Banda Aceh — Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama/ STISNU Aceh menggelar pengajian artefak Islam di Makbarah Syeikh Abdurrauf as-Singkili al-Fansuri (Syiah Kuala), Rabu, 29 Januari 2026, sebagai ikhtiar merawat khazanah keilmuan Islam Nusantara.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) STISNU Aceh.
Dalam suasana khidmat di kompleks pemakaman ulama besar Aceh tersebut, para mahasiswa mengkaji Tafsir al-Baidhawi versi Melayu, manuskrip penting yang mencerminkan kesinambungan tradisi intelektual Islam di Serambi Mekkah. Pengajian dibimbing langsung oleh Ketua STISNU Aceh.
Ketua STISNU Aceh, Dr. Tgk. Muhammad Yasir, MA, menyatakan bahwa pengajian di makbarah ulama merupakan bagian dari pendidikan kesadaran keilmuan dan adab akademik. “Makbarah Syiah Kuala bukan sekadar tempat peristirahatan ulama, tetapi ruang hidup bagi ilmu. Di sinilah mahasiswa belajar bahwa pengetahuan lahir dari tradisi, adab, dan tanggung jawab peradaban,” ujarnya.
Kabid Humas STISNU Aceh, Tgk. Faisal Kuba, menambahkan bahwa kegiatan ini mencerminkan arah pendidikan tinggi Islam yang dibangun STISNU Aceh. “Kami ingin mahasiswa KIP tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sejarah dan spiritual. Artefak Islam seperti Tafsir Baidhawi Melayu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan keilmuan Aceh,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, STISNU Aceh menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang berakar pada tradisi, berpijak pada sejarah, dan berorientasi pada pembentukan karakter intelektual yang beradab serta bertanggung jawab terhadap masa depan peradaban.[]













Discussion about this post