banjir belum sepenuhnya surut. Tapi Dinas Pendidikan Aceh sudah bergerak.
Rabu malam (5/6/2026), ratusan kepala sekolah, guru, dan siswa dari Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa berkumpul di SMA Negeri 2 Patra Nusa, Manyak Payed. Bukan rapat dinas biasa — melainkan tausiah Ramadan, buka puasa, lalu tarawih bersama. Silaturahmi yang dikemas sekaligus sebagai peneguhan komitmen.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, hadir dan langsung menyampaikan sikap tegas.
“Walaupun kita sedang menghadapi musibah banjir, pendidikan harus tetap berjalan. Anak-anak Aceh harus tetap belajar agar menjadi generasi yang cerdas dan berkualitas,” katanya.
Ia bicara soal mental. Menurutnya, siswa perlu dibiasakan bersikap tangguh sejak dini karena dunia di luar sekolah tidak akan menunggu mereka siap.
“Persaingan hanya dimenangkan oleh orang-orang yang kuat. Karena itu, semangat kita tidak boleh redup dalam membangun pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.
Disiplin jadi sorotan berikutnya. Murthalamuddin menilai pola pendidikan perlu bergeser — tidak cukup hanya mengejar nilai, tapi harus membentuk cara berpikir dan sikap hidup siswa. Tanggung jawab itu, kata dia, tidak bisa sepenuhnya dibebankan ke keluarga.
“Disiplin harus menjadi bagian penting dalam pendidikan. Anak-anak harus dilatih untuk mampu mengelola pola pikir dan tanggung jawab dalam kehidupan,” tegasnya.
Ponsel di kelas juga disinggung. Murthalamuddin minta sekolah tidak setengah-setengah menerapkan aturan.
“Jika siswa membawa HP ke ruang kelas bukan karena keperluan pembelajaran, maka fokus belajar mereka akan terganggu. Karena itu perlu ada pengaturan yang jelas di sekolah sesuai surat edaran Disdik Aceh,” katanya.
Supaya siswa punya ruang berkembang di luar pelajaran rutin, ia mendorong sekolah rajin menggelar lomba dan kompetisi. Bukan sekadar hiburan — tapi untuk mengasah kepercayaan diri.
“Kita ingin membangun paradigma pendidikan baru dengan memperbanyak lomba-lomba bagi siswa agar mereka memiliki ruang untuk berkarya dan menunjukkan kemampuan,” ungkapnya.
Kepada para guru, pesannya lebih keras. Jangan terus maju ke materi berikutnya kalau siswa belum paham.
“Lebih baik siswa memahami delapan pokok bahasan secara mendalam daripada mempelajari sepuluh pokok bahasan tetapi tidak memahami apa-apa,” ujarnya.
Yang paling mengejutkan malam itu, Murthalamuddin mengumumkan rencana UKG mandiri di Aceh. Guru yang tidak lulus bisa kehilangan sertifikat — dan tidak lagi boleh mengajar.
“Ke depan kita akan melaksanakan UKG guru secara mandiri di Aceh. Jika tidak lulus, maka sertifikat UKG dapat dicabut dan guru tersebut tidak diperbolehkan mendapatkan jam mengajar,” tegasnya.
Menjadi guru, kata dia, bukan soal hadir lalu pulang.
“Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajar siswa yang diajarkan,” ujarnya.
Ia mengakhiri arahan dengan satu pesan sederhana: perpustakaan sekolah harus hidup, bukan sekadar pajangan.
“Perpustakaan harus aktif dimanfaatkan oleh siswa. Sekolah juga perlu menyediakan buku-buku yang bermanfaat sesuai dengan kebutuhan kurikulum,” tutupnya.












Discussion about this post