Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Opini

Membaca Arah Politik Ulama di Aceh

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
August 23, 2025
Reading Time: 2 mins read
0
Daud Beureueh: dari Rekognisi ke Rekonsiliasi

Bung Alkaf, esais.

Oleh: Bung Alkaf*

Baru-baru ini Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem menjamu ulama-ulama dayah yang tergabung di dalam MUNA. Tampak dalam pertemuan itu Abu Paya Pasi dan Abon Arongan. Saya tertarik untuk menerjemahkan keterlibatan ulama dayah dalam politik Aceh kontemporer.

Selama dua puluh tahun perdamaian, ulama dayah memanfaatkan ruang politik yang terbentuk melalui beberapa hal:

Pertama, aliansi dengan mantan Gerakan Aceh Merdeka yang telah terintegrasi dalam tubuh politik nasional.

Kedua, melalui mobilisasi sumber daya yang dayah miliki secara internal, terutama jaringan lembaga pendidikan dayah yang tersebar di seluruh pelosok Aceh.

Ketiga, wacana keagamaan yang mereka kuasai melalui tagline aswaja.

Keempat, keberhasilan alumni dayah melakukan mobilisasi vertikal dalam dunia birokrasi, yang ditunjukkan dengan dikuasainya pos-pos yang dahulunya ditempati oleh muslim modernis Aceh.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan para ulama MUNA. Foto: Humas Setdaprov.

Keempat faktor ini dapat dijelaskan dengan lebih rinci karena tidak ada dayah yang tunggal seperti yang dibayangkan oleh banyak studi. Walaupun secara genealogi terhubung sampai ke Labuhan Haji, namun dalam praktik berikutnya terdapat perbedaan, terutama secara politis dan orientasi agama.

Secara politis, mobilisasi kelompok dayah pertama kali dalam bentuk organisasi paguyuban HUDA, Himpunan Ulama Seluruh Aceh. Organisasi dayah ini berperan di masa-masa kritis konflik Aceh pascareformasi.

Setelah perjanjian damai, organisasi ini semakin solid. Melalui jaringan dayah Al Aziziyah Samalanga, HUDA menjelma menjadi organisasi strategis tempat berkumpulnya para ulama tua dan muda dari kalangan dayah.

Evolusi muktahir dari keberadaan HUDA adalah dengan membentuk partai lokal, PAS. Di sisi lain, ulama dayah juga berada dalam organisasi MUNA, Majelis Ulama Nanggroe Aceh. Organisasi ini merupakan kelanjutan dari aliansi ulama dayah di bagian timur Aceh dengan organisasi GAM di masa konflik.

Dalam era perdamaian, para ulama tersebut menjadi bagian dari proyek etnonasionalisme GAM dalam postur besar Lembaga Wali Nanggroe. Sebelum Mualem menjadi Gubernur Aceh, MUNA praksis terabaikan dalam sirkualsi elit.

Kini, setelah Mualem memegang tampuk kekuasaan, perlahan MUNA mendapatkan tempat. Diawali dengan menempatkan ketua MUNA, Abu Paya Pasi, sebagai Imam Besar Mesjid Raya Baiturrahman, Mualem pun dengan terbuka menunjukkan dukungannya kepada MUNA.

Naik daunnya MUNA juga bentuk residu dari dukungan ulama jaringan Al Aziziyah kepada kompetitor Mualem, Bustami Hamzah, pada Pilkada lalu.

Terakhir, ada varian lain dalam tubuh ulama Aceh, yaitu Majelis Pengkajian Tauhid dan Tasawuf (MPTT). Kelompok ini, yang awalnya, memiliki basis di bagian selatan Aceh, karena keberadaan patron Amran Wali, kini mulai merambah ke wilayah timur dan utara Aceh, yang selama ini dikuasai oleh ulama berhaluan fiqah ortodoksi.

Berkebalikan dengan itu, MPTT merupakan corak gerakan keulamaan dayah yang berorientasi heterodoksi. Di masa lalu, kedua varian ini saling bersiteru untuk memperebutkan otoritasisasi keagamaan di Aceh. Menariknya, Mualem, melalui wakilnya, Darwis Jeunieb, melantik Amran Wali sebagai Wali Agama Aceh di Masjid Raya Baiturrahman.

Di tangan Mualem, dua varian keulamaan diajaknya dalam satu nafas, MUNA dan MPTT. Sekarang, kita sedang menunggu, apakah HUDA akan dijak dalam satu gerbong atau akan menjadi oposannya Mualem, bahkan lawan politik GAM di masa depan secara terbuka? Atau, kita akan melihat bentuk komunikasi politik baru antara HUDA dengan Mualem?

*Penulis adalah esais.

ShareTweetSendShare

Related Posts

Membangun Generasi Masa Depan Lewat AI dan Coding di Sekolah
Opini

LGBT di Tengah Masyarakat dan Penyebaran HIV/AIDS

August 2, 2026
AKBP Arif Fazlurrahman dan Ikhtiar Membangun Karakter Polisi yang Humanis
Opini

AKBP Arif Fazlurrahman dan Ikhtiar Membangun Karakter Polisi yang Humanis

August 1, 2026
Tim Kajian Wali Nanggroe Rumuskan Rekomendasi Penguatan MoU Helsinki, Fokus Dana Otsus dan Kewenangan Daerah
Daerah

Tim Kajian Wali Nanggroe Rumuskan Rekomendasi Penguatan MoU Helsinki, Fokus Dana Otsus dan Kewenangan Daerah

July 31, 2026
DPD Partai Demokrat Aceh Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis, Kepedulian Kemanusiaan dalam Gerakan Nasional Langit Biru Indonesia Asri
Daerah

DPD Partai Demokrat Aceh Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis, Kepedulian Kemanusiaan dalam Gerakan Nasional Langit Biru Indonesia Asri

July 31, 2026
7 Jurus BK Hebat: Langkah Strategis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah
Opini

7 Jurus BK Hebat: Langkah Strategis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah

July 31, 2026
Ketua DPRA Terima Silaturahmi dan Diskusi Strategis Bersama KIP Aceh
Daerah

Ketua DPRA Terima Silaturahmi dan Diskusi Strategis Bersama KIP Aceh

July 29, 2026
Next Post
Pemkab Aceh Barat Hadirkan Car Free Day Penuh Hadiah Bersama Pegadaian

Pemkab Aceh Barat Hadirkan Car Free Day Penuh Hadiah Bersama Pegadaian

Merdeka Community Run Berlangsung Meriah

Merdeka Community Run Berlangsung Meriah

Discussion about this post

Recommended Stories

Sinergi INDODEPP dan Dinas ESDM Aceh Lahirkan Enam Manajer Energi Bersertifikasi BNSP

February 18, 2026
Dugaan Korupsi Kuota Haji Masa Eks Menag Yaqut Rugikan Negara 1 Triliun, Berikut Kronologinya

Dugaan Korupsi Kuota Haji Masa Eks Menag Yaqut Rugikan Negara 1 Triliun, Berikut Kronologinya

August 20, 2025
Syech Muharram Minta Status Hutan Lindung Dikeluarkan dari Kebun Rakyat Aceh Besar

Syech Muharram Minta Status Hutan Lindung Dikeluarkan dari Kebun Rakyat Aceh Besar

September 17, 2025
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!