Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Mahasiswa Agribisnis USK Dalami Peran Panglima Laot dalam Kehidupan Nelayan Aceh

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
May 16, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Mahasiswa Agribisnis USK Dalami Peran Panglima Laot dalam Kehidupan Nelayan Aceh

BANDA ACEH – Sejumlah Mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala mengikuti kuliah lapangan di Kantor Lembaga Hukum Adat Laot/Panglima Laot Aceh di Baet Aceh Besar, pada Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan ini mendiskusikan sejarah, fungsi dan peran Lembaga Hukum Adat Laot/ Panglima Laot dalam kehidupan masyarakat pesisir di Aceh.

Kuliah lapangan tersebut diinisiasi oleh Ibu Monalisa, dosen Agribisnis Fakultas Pertanian USK bersama Azwir Nazar, Sekretaris Panglima Laot Aceh yang hadir sebagai narasumber.

Melalui kuliah lapangan ini, mahasiswa selain dikenalkan peran dan fungsi Panglima Laot, juga sharing session tentang praktik baik apa yang selama ini dilakukan para Panglima Laot dan nelayan Aceh.

Azwir Nazar menjelaskan bahwa Panglima Laot memiliki historis yang panjang dalam masyarakat Aceh mulai abad ke 14.

“Panglima Laot ini merupakan Lembaga Persekutuan Adat sejak abad ke 14. Bagaimana dulu para indatu kita memobilisasi perang melawan Portugis, lalu masa Iskandar Muda menjadi pemungut cukai di Selat Malaka hingga masa kemerdekaan dan bergabung dengan Indonesia” sebut mantan Presiden PPI Turki tersebut.

Sesuai dengan perkembangan zaman, saat ini ada 3 peran dan fungsi utama Panglima Laot Aceh, pertama; menjaga keamanan laut, menjaga ekosistem laut dan menjaga adat istiadat.

Panglima Laot memiliki kepengurusan di tingkat Provinsi disebut Panglima Laot Aceh, Panglima Laot Kabupaten/Kota hingga panglima laot Lhok di 200 Lhok di seluruh Aceh.

Dalam penyampaiannya, Azwir juga membagikan pengalaman ketika berhadapan langsung dengan kedatangan pengungsi Rohingya ke Aceh beberapa waktu lalu yang sempat menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat dari sisi kemanusiaan.

“Jangankan manusia, hewan yang terapung di laut dan membutuhkan pertolongan pun wajib ditolong,” ujar Azwir. Itu yang mendasari nelayan kita menolong siapapun yang butuh pertolongan di laut.

Pada kesempatan itu, Azwir menyampaikan apresiasinya atas kehadiran mahasiswa dan dosen Agribisnis USK di Sekretariat Panglima Laot Aceh.

“Kami senang dapat berbagi dengan adik-adik mahasiswa dan ibu dosen tentang praktik baik serta pengalaman para tokoh Panglima Laot di Aceh dalam menjaga kearifan lokal. Semoga kegiatan ini bermanfaat dan dapat membuka peluang kolaborasi di masa mendatang,” ujar Azwir Nazar.

Sementara itu, Monalisa mengatakan bahwa kuliah lapangan ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai salah satu kelembagaan adat di Aceh beserta keistimewaannya.

Menurutnya, mahasiswa perlu memahami peran, fungsi, dan tantangan yang dihadapi lembaga Panglima Laot ke depan.

“Tujuan kami mengajak mahasiswa ke sini adalah agar mereka memperoleh pemahaman tentang kelembagaan adat di Aceh, khususnya Panglima Laot. Mahasiswa juga diharapkan dapat memahami permasalahan nelayan serta aspek sosial, ekonomi, dan ekologi dalam bidang kelautan dan perikanan,” ujar Monalisa.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada lembaga adat Panglima Laot Aceh serta jajaran pengurus Panglima Laot yang telah menerima kehadiran dosen dan mahasiswa untuk belajar langsung mengenai kelembagaan Hukum Adat Laot/ Panglima Laot Aceh.[]

Tags: AcehmahasiswaPanglima LaotUniversitas Syiah Kuala
ShareTweetSendShare

Related Posts

Seuramoe Heritage Dorong Generasi Muda Kenali Sejarah Aceh Lewat Lomba Bertutur
Daerah

Seuramoe Heritage Dorong Generasi Muda Kenali Sejarah Aceh Lewat Lomba Bertutur

September 27, 2026
Pemerintah Aceh Sampaikan Belasungkawa atas Berpulangnya Sjamsul Kahar
Daerah

Realisasi Tambahan TKD Aceh 2026 Tembus 30,16 Persen, Total Pagu Rp1,65 Triliun

September 26, 2026
Pemerintah Aceh Sampaikan Belasungkawa atas Berpulangnya Sjamsul Kahar
Daerah

Pemerintah Aceh Sampaikan Belasungkawa atas Berpulangnya Sjamsul Kahar

September 26, 2026
Panen Raya Aceh Barat, Gubernur Mualem: Sejalan dengan Misi Pemerintah Aceh
Daerah

Panen Raya Aceh Barat, Gubernur Mualem: Sejalan dengan Misi Pemerintah Aceh

September 26, 2026
Wagub Dek Fadh Pimpin Rapat Tim Revisi UUPA, Pastikan Kewenangan dan Kekhususan Aceh Tetap Terjaga
Daerah

Wagub Dek Fadh Pimpin Rapat Tim Revisi UUPA, Pastikan Kewenangan dan Kekhususan Aceh Tetap Terjaga

September 24, 2026
Dek Fadh Ikuti Rakor Perkembangan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera
Daerah

Dek Fadh Ikuti Rakor Perkembangan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera

September 24, 2026
Next Post
Wali Nanggroe Soroti Mangkraknya RS Regional Aceh Barat, Siap Temui Presiden Perjuangkan Kelanjutan Pembangunan

Wali Nanggroe Soroti Mangkraknya RS Regional Aceh Barat, Siap Temui Presiden Perjuangkan Kelanjutan Pembangunan

Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia, Aktor Tunggal atau Instrumen Politik? 

Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia, Aktor Tunggal atau Instrumen Politik? 

Discussion about this post

Recommended Stories

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa Sigli, 23 Juli 2025 – Komunitas Beulangong Tanoh menggelar kegiatan Syarah Budaya bersama tokoh Aceh, Alijullah Hasan Yusuf, pada Rabu (23/7) sore di balai kayu Pekarangan Warong Kupi Kulam, Sigli. Acara dimulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIB dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan serta komunitas, termasuk FAMe Pidie dan sejumlah komunitas literasi dan budaya lainnya. Alijullah Hasan Yusuf, atau akrab disapa Pak Ali, merupakan tokoh asal Blang Paseh yang dikenal luas sejak tahun 1970-an melalui kisahnya sebagai “penumpang gelap” menuju Eropa. Kisah tersebut kemudian dibukukan dengan judul Penumpang Gelap dan menjadi titik awal ketenarannya. Dalam kegiatan tersebut, Pak Ali membagikan pengalamannya merantau dari Aceh hingga ke Eropa. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang dipenuhi oleh pembacaan Hikayat Aceh di kampung halaman, ketertarikannya terhadap pesawat, hingga akhirnya memberanikan diri naik pesawat sebagai penumpang gelap setelah meneliti kebiasaan orang-orang di bandara saat bekerja di Jakarta. “Waktu kecil saya hanya dengar bunyi pesawat dari kejauhan. Saat melihat langsung pesawat di Kuta Cane, saya cuma bisa berbisik dalam hati: suatu hari saya akan naik pesawat itu, apa pun caranya,” ujar Pak Ali disambut tawa oleh segenap peserta yang hadir. Selain berbagi kisah pribadinya, Pak Ali juga menceritakan pertemuannya dengan sejumlah tokoh nasional, seperti Bung Hatta, Soemitro Djojohadikoesoemo, Daud Beureueh, Hasan Tiro, dan B.J. Habibie. Ia mengungkapkan bahwa Bung Hatta adalah sosok yang menyemangatinya untuk menuliskan kisah hidupnya. “Pak Hatta bilang langsung ke saya, ‘Ali, kamu harus menulis kisah hidupmu. Ini penting untuk generasi muda.’ Itu yang membuat saya mulai serius menulis,” jelas Pak Ali. Dorongan itu melahirkan buku otobiografi Penumpang Gelap yang kemudian banyak dibaca dan dikagumi, termasuk oleh calon istrinya sendiri, yang kelak ia temui dan nikahi di Indonesia. Sementara itu, pertemuannya dengan B.J. Habibie terjadi di sebuah bukit di Paris, di mana Pak Ali dan Mantan Presiden Indonesia ke-3 itu berdiskusi panjang mengenai pembangunan Aceh, termasuk rencana menghidupkan kembali jalur kereta api Aceh yang belum sempat terwujud. “Pak Habibie bilang ke saya, dia ingin membangun Aceh dengan menghidupkan kembali jalur kereta api. Tapi takdir berkata lain, beliau keburu dilengserkan,” ujar Pak Ali dengan nada haru. Pak Ali hadir di lokasi acara dengan pakaian santai, kaos berkerah putih, celana jeans biru, sepatu putih, lengkap dengan topi dan kacamata. Ia didampingi oleh istrinya, Suryati, serta anak perempuan mereka. Acara yang dipandu langsung oleh Yulia Erni, berlangsung dalam suasana akrab dan penuh antusiasme. Pesertapun terlihat aktif menyimak dan berebutan untuk melayangkan pertanyaan yang bermuara dialog panjang. Di penghujung ceritanya tadi, Pak Ali menyampaikan pesan yang menjadi inti dari perjalanan hidupnya sekaligus warisan pemikiran yang ingin ia tularkan kepada generasi muda, “Kita harus berani merantau, menulis, dan membaca,” Menurutnya, tiga hal sederhana ini merantau, menulis, dan membaca adalah kunci yang telah membuka banyak pintu dalam hidupnya. Merantau mengajarkannya tentang dunia dan keberanian, menulis membuatnya diingat dan dikenang, sementara membaca membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Merantau membuat saya berani keluar dari kampung, dari zona nyaman. Menulis membuat saya bisa merekam hidup saya, dan membaca membuat saya mengerti hidup orang lain,” jelasnya. Pak Ali berharap agar generasi muda Aceh, khususnya peserta yang hadir hari itu, tidak ragu untuk bermimpi besar, dan menjelajah dunia.

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa

July 23, 2025
Prof. Dr. Sri Rahmi, Akademisi Aceh dengan Kiprah Nasional, Kini Dipercaya Perkuat Mutu UIN Ar-Raniry

Prof. Dr. Sri Rahmi, Akademisi Aceh dengan Kiprah Nasional, Kini Dipercaya Perkuat Mutu UIN Ar-Raniry

September 11, 2026
Refleksi 20 Tahun Damai Aceh, Sebuah Panduan Merebut Hak

Refleksi 20 Tahun Damai Aceh, Sebuah Panduan Merebut Hak

August 14, 2025
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!