Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Dunia

Seabad negara Turki modern: Menguatnya Islam dan kuasa Erdogan

Tahun ini, Republik Turki merayakan hari jadi ke-100. Di bawah kepemimpinan Erdogan, Turki kian berpaling dari Barat dan lebih mengasosiasikan diri dengan nilai-nilai Islam.

TINJAUAN AH by TINJAUAN AH
January 4, 2023
Reading Time: 5 mins read
0

Republik Turki yang didirikan 100 tahun lalu, mengalami berragam transformasi, dari mulanya sistem satu partai menjadi sistem multipartai. Turki juga mengalami kudeta militer di tahun 1960, kekerasan selama hampir satu dekade pada tahun 70-an, diikuti oleh kudeta lain dan pemerintahan koalisi yang tidak stabil di era 90-an.

Di tengah pasang surut itu, Turki yang dibangun dengan mengacu kepada nilai-nilai Barat seperti demokrasi, kesetaraan, supremasi hukum, dan sekularisme tetap bertahan dan akan merayakan hari lahir yang ke-100 pada tahun ini. Seberapa tangguh lembaga-lembaga demokrasi Turki di usianya yang mencapai satu abad ini?

Otoritarianisme meningkat

Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, Turki kian memalingkan wajah dari Barat ke Timur. Negara ini jadi lebih mengasosiasikan diri dengan nilai-nilai Islam dan mendapatkan sekutu baru di dunia Arab. Namun, perkembangan ini tidak membuat semua orang Turki gembira, karena perubahan ini disertai dengan meningkatnya otoritarianisme.

Sinem Adar, pengamat Turki di Pusat Studi Turki Terapan (CATS) di Berlin, Jerman, punya pandangan negatif tentang langkah negara ini di bawah Erdogan. “Turki saat ini adalah contoh utama meningkatnya praktik otoriter,” ujar Adar.

“Sejak akhir 2000-an, negara ini terus menjauh dari supremasi hukum dan pemisahan kekuasaan yang efektif,” ujar Adar yang mengatakan sangat frustrasi dengan perubahan ini.

Batas negara dan agama kian luntur

Salah satu nilai dasar republik Turki adalah sekularisme, sebuah konsep yang didasarkan pada pemisahan tegas antara negara dan agama. Kekhalifahan Utsmaniyah dihapuskan pada tahun 1924, kurang dari setahun setelah berdirinya Republik Turki. Tidak lama setelahnya, Diyanet yang disebut Direktorat Urusan Agama, didirikan untuk memberi kontrol lebih besar kepada negara atas pengaruh politik Islam.

Akan tetapi, saat ini agama justru memainkan peran politik yang jauh lebih besar di Turki bila dibandingkan dengan 20 tahun lalu berkat kebijakan dan wacana yang diusung Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Adar menegaskan, selalu ada “garis tipis (pembatas) antara agama dan politik di Turki” sejak berdirinya republik tersebut. Tapi menurutnya, dalam 20 tahun terakhir di bawah kekuasaan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin Erdogan, telah membawa perbedaan signifikan dalam hal luas dan dalamnya penetrasi agama yang disponsori negara ke dalam kehidupan sosial. Adar juga menilai Diyanet telah berubah menjadi aktor politik raksasa di bawah kekuasaan AKP.

“Diyanet telah mendapatkan lebih banyak kekuatan dibandingkan sebelumnya, dengan bobot politik yang meningkat dan akses ke sumber daya yang terus meningkat. Setelah gagalnya upaya kudeta pada 2016, Diyanet mengambil peran kunci dalam pemunculan narasi bahwa elit penguasa Turki di bawah kepemimpinan Erdogan mewujudkan kehendak rakyat dan membela nilai-nilai otentik dan nasional bangsa, serta integritas wilayah negara,” tambah Adar.

Mungkinkah Erdogan kalah pemilu?

Turki akan melangsungkan pemilihan umum (pemilu) pada 18 Juni 2023 untuk memilih presiden. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan bahwa Erdogan mungkin akan kalah jika oposisi berhasil melawannya dengan satu kandidat.

Namun, semua itu masih belum jelas. Gabungan enam partai oposisi yang disebut sebagai Tabel Enam hingga kini belum mengumumkan kandidatnya. Tabel Enam menginginkan kembalinya sistem parlementer dan pembatasan kekuasaan presiden yang kini meningkat pesat setelah Erdogan mendorong terjadinya perubahan konstitusional yang signifikan tahun 2018.

Namun, Turki ternyata masih memiliki lembaga demokrasi yang berfungsi dan memastikan pemilu yang bebas dan adil sampai batas tertentu. Pemilu tahun 2019 memberikan secercah harapan bagi mereka yang menginginkan pemerintahan yang berbeda. Saat itu, pada pemilu tingkat lokal, kandidat oposisi menang melawan kandidat AKP di dua kota terbesar Turki, Istanbul dan Ankara.

Ini membuktikan bahwa Turki masih memiliki institusi demokrasi yang berfungsi dan pemilu sebenarnya dapat dimenangkan oleh oposisi.

Namun, peralihan kekuasaan hanya dapat terjadi apabila pemilu diselenggarakan secara adil. “Untuk memenangkan pemilu, (pertama-tama oposisi harus) memastikan … keamanan kotak suara,” kata Adar.

Proyek Erdogan akan dilanjutkan

Sejauh ini, Partai AKP bangga dengan sejumlah pencapaian seperti keberhasilan drone Bayraktar TB-2 buatan Turki di tingkat internasional. Turki juga punya rencana memproduksi jet tempur dan mobil listrik sendiri. Apa yang bisa terjadi pada semua proyek ini jika oposisi berkuasa?

Pemerintah baru tidak hanya akan mempertahankan proyek-proyek ini, tetapi juga melanjutkannya dengan cara yang lebih praktis dan demokratis, menurut Adar.

“Aspirasi untuk industri pertahanan yang asli, ekonomi berdasarkan inovasi, dan kemajuan teknologi kemungkinan akan berlanjut di bawah pemerintahan yang berbeda,” katanya.

“Namun, di bawah pemerintahan yang berbeda, kemungkinan akan ada penilaian yang lebih realistis dan bijaksana atas kapasitas Turki, dan hubungan industri pertahanan-kebijakan luar negeri kemungkinan akan dengan lebih baik dilembagakan, diatur, dan bersifat akuntabel.”

Turki tetap punya peran penting di Eropa dan NATO

Mengingat langkah-langkah Turki hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa masa depan negara itu terkait Eropa bisa jadi tidak begitu cerah.

“Tahun 2023 ditakdirkan untuk menjadi tahun kritis bagi hubungan Turki dan Uni Eropa”, kata Cigdem Nas, Sekretaris Jenderal Economic Development Foundation di Istanbul, wadah pemikir terkemuka yang didedikasikan bagi hubungan Turki-UE.

“Jika oposisi menang, mereka sebagian besar akan berkonsentrasi untuk kembali ke rezim parlementer, dan proses ini juga akan memerlukan agenda demokratisasi. Di bawah skenario seperti itu, kita dapat mengharapkan revitalisasi perspektif UE oleh Turki,” katanya.

Nas menekankan, kemungkinan kembalinya agenda reformasi UE pada periode setelah pemilu “dapat membawa percepatan hubungan Turki-UE melalui modernisasi serikat pabean, dan koordinasi yang lebih besar dalam perdagangan, energi, kebijakan luar negeri, keamanan dan migrasi kebijakan.”

Dengan demikian, Turki akan tetap menjadi mitra yang kritis dan istimewa.

“Meskipun pembicaraan keanggotaan Uni Eropa dibekukan, Turki masih berada di dalam arsitektur Eropa yang lebih luas, sebagai aktor penting untuk keamanan Eropa,” kata Nas.

Turki juga adalah anggota NATO dan memiliki tentara terbesar kedua dalam aliansi tersebut dan ini menjadikan Turki sebagai penyedia keamanan yang sangat dibutuhkan. Terutama dalam keadaan seperti saat ini, ketika NATO menginginkan persatuan maksimum untuk melawan agresor potensial seperti Rusia dan Cina. Mengingat perang agresi Rusia di Ukraina tampaknya belum akan segera berakhir, peran Ankara sebagai mediator juga diharapkan semakin besar.

Sumber: DW

Tags: demokrasierdoganpolitik duniaTurkiuni eropa
ShareTweetSendShare

Related Posts

Jubir Pemkab Bireuen Jelaskan Ihwal Ketiadaan Huntara, Sebut Penanganan Bencana Sudah Sesuai Tahapan
Daerah

Jubir Pemkab Bireuen Jelaskan Ihwal Ketiadaan Huntara, Sebut Penanganan Bencana Sudah Sesuai Tahapan

March 28, 2026
Seribu Anggota KPA Doa Bersama di Makam Almarhum Hasan Tiro, Mengapa Abang Samalanga Tak Hadir?
News

Seribu Anggota KPA Doa Bersama di Makam Almarhum Hasan Tiro, Mengapa Abang Samalanga Tak Hadir?

March 27, 2026
Peneliti: Ketua DPRA Bertanggung Jawab atas Pemotongan TPP
News

Gagal Jadikan Bireuen Basis, Abang Samalanga Dinilai Layak Diganti

March 26, 2026
Dinas Pendidikan Dayah Aceh Terima Audiensi Kadisdik Dayah Aceh Besar
Daerah

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Awali Aktivitas Pasca-Idulfitri dengan Apel Perdana

March 25, 2026
Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034
Laporan dan Analisis

Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034

March 24, 2026
Masih di Tenda Saat Lebaran, Warga Aceh Tamiang Keluhkan Penyaluran DTH
Daerah

Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana Nilai Pemerintah Bohongi Publik, Sebut Korban Bencana Aceh Tak Lagi Tinggal di Tenda

March 24, 2026
Next Post

Indonesia kurangi ekspor minyak sawit untuk cukupi kebutuhan dalam negeri

Anwar Ibrahim kunjungi Indonesia: bahas TKI dan buruh sawit

Recommended Stories

Bupati Aceh Besar Syech Muharram Siapkan Lahan Sekolah Rakyat di Kota Jantho

Bupati Aceh Besar Syech Muharram Siapkan Lahan Sekolah Rakyat di Kota Jantho

September 27, 2025
Kak Na Dampingi Seruni KMP Resmikan Kembali Beroperasinya SDN 1 Sungai Liput pasca Renovasi

Kak Na Dampingi Seruni KMP Resmikan Kembali Beroperasinya SDN 1 Sungai Liput pasca Renovasi

February 12, 2026
Mualem Nilai M. Nasir Sosok yang Tepat Jabat Sekda Aceh

Mualem Nilai M. Nasir Sosok yang Tepat Jabat Sekda Aceh

August 15, 2025

Popular Stories

  • Tingkat Pengangguran Usia Muda Tinggi, Indonesia Berjuang Ciptakan Lapangan Kerja

    Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Review Laporan Keuangan Bank Aceh Syariah (I) ; Triliunan Dana Diinvestasikan ke Luar Aceh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • Contact Us

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?