Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Laporan dan Analisis

Laporan Data Struktur Ketenagakerjaan Angkatan Kerja Aceh 2022-2023

Struktur ketenagakerjaan Aceh terbilang mengkhawatirkan, tingkat partisipasi kerja belum maksimal dan tingkat pendidikan angkatan kerja relatif rendah.

TINJAUAN AH by TINJAUAN AH
October 5, 2023
Reading Time: 4 mins read
0

 

Tim redaksi tinjauan.id menghimpun sejumlah data statistik terkait struktur ketenagakerjaan Aceh tahun 2022-2023 yang diambil dari BPS Aceh yang akan ditampilkan dan dipaparkan pada publikasi ini. Ada beberapa persoalan serius terkait angkatan kerja, struktur ketenagakerjaan dan tingkat pendidikan rata-rata angkatan kerja di Aceh. Permasalahan ini harus dituntaskan, tidak heran apabila pertumbuhan ekonomi Aceh terbilang rendah. Perlu ada kebijakan serius yang diambil guna memperbaiki keadaan ini untuk mencapai  kemajuan Aceh di masa mendatang. Berikut paparan data yang kami sajikan:

Jumlah angkatan kerja Aceh pada Agustus 2022 sebanyak 2,553 juta orang. Penduduk yang bekerja sebanyak 2,395 juta orang. Sebanyak 922 ribu orang (38,55 persen) bekerja pada kegiatan formal. Sebanyak 1,631 juta orang bekerja pada kegiatan non formal atau 61.45 persen.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2022 sebesar 6,17 persen atau 158 ribu orang pengangguran. TPAK (tingkat partisipasi angkatan kerja) pada Agustus 2022 sebesar 63,50 persen. TPAK adalah persentase banyaknya angkatan kerja terhadap banyaknya penduduk usia kerja. TPAK mengindikasikan besarnya persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara/wilayah.angka TPAK aki-laki sebesar 81,06 persen, lebih tinggi dibanding TPAK perempuan yang sebesar 46,15 persen.

Berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2022, tiga lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja paling banyak adalah:

  1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yaitu sebesar 40,50 persen;
  2.  Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 13,37 persen; 
  3.  Pendidikan sebesar 7,38 persen;
  4.  industri pengolahan 7,32 persen;
  5.  Administrasi pemerintahan 6,62 persen;
  6.  Konstruksi 6,63 persen;
  7.  Akomodasi makan dan minum 4,94 persen.

Status pekerjaan

Pada Agustus 2022, penduduk bekerja paling banyak berstatus:

  1. buruh/karyawan/pegawai, yaitu sebesar 35,20 persen;
  2. Berusaha sendiri 25,54 persen;
  3. Berusaha dibantu buruh tidak tetap/pekerja 13,29 persen;
  4. Pekerja keluarga/tidak dibayar 12,53 persen;
  5. Pekerja bebas di pertanian 6,11 persen;
  6. Pekerja bebas di non pertanian 4,28 persen;
  7. Berusaha dibantu buruh tetap 3,35 persen.

Tingkat pendidikan penduduk bekerja:

  1. SMA 31,55 persen
  2. SD ke bawah 25,68 persen
  3. SMP 19,21 persen 
  4. Universitas 14,21 persen 
  5. SMA kejuruan 5,24 persen
  6. Diploma 4,11 persen

Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam per minggu), dengan persentase sebesar 61,50 persen pada Agustus 2022. Sementara 38,50 persen sisanya merupakan pekerja tidak penuh.

Setengah pengangguran adalah mereka yang jam kerjanya di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam per minggu) dan masih mencari pekerjaan atau bersedia menerima pekerjaan lain. Tingkat setengah pengangguran pada Agustus 2022 adalah sebesar 10,46 persen.

Tingkat pekerja paruh waktu di Aceh pada Agustus 2022 sebesar 28,04 persen, artinya dari 100 orang penduduk bekerja terdapat sekitar 28 orang pekerja paruh waktu.

Catatan dari data statistik:

  • Dari banyaknya pekerja informal yang mencapai angka 61,45 persen, maka potensi untuk menjadi pengangguran tinggi. Potensi untuk jatuh ke garis kemiskinan juga tinggi. Artinya sekitar setengah penduduk Aceh rentan untuk masuk ke jurang kemiskinan.
  • Tingkat partisipasi angkatan kerja di angka 63,50 persen dengan laki-laki bekerja sampai 80 persen. Artinya produktifitas angkatan kerja kita masih rendah. TPAK perempuan di angka 46,15 persen masih rendah karena faktor budaya patriarki dimana mayoritas laki-laki bekerja sebagai tulang punggung keluarga, sementara perempuan mengurus rumah tangga.
  • Dari status pekerjaan, hanya sekitar 16,64 persen pekerja yang mampu mempekerjakan orang lain. Mayoritasnya pegawai/buruh/karyawan sebesar 35,20 persen dan wirausaha tanpa dibantu karyawan/buruh 25,54 persen.
  • Dari segi pendidikan angkatan kerja, hanya 14,21 persen yang merupakan lulusan universitas, 31,55 persen lulusan SMA dan 5,24 persen lulusan SMA Kejuruan. Artinya 49 persen angkatan kerja Aceh tidak sampai mengenyam pendidikan hingga sekolah menengah atas. Kualitas angkatan kerja kita terbilang rendah, ketika masih banyak angkatan kerja yang hanya lulusan SD ke bawah 25,68 persen dan SMP 19,21 persen. Artinya masalah peningkatan jenjang pendidikan harus jadi perhatian serius Pemerintah Aceh 
  • Sebanyak 38,50 persen penduduk Aceh bekerja di bawah jam kerja normal (di bawah 35 jam per Minggu). Artinya produktivitas angkatan kerja masyarakat Aceh masih sangat rendah. 
  • Masih ada 4.91 persen lulusan universitas yang menganggur. 10 persen lulusan SMA menganggur dan 10 persen lulusan SMK menganggur.

Kesimpulan:

1. Perlu ada upaya struktural melalui kebijakan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja serta membuka sektor usaha kecil dan menengah untuk mengatasi pengangguran. 

2. Perlu revolusi pendidikan untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat secara signifikan.

3. perlu ada upaya kultural (pendekatan kebudayaan) untuk meningkatkan etos kerja masyarakat Aceh yang masih terbilang rendah, karena produktivitas angkatan kerja adalah prasyarat mutlak kemajuan sebuah negara (contoh negara yang baru bangkit di abad 20: Jepang, Korea Selatan dan Singapura).

Tags: Acehangkatan kerja Acehbps Acehdata Acehdata ketenagakerjaan Acehketenagakerjaan AcehPemerintah Acehpengangguran acehtenaga kerja
ShareTweetSendShare

Related Posts

Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034
Laporan dan Analisis

Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034

March 24, 2026
Pemerintah Aceh Kucurkan Rp205,7 Miliar untuk THR 41.410 ASN
Daerah

Pemerintah Aceh Kucurkan Rp205,7 Miliar untuk THR 41.410 ASN

March 14, 2026
Kapabilitas Militer Iran Pasca Serangan 2025–2026: Tinjauan Strategis
Dunia

Kapabilitas Militer Iran Pasca Serangan 2025–2026: Tinjauan Strategis

March 6, 2026
Bisnis Nikel Konglomerat China di Indonesia dan Aktor-Aktor Pengusaha Lokal yang Terlibat
Ekonomi

Bisnis Nikel Konglomerat China di Indonesia dan Aktor-Aktor Pengusaha Lokal yang Terlibat

February 5, 2026
Kisah Hubungan Mualem dengan Rian Syaf dan Dukungan Partai Demokrat
Laporan dan Analisis

Kisah Hubungan Mualem dengan Rian Syaf dan Dukungan Partai Demokrat

January 31, 2026
Mesin Profiling Politik Tercanggih Adalah Algoritma TikTok: Begini Cara Kerjanya
Dunia

Mesin Profiling Politik Tercanggih Adalah Algoritma TikTok: Begini Cara Kerjanya

January 23, 2026
Next Post

Kesenjangan Picu Tingginya Angka Kemiskinan di Beberapa Kabupaten di Aceh

Nezar Patria dan Harapan Anak Muda Aceh

Recommended Stories

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa Sigli, 23 Juli 2025 – Komunitas Beulangong Tanoh menggelar kegiatan Syarah Budaya bersama tokoh Aceh, Alijullah Hasan Yusuf, pada Rabu (23/7) sore di balai kayu Pekarangan Warong Kupi Kulam, Sigli. Acara dimulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIB dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan serta komunitas, termasuk FAMe Pidie dan sejumlah komunitas literasi dan budaya lainnya. Alijullah Hasan Yusuf, atau akrab disapa Pak Ali, merupakan tokoh asal Blang Paseh yang dikenal luas sejak tahun 1970-an melalui kisahnya sebagai “penumpang gelap” menuju Eropa. Kisah tersebut kemudian dibukukan dengan judul Penumpang Gelap dan menjadi titik awal ketenarannya. Dalam kegiatan tersebut, Pak Ali membagikan pengalamannya merantau dari Aceh hingga ke Eropa. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang dipenuhi oleh pembacaan Hikayat Aceh di kampung halaman, ketertarikannya terhadap pesawat, hingga akhirnya memberanikan diri naik pesawat sebagai penumpang gelap setelah meneliti kebiasaan orang-orang di bandara saat bekerja di Jakarta. “Waktu kecil saya hanya dengar bunyi pesawat dari kejauhan. Saat melihat langsung pesawat di Kuta Cane, saya cuma bisa berbisik dalam hati: suatu hari saya akan naik pesawat itu, apa pun caranya,” ujar Pak Ali disambut tawa oleh segenap peserta yang hadir. Selain berbagi kisah pribadinya, Pak Ali juga menceritakan pertemuannya dengan sejumlah tokoh nasional, seperti Bung Hatta, Soemitro Djojohadikoesoemo, Daud Beureueh, Hasan Tiro, dan B.J. Habibie. Ia mengungkapkan bahwa Bung Hatta adalah sosok yang menyemangatinya untuk menuliskan kisah hidupnya. “Pak Hatta bilang langsung ke saya, ‘Ali, kamu harus menulis kisah hidupmu. Ini penting untuk generasi muda.’ Itu yang membuat saya mulai serius menulis,” jelas Pak Ali. Dorongan itu melahirkan buku otobiografi Penumpang Gelap yang kemudian banyak dibaca dan dikagumi, termasuk oleh calon istrinya sendiri, yang kelak ia temui dan nikahi di Indonesia. Sementara itu, pertemuannya dengan B.J. Habibie terjadi di sebuah bukit di Paris, di mana Pak Ali dan Mantan Presiden Indonesia ke-3 itu berdiskusi panjang mengenai pembangunan Aceh, termasuk rencana menghidupkan kembali jalur kereta api Aceh yang belum sempat terwujud. “Pak Habibie bilang ke saya, dia ingin membangun Aceh dengan menghidupkan kembali jalur kereta api. Tapi takdir berkata lain, beliau keburu dilengserkan,” ujar Pak Ali dengan nada haru. Pak Ali hadir di lokasi acara dengan pakaian santai, kaos berkerah putih, celana jeans biru, sepatu putih, lengkap dengan topi dan kacamata. Ia didampingi oleh istrinya, Suryati, serta anak perempuan mereka. Acara yang dipandu langsung oleh Yulia Erni, berlangsung dalam suasana akrab dan penuh antusiasme. Pesertapun terlihat aktif menyimak dan berebutan untuk melayangkan pertanyaan yang bermuara dialog panjang. Di penghujung ceritanya tadi, Pak Ali menyampaikan pesan yang menjadi inti dari perjalanan hidupnya sekaligus warisan pemikiran yang ingin ia tularkan kepada generasi muda, “Kita harus berani merantau, menulis, dan membaca,” Menurutnya, tiga hal sederhana ini merantau, menulis, dan membaca adalah kunci yang telah membuka banyak pintu dalam hidupnya. Merantau mengajarkannya tentang dunia dan keberanian, menulis membuatnya diingat dan dikenang, sementara membaca membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Merantau membuat saya berani keluar dari kampung, dari zona nyaman. Menulis membuat saya bisa merekam hidup saya, dan membaca membuat saya mengerti hidup orang lain,” jelasnya. Pak Ali berharap agar generasi muda Aceh, khususnya peserta yang hadir hari itu, tidak ragu untuk bermimpi besar, dan menjelajah dunia.

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa

July 23, 2025
Syech Muharram Sebut Bahan Baku Aceh Besar Melimpah, Tapi Produksi Semen Minim

Syech Muharram Sebut Bahan Baku Aceh Besar Melimpah, Tapi Produksi Semen Minim

October 25, 2025
Jelang Idul Fitri 1447 H, Pertamina dan Dinas ESDM Aceh Pastikan Takaran BBM dan Stok Elpiji Aman di Banda Aceh

Jelang Idul Fitri 1447 H, Pertamina dan Dinas ESDM Aceh Pastikan Takaran BBM dan Stok Elpiji Aman di Banda Aceh

February 26, 2026

Popular Stories

  • Tingkat Pengangguran Usia Muda Tinggi, Indonesia Berjuang Ciptakan Lapangan Kerja

    Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Review Laporan Keuangan Bank Aceh Syariah (I) ; Triliunan Dana Diinvestasikan ke Luar Aceh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • Contact Us

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?