Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Sejarah

Sumitro Djojohadikusumo, Arsitek Ekonomi Indonesia Modern

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
June 16, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Sumitro Djojohadikusumo, Arsitek Ekonomi Indonesia Modern

Sumitro Djojohadikusumo adalah seorang ekonom dan teknokrat, ia adalah seorang ilmuwan teoritis sekaligus teknokrat di dalam pemerintahan negara yang meletakkan fondasi ekonomi Indonesia modern.

TINJAUAN.ID | Saya mendapat banyak pengetahuan baru tentang sosok Sumitro setelah membaca liputan khusus TEMPO beberapa waktu lalu yang diulas dengan apik.

Sumitro Djojohadikusumo adalah seorang ekonom dan teknokrat, ia adalah seorang ilmuwan teoritis sekaligus teknokrat di dalam pemerintahan negara yang meletakkan fondasi ekonomi Indonesia modern.

Sumitro meraih doktor bidang ekonomi dari Universitas Rottedam di Belanda, dan pernah kuliah di Sorbonne, Perancis. Sumitro adalah penggemar besar Andre Malraux, sastrawan besar Prancis yang sezaman dengan Jean Paul Sarte.

Di edisi TEMPO tersebut, ekonom Chatib Basri menulis kisah pertemuannya dengan Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi yang ia anggap sebagai seorang mahaguru. Ia mengakui sosok Sumitro adalah ilmuwan besar yang bukan hanya teknokrat ulung, tapi juga seorang intelektual besar

Di sebuah pertemuan, Sumitro bertanya ke Chatib Basri, “do you speak French?” Chatib Basri menggeleng. “Oh, youre not quite intellectual yet,” jawab Sumitro sambil tersenyum.

Chatib Basri menuturkan bahwa Sumitro adalah ekonom yang punya minat besar pada sastra dan filsafat.

Bekal akademis yang kuat, pengalamannya di Eropa, dan kekuatan kajiannya menjadikan Sumitro sebagai ekonom, akademisi, sekaligus birokrat dan negarawan yang disegani.

Sepanjang hidupnya, ia memegang berbagai jabatan strategis. Mulai dari Direktur Bank Indonesia pertama dan Menteri Keuangan pertama RI di bawah PM Ali Sastroamidjojo. Hingga Menteri Perdagangan dan Perindustrian di era Soeharto dan Duta Besar RI untuk Jerman.

Di setiap jabatan tersebut, TEMPO mencatat bahwa Sumitro secara konsisten memperjuangkan kemandirian ekonomi.

Sumitro adalah seorang ekonom bermazhab Keynesian. Ini artinya ia percaya bahwa intervensi negara melalui fiskal merupakan hal penting dalam mendorong perekonomian negara. Namun dalam menjalankan peran negara sebagai penggerak ekonomi, ia membangun fondasi pengelolaan fiskal yang tertib, anggaran berimbang, dan disiplin keuangan negara.

Meski Prabowo dianggap sejalan dengan Sumitro soal peran negara dalam ekonomi, tapi TEMPO menganggap Prabowo berbeda dengan Sumitro dalam menggerakkan ekonomi khususnya perihal disiplin fiskal.

Meski Sumitro dianggap sebagai ekonom sosialis, dan Sumitro sendiri adalah anggota Partai Sosialis Indonesia, bersama Shahrir, namun Sumitro adalah tokoh yang dalam pemikiran dan praktiknya mempersyaratkan industrialisasi sebagai motor pertumbuhan. Hal ini ia jalankan dalam perannya sebagai Menteri Perdagangan di era Soeharto.

Sumitro sejalan dengan teorinya, mengambil kebijakan yang mendorong industrialisasi sebagai motor pertumbuhan, mendorong negara untuk tidak hanya bertumpu pada sektor primer semata.

Ia juga memperkuat sektor pertanian dengan mengutamakan swasembada pangan demi fondasi stabilitas ekonomi jangka panjang. Selain itu, ia gigih memperjuangkan jalan ekonomi yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, yakni menolak liberalisme ekonomi secara berlebihan, maupun sosialisme komunis di sisi lain.

Prinsip-prinsip ekonomi yang dipegang Sumitro mencerminkan visinya yang jauh ke depan. Ia percaya bahwa ekonomi Indonesia harus berdiri di atas kekuatan sendiri, bukan bergantung pada kekuatan asing.

Kebijakan ekonomi, bagi Sumitro, harus selalu berpihak pada rakyat banyak dan mengurangi kesenjangan. Ia pun menekankan pentingnya stabilitas makroekonomi berupa inflasi rendah, neraca pembayaran sehat, dan nilai uang yang stabil sebagai prasyarat mutlak pembangunan.

Sumitro juga dikenal sebagai ekonom yang berpegang kuat dan mengacu pada data statistik. Semua kebijakan harus berbasis data, analisis mendalam, dan perencanaan jangka panjang.

Sumitro meletakkan fondasi kebijakan ekonomi makro yang tetap relevan hingga sekarang, membentuk tradisi profesionalisme dan meritokrasi di lembaga-lembaga ekonomi negara, serta menginspirasi generasi ekonom dan pembuat kebijakan yang berpikir independen dan berorientasi kepentingan nasional.

Jika ekonomi Indonesia era pembangunan Soeharto banyak dikaitkan dengan Mafia Berkeley: Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Emil Salim, mereka semua adalah murid-murid Sumitro.

Sebagai guru besar, Soemitro sendiri menjadi peletak dasar pemikiran ekonomi Universitas Indonesia yang kadernya bersambung dari masa Orde Baru era Mafia Berkeley hingga sejumlah nama yang meneruskannya seperti Sri Mulyani hingga Chatib Basri.[]

Oleh: Jabal Sab, kolumnis tinjauan.id

Tags: EKonomiSejarahSumitro Djojohadikusumo
ShareTweetSendShare

Related Posts

Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi
Daerah

Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi

July 27, 2026
“Sejarah Hidup” di Mukim Seulimeum
Sejarah

“Sejarah Hidup” di Mukim Seulimeum

July 26, 2026
23 Nama Samaran, Satu Buron: Kisah Tan Malaka Jadi Orang Paling Dicari di Asia
Sejarah

23 Nama Samaran, Satu Buron: Kisah Tan Malaka Jadi Orang Paling Dicari di Asia

July 16, 2026
Sejarah Napoleon Bonaparte: Kejeniusan dan Gaya Kepemimpinan di Medan Perang
Militer

Sejarah Napoleon Bonaparte: Kejeniusan dan Gaya Kepemimpinan di Medan Perang

July 12, 2026
Komunitas Baca Bireuen Telusuri Warisan Intelektual Tengku Chiek Awe Geutah, Kaji Manuskrip Berusia Lebih dari Tiga Abad
Daerah

Komunitas Baca Bireuen Telusuri Warisan Intelektual Tengku Chiek Awe Geutah, Kaji Manuskrip Berusia Lebih dari Tiga Abad

July 4, 2026
Memaknai Kehadiran Presiden Prabowo di Beijing
Ekonomi

Sejarah Cina Modern: Dari Revolusi hingga Kebangkitan Ekonomi

June 30, 2026
Next Post
KKI 2026 Bernuansa Aceh, Kak Ana Apresiasi Bank Indonesia

KKI 2026 Bernuansa Aceh, Kak Ana Apresiasi Bank Indonesia

KKI 2026 Bernuansa Aceh, Kak Ana Apresiasi Bank Indonesia

Intens Bahas Revisi UUPA, Pemerintah Aceh Berterimakasih pada Forbes dan DPR Aceh

Discussion about this post

Recommended Stories

Antisipasi dampak bencana, Dinsos Aceh kembali kirim bantuan penyangga

June 14, 2023
Bupati Aceh Barat Tarmizi Jenguk Bayi Penderita Bocor Jantung di Jakarta

Bupati Aceh Barat Tarmizi Jenguk Bayi Penderita Bocor Jantung di Jakarta

August 7, 2025
Sekda Aceh Pimpin Rapat Teknis Pengendalian Inflasi Jelang Hari Besar

Sekda Aceh Pimpin Rapat Teknis Pengendalian Inflasi Jelang Hari Besar

March 6, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!