Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

KPA Aceh Tenggara Dukung Sekda Aceh dalam Meralisasikan Visi Misi Mualem–Dek Fadh

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
February 2, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
KPA Aceh Tenggara Dukung Sekda Aceh dalam Meralisasikan Visi Misi Mualem–Dek Fadh

Kutacane — Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Aceh Tenggara menyatakan dukungan terhadap kinerja Sekretaris Daerah/ Sekda Aceh, M. Nasir, dalam mendukung pelaksanaan visi dan misi Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf (Mualem) dan Wakil Gubernur Fadhullah (Dek Fadh).

Ketua KPA Wilayah Aceh Tenggara, Rusli alias Algojo, menilai peran Sekda Aceh penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan dan memastikan arah kebijakan kepala daerah dapat dijalankan oleh birokrasi secara efektif.

Menurut Rusli, hingga saat ini roda pemerintahan Aceh tetap berjalan dengan baik. Aktivitas aparatur sipil negara (ASN) berlangsung normal dan tidak ditemukan gangguan serius dalam sistem administrasi pemerintahan.

“Pemerintahan berjalan, ASN bekerja, dan pelayanan publik tetap berlangsung. Itu menjadi indikator bahwa fungsi koordinasi birokrasi berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Rusli, Selasa, 2 Februari 2026.

Rusli juga menilai peran Sekda Aceh bersama jajaran Pemerintah Aceh cukup terlihat dalam mendukung upaya penanganan bencana, terutama dalam aspek koordinasi dan pengambilan keputusan administratif agar respons pemerintah dapat berjalan cepat dan terarah.

Ia menegaskan bahwa jabatan Sekda merupakan jabatan birokrasi yang berfokus pada kerja dan tanggung jawab administratif, bukan jabatan politik yang berorientasi pada pencitraan. Karena itu, menurutnya, penilaian terhadap kinerja Sekda sebaiknya dilakukan secara objektif dan proporsional.

“Perbedaan pandangan itu hal biasa. Yang penting, penilaian kinerja tetap didasarkan pada data dan fungsi jabatan,” katanya.

Terkait peran Ketua DPRA Aceh, Rusli menyampaikan bahwa DPRA memiliki posisi penting sebagai mitra pemerintah, terutama dalam fungsi pengawasan dan penganggaran.

Ia berharap ke depan seluruh lembaga, baik eksekutif maupun legislatif, dapat semakin memperkuat sinergi dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan kebencanaan di Aceh.

“Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk mendorong penanganan bencana yang lebih baik dan berkelanjutan. Sinergi antar lembaga menjadi kunci,” ujarnya.

KPA Aceh Tenggara menilai, keberhasilan pemerintahan Aceh ke depan sangat bergantung pada soliditas antara pimpinan daerah, birokrasi, dan lembaga legislatif. Oleh karena itu, dukungan terhadap Sekda Aceh dinilai penting agar pelaksanaan visi dan misi Mualem–Dek Fadh dapat berjalan optimal demi kepentingan masyarakat Aceh.

Menutup pernyataannya, KPA Aceh Tenggara mengajak seluruh elemen untuk memperkuat kebersamaan dalam membangun Aceh ke depan.

Pihaknya juga berharap adanya peningkatan komunikasi dan silaturahmi antara pimpinan serta anggota DPRA, khususnya dari Fraksi Partai Aceh, dengan jajaran Panglima Wilayah dan pengurus Partai Aceh di seluruh kabupaten/kota.

“Kami mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan membangun Aceh ke depan. Diharapkan komunikasi dan silaturahmi antara Ketua dan Anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh dengan Panglima Wilayah serta pengurus Partai Aceh di seluruh kabupaten/kota dapat terus diperkuat demi menjaga soliditas dan kepentingan masyarakat Aceh,” ujar Rusli.()

Tags: KPAmualemPemerintah AcehSekda Aceh
ShareTweetSendShare

Related Posts

Pemerintah Aceh Raih Apresiasi Kategori Akses Penduduk ke Layanan Pendidikan
Daerah

Pemerintah Aceh Raih Apresiasi Kategori Akses Penduduk ke Layanan Pendidikan

August 12, 2026
Barack Obama Luncurkan Podcast tentang Buku yang Membentuk Cara Pandangnya
Dunia

Barack Obama Luncurkan Podcast tentang Buku yang Membentuk Cara Pandangnya

August 11, 2026
Menteri Agama Silaturahmi ke Abu Mudi, Mohon Doa dan Sampaikan Dukungan untuk Wisuda UNISAI ke-13
Daerah

Menteri Agama Silaturahmi ke Abu Mudi, Mohon Doa dan Sampaikan Dukungan untuk Wisuda UNISAI ke-13

August 11, 2026
Masuk Grand Final LCC Empat Pilar MPR-RI, Sekda Nasir: Siswa SMA 2 Banda Aceh Wajib Masuk Karantina
Daerah

Masuk Grand Final LCC Empat Pilar MPR-RI, Sekda Nasir: Siswa SMA 2 Banda Aceh Wajib Masuk Karantina

August 11, 2026
Oknum Keuchik dan Anggota Polri Jadi Tersangka Kasus Peredaran Etomidate di Aceh, Kapolda Sebut Jaringan Aceh-Malaysia
Daerah

Oknum Keuchik dan Anggota Polri Jadi Tersangka Kasus Peredaran Etomidate di Aceh, Kapolda Sebut Jaringan Aceh-Malaysia

August 11, 2026
Teuku Rahmatsyah Resmi Jabat Kajati Aceh, Bawa Semangat Baru Penegakan Hukum
Daerah

Teuku Rahmatsyah Resmi Jabat Kajati Aceh, Bawa Semangat Baru Penegakan Hukum

August 11, 2026
Next Post
Dianggap Sumber Kegaduhan, Jubir KPA Bang Jack Libya Sepakat Mualem Ganti Ketua DPRA

Dianggap Sumber Kegaduhan, Jubir KPA Bang Jack Libya Sepakat Mualem Ganti Ketua DPRA

Membaca Kembali Bung Hatta, Tauladan Sepanjang Zaman

Membaca Kembali Bung Hatta, Tauladan Sepanjang Zaman

Discussion about this post

Recommended Stories

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa Sigli, 23 Juli 2025 – Komunitas Beulangong Tanoh menggelar kegiatan Syarah Budaya bersama tokoh Aceh, Alijullah Hasan Yusuf, pada Rabu (23/7) sore di balai kayu Pekarangan Warong Kupi Kulam, Sigli. Acara dimulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIB dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan serta komunitas, termasuk FAMe Pidie dan sejumlah komunitas literasi dan budaya lainnya. Alijullah Hasan Yusuf, atau akrab disapa Pak Ali, merupakan tokoh asal Blang Paseh yang dikenal luas sejak tahun 1970-an melalui kisahnya sebagai “penumpang gelap” menuju Eropa. Kisah tersebut kemudian dibukukan dengan judul Penumpang Gelap dan menjadi titik awal ketenarannya. Dalam kegiatan tersebut, Pak Ali membagikan pengalamannya merantau dari Aceh hingga ke Eropa. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang dipenuhi oleh pembacaan Hikayat Aceh di kampung halaman, ketertarikannya terhadap pesawat, hingga akhirnya memberanikan diri naik pesawat sebagai penumpang gelap setelah meneliti kebiasaan orang-orang di bandara saat bekerja di Jakarta. “Waktu kecil saya hanya dengar bunyi pesawat dari kejauhan. Saat melihat langsung pesawat di Kuta Cane, saya cuma bisa berbisik dalam hati: suatu hari saya akan naik pesawat itu, apa pun caranya,” ujar Pak Ali disambut tawa oleh segenap peserta yang hadir. Selain berbagi kisah pribadinya, Pak Ali juga menceritakan pertemuannya dengan sejumlah tokoh nasional, seperti Bung Hatta, Soemitro Djojohadikoesoemo, Daud Beureueh, Hasan Tiro, dan B.J. Habibie. Ia mengungkapkan bahwa Bung Hatta adalah sosok yang menyemangatinya untuk menuliskan kisah hidupnya. “Pak Hatta bilang langsung ke saya, ‘Ali, kamu harus menulis kisah hidupmu. Ini penting untuk generasi muda.’ Itu yang membuat saya mulai serius menulis,” jelas Pak Ali. Dorongan itu melahirkan buku otobiografi Penumpang Gelap yang kemudian banyak dibaca dan dikagumi, termasuk oleh calon istrinya sendiri, yang kelak ia temui dan nikahi di Indonesia. Sementara itu, pertemuannya dengan B.J. Habibie terjadi di sebuah bukit di Paris, di mana Pak Ali dan Mantan Presiden Indonesia ke-3 itu berdiskusi panjang mengenai pembangunan Aceh, termasuk rencana menghidupkan kembali jalur kereta api Aceh yang belum sempat terwujud. “Pak Habibie bilang ke saya, dia ingin membangun Aceh dengan menghidupkan kembali jalur kereta api. Tapi takdir berkata lain, beliau keburu dilengserkan,” ujar Pak Ali dengan nada haru. Pak Ali hadir di lokasi acara dengan pakaian santai, kaos berkerah putih, celana jeans biru, sepatu putih, lengkap dengan topi dan kacamata. Ia didampingi oleh istrinya, Suryati, serta anak perempuan mereka. Acara yang dipandu langsung oleh Yulia Erni, berlangsung dalam suasana akrab dan penuh antusiasme. Pesertapun terlihat aktif menyimak dan berebutan untuk melayangkan pertanyaan yang bermuara dialog panjang. Di penghujung ceritanya tadi, Pak Ali menyampaikan pesan yang menjadi inti dari perjalanan hidupnya sekaligus warisan pemikiran yang ingin ia tularkan kepada generasi muda, “Kita harus berani merantau, menulis, dan membaca,” Menurutnya, tiga hal sederhana ini merantau, menulis, dan membaca adalah kunci yang telah membuka banyak pintu dalam hidupnya. Merantau mengajarkannya tentang dunia dan keberanian, menulis membuatnya diingat dan dikenang, sementara membaca membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Merantau membuat saya berani keluar dari kampung, dari zona nyaman. Menulis membuat saya bisa merekam hidup saya, dan membaca membuat saya mengerti hidup orang lain,” jelasnya. Pak Ali berharap agar generasi muda Aceh, khususnya peserta yang hadir hari itu, tidak ragu untuk bermimpi besar, dan menjelajah dunia.

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa

July 23, 2025
Wali Nanggroe Minta AMANAH Fokus Bangkitkan Potensi Pemuda Aceh

Wali Nanggroe Minta AMANAH Fokus Bangkitkan Potensi Pemuda Aceh

April 18, 2026
Di Masa Teungku Daud Beureueh, Tahanan Judi Diasingkan ke Blang Pandak

Di Masa Teungku Daud Beureueh, Tahanan Judi Diasingkan ke Blang Pandak

July 22, 2025
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!