Di zaman ini, perang diciptakan untuk perputaran industri militer dengan produksi alutsista bersakala besar dan tentunya ada analisis cost-benefit sebuah negara untuk diinvasi, ada alasan ekonomi yang kuat dibalik perang, termasuk Amerika Serikat.
The tautology of hegemony every century adalah sepenggal tagline buku kedua saya Mencari Tuhan-Tuhan Peradaban yang menggambarkan bagaimana genealogi hegemoni dari abad klasik hingga kontemporer.
Semua negara atau imperium pernah memiliki masa keemasannya. Masa keemasan selalu diasosiasikan dengan smasembawa pangan dan energi. Akan tetapi negara adidaya untuk mencapai predikat tersebut selalu berjalan di atas kolonialisasi negara-negara kecil.
Itu terjadi di era dulu hingga sekarang. Ia hanya bermetamorfosa dalam bentuk baru yang di kenal dengan pasar bebas, sebuah tools ekonomi liberal yang menjadi palu godam bagi negara yang tidak well qualified, akan tetapi kaya akan sumber daya.
Dalam paradigma lama, perang tidak hanya bertujuan ekspansi, akan tetapi perang juga berfungsi sebagai katup pengaman untuk melepas semua tekanan internal keluar. Selain itu, untuk melebarkan wilayah-wilayah untuk kompensasi para pangeran dan jenderal imperium besar sebagai bentuk pendelegasian kekuasaan.
Di zaman ini, perang di ciptakan untuk perputaran industri militer dengan large scale of production alutsista dan tentunya ada analisis cost-benefit sebuah negara untuk diinvasi, ada alasan ekonomi yang kuat dibalik perang.
Kita bisa melihat hal ini di Panama untuk kepentingan Terusan Panama, invasi Bush dan Blair di Irak untuk kepentingan core national interest Amerika yaitu minyak dan sekarang Venezuela dengan motif yang sama.
Amerika adalah negara adidaya yang sangat ketergantungan dengan minyak untuk menjadi pelumas industri domestiknya. Bahkan menurut studi literasi, potensi Amerika merusak ozon bumi setara dengan 146 negara anggota protokol Kyoto dari 192 total anggota.
Artinya, jika AS benar-benar berkomitmen pada lingkungan maka perubahan iklim tidak akan separah sekarang. Hanya saja Amerika berdalih jika benar-benar meratifikasi protokol Kyoto dan perjanjian Paris, maka akan berdampak pada stabilitas ekonomi domestik dan global.
AS tidak akan benar-benar mampu berkomitmen terhadap environmental ethics, ia akan lebih mementingkan kebutuhan industri manufakturnya. Bahkan tak jarang mengklaim bahwa perubahan iklim adalah mitos.
Dari serangkaian uraian ini, adalah penyebab asal utama mengapa AS selalu mengincar minyak dan memastikan keberlangsungan stok energi untuk menghindari krisis seperti yang terjadi pada tahun 1929 lalu.
Walaupun terdapat berbagai bahasa politik untuk melegalkan invasi Amerika mulai dari “Komunisme, Perang terhadap terorisme, demokratisasi dan hancurkan rezim otoriter dan perang terhadap narkoba”.
Dalam anatomi ekonomi-politik, mata uang sebuah negara tidak selalu menjadi signifikan prediktor kesuksesan sebuah negara. Buktinya AS bahkan harus mendepresiasi mata uangnya di Plaza accord agar neraca transaksi globalnya kembali stabil. Dan banyak indeks faktor X lainnya sebuah negara dikatakan maju.
Seperti militer, sumber daya energi, mineral kritis dan yang paling mutakhir di era sekarang adalah semikonduktor. Ini adalah komoditas yang jauh lebih interest bagi Amerika. Pesawat siluman B-2 spirit milik AS adalah wujud nyata dari pentingnya semikonduktor yang mampu menghindari sensor radar negara target invasi.
AS wajib memastikan dirinya settle, proper dan well qualified dalam berbagai ajang pertarungan global baik ekonomi, militer dan sumber daya agar memenuhi kualifikasi doktrin Wolfowitz yang menyatakan bahwa tidak ada boleh negara yang mampu menyaingi Paman Sam.
Donald trump adalah seorang pebisnis, ia mampu mendiagnosa kesehatan perusahaannya. Begitu juga dengan negara yang ia pegang sekarang. Trump berdiri di atas mencusuar melihat problem AS secara komprehensif dari berbagai lini mulai dari tarif bagi negara-negara lain, anti terhadap imigran, sumber daya energi, mineral kritis untuk pengembangan teknologi militer dan ekonomi hectocorn domestiknya.
Upaya ini dia lakukan bermuara pada jargon kampanyenya yaitu #MakeAmericanGreatAgain yang dilakukan secara simultan dan perbaikan dari berbagai arah. Memberhentikan bantuan luar negeri melalui USAID, memproteksi pasar domestik dengan tarif, membatasi imigran masuk ke AS.
Oleh: Rahmat Fahlevi, penulis buku Mencari Tuhan-Tuhan Peradaban.











Discussion about this post