TINJAUAN.ID | Tak lama setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom Amerika, Jepang mengumumkan kapitulasi (pengakuan kalah perang). Pengumuman ini membuat tentara Jepang di seluruh Aceh jatuh mental, lesu, sekaligus ketakutan.
Semua prajurit Jepang cemas jika orang Aceh tahu Jepang sudah kalah dalam Perang Dunia II, akan terjadi gelombang serangan besar-besaran terhadap mereka. Alhasil, pasukan Jepang mulai bersiap keluar dari Aceh, menuju Sumatra Utara.
Rencana kabur dari Aceh menjadi rahasia tingkat tinggi di kalangan komandan Jepang. Rencananya, seluruh tentara Jepang akan diangkut secara diam-diam lewat jalur laut menuju Pelabuhan Belawan, kecuali pasukan yang bermarkas di Langsa. Dari Belawan, barulah pasukan diantar ke Malaysia atau pulang langsung ke Jepang.
Operasi rahasia itu dilakukan saat tengah malam. Dengan senyap, satu per satu tentara Jepang naik ke kapal-kapal yang telah dipersiapkan. Seorang prajurit Jepang yang sempat bertugas di Aceh Besar, Takao Fusayama, menceritakan proses ini dalam memoar berjudul Cinta dan Benci dalam Perang Pembebasan (1995).
Fusayama menceritakan, penarikan pasukan Jepang sebenarnya tak dilakukan secara serentak di seluruh Aceh. Pasukan pertama yang dikeluarkan dari Aceh adalah sebuah batalion dari Resimen Infanteri Pengawal Kekaisaran yang bermarkas di Banda Aceh. Penarik ini dilakukan pada 19 Desember 1945 dengan tujuan Malaysia. Pemindahan pasukan batalion ini dikawal oleh sebuah kapal perang Inggris.
Selang empat hari, giliran satu kompi pasukan Jepang di Sigli yang diangkut keluar Aceh dengan sejumlah perahu. Namun, pasukan ini tidak langsung bergerak ke Belawan. Terlebih dahulu mereka harus menjemput prajurit Resimen Infanteri ke-3 yang bermarkas di Bireuen dan Lhokseumawe. Perahu-perahu yang berangkat dari Sigli tiba di Lhokseumawe pada tengah malam tanggal 24 Desember.
Komando militer Jepang di Medan terus memantau operasi penarikan pasukan tersebut. Pemimpin pasukan di setiap daerah diperintahkan menyampaikan laporan perkembangan operasi secara berkala. Saat itu, Fusayama bertugas menjaga radio di markas Medan.
Di tengah malam itu, mulanya Fusayama menerima laporan yang menginformasikan bahwa semua prajurit Jepang di Bireuen berhasil diangkut tanpa ketahuan oleh orang Aceh. Kini, ia tinggal menunggu laporan dari Lhokseumawe. Rekan kerja Fusayama, Opsir Staf Imamura, mulai cemas ketika laporan penarikan pasukan di Lhokseumawe tidak kunjung masuk setelah beberapa jam ditunggu. Fusayama berusaha menghubungi markas Jepang di Lhokseumawe lewat radio, tapi tak tersambung. Berbeda dengan Imamura yang cemas, Fusayama bersikap tenang.
Di Lhokseumawe, ratusan prajurit Jepang bergerak dalam sunyi dinihari. Mereka keluar dari barak, menuju pelabuhan, lalu satu per satu naik perahu-perahu. Tidak boleh ada keributan atau suara-suara yang mencolok selama proses ini. Jika orang-orang Lhokseumawe tahu tentara Jepang di kota mereka hendak kabur, besar kemungkinan terjadi pertempuran sehingga proses penarikan seluruh prajurit gagal terlaksana.
Gagal menghubungi Lhokseumawe lewat radio, Fusayama beralih ke telepon. Ia menelepon ke Lhokseumawe dan terhubung. Seseorang mengangkat telepon itu dan memberitahukan bahwa semua prajurit Jepang di Lhokseumawe sudah “berangkat dengan perahu-perahu dan tidak seorang tentara pun tertinggal di tangsi”. Imamura dan Fusayama cukup lega mendengar kabar itu.
Pagi harinya, warga Lhokseumawe terkejut melihat barak-barak tentara Jepang sudah kosong. Ratusan prajurit Jepang tiba-tiba lenyap dari kota mereka. Operasi rahasia penarikan pasukan di Lhokseumawe sukses besar.
Oleh: Bisma Yadhi Putra, peneliti sejarah.












Discussion about this post