Bagi sebagian remaja, keinginan untuk terlihat ideal justru berubah menjadi tekanan yang menggerus kesehatan fisik dan mental.
Oleh: Dinda Fitria, Mahasiswa Psikologi UIN Ar Raniry.
TINJAUAN.ID | Mari perhatikan isi piring makan remaja perempuan hari ini. Nasi yang dulu menjadi makanan utama, kini sering disisihkan. Di kafe atau kantin sekolah, mereka tampak seperti biasa; bercanda, tertawa, sibuk dengan ponsel. Namun dibalik itu, tidak sedikit yang diam-diam menahan lapar, menghitung kalori secara obsesif, bahkan sengaja melewatkan waktu makan.
Fenomena ini, diakui atau tidak, bukan muncul begitu saja. Perlahan, “kurus” disamakan dengan “cantik”, dan kemudian dianggap sebagai “sehat”. Padahal, persepsi tersebut tidak selalu benar. Bagi sebagian remaja, keinginan untuk terlihat ideal justru berubah menjadi tekanan yang menggerus kesehatan fisik dan mental.
Di Aceh, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Arus media sosial yang begitu kuat tidak hanya membentuk selera, tetapi juga cara pandang remaja terhadap diri mereka sendiri, bahkan mulai menggeser nilai-nilai yang sebelumnya menjadi pegangan hidup.
Perubahan cara pandang ini terlihat jelas dari bagaimana remaja menilai tubuhnya sendiri. Data Riskesdas tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 15–20% remaja perempuan di Aceh merasa dirinya “gemuk”, padahal secara medis mereka berada pada kategori normal, bahkan ada yang kurang (Kemenkes.go.id). Artinya, persoalan yang dihadapi remaja kini bukan semata-mata fisik, tetapi cara memandang diri.
Dalam kajian psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Body Dysmorphic Disorder (BDD), yaitu ketika seseorang terus merasa ada yang kurang dari tubuhnya, meskipun tidak demikian secara objektif.
Perasaan tidak puas ini kemudian mendorong berbagai perilaku berisiko. Salah satunya mengurangi makan secara ekstrem, menghindari jenis makanan tertentu, atau membatasi asupan secara tidak sehat. Dalam jangka pendek mungkin terlihat “berhasil”, tetapi tanpa disadari, tubuh menyimpan dampaknya di masa mendatang.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berkembang menjadi anoreksia nervosa, gangguan makan serius yang tidak hanya berdampak pada penurunan berat badan, tetapi juga mengganggu keseimbangan hormon, melemahkan tulang, dan menurunkan fungsi kognitif akibat kurangnya nutrisi. Di titik inilah, persoalan tidak lagi tentang penampilan, tapi sudah menjadi persoalan kesehatan yang nyata dan lebih berbahaya.
Media Sosial dan Tekanan yang Tak Terlihat
Lalu, dari mana tekanan ini berasal? Salah satu sumber terbesarnya adalah media sosial. Ya, media sosial.
Hari ini, standar kecantikan tidak lagi dibentuk secara alami, melainkan diproduksi dan disebarkan melalui layar ponsel. Influencer dan selebgram tampil dengan tubuh yang tampak sempurna, yang kemudian dijadikan acuan oleh banyak remaja.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial sering kali telah melalui proses panjang—filter, editing, hingga manipulasi visual. Namun, remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri cenderung membandingkan dirinya secara langsung dengan gambaran tersebut.
Perbandingan inilah yang perlahan berubah menjadi tekanan. Untuk mengejar standar itu, sebagian remaja menempuh jalan instan: menggunakan produk diet tanpa kejelasan izin, mengonsumsi pencahar, hingga memuntahkan kembali makanan.
Dalam perspektif psikologi, perilaku ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan respon terhadap kecemasan dan tuntutan sosial yang mereka rasakan.
Padahal, cara sehat tidak pernah instan. Berat badan ideal hanya dapat dicapai melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan istirahat yang cukup. Lebih dari itu, aktivitas fisik seharusnya dipahami sebagai bentuk penghargaan terhadap tubuh, bukan sekadar upaya mengubah bentuknya.
Memaknai Cantik dan Menguatkan Peran Lingkungan
Di tengah kuatnya tekanan tersebut, penting untuk kembali bertanya: sebenarnya, cantik itu untuk siapa?
Sebagai remaja Islam atau muslimah, kita harus menyadari, tubuh bukanlah objek untuk memenuhi standar manusia, melainkan amanah yang harus dijaga.
Menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah, sementara menyiksa diri demi memenuhi ekspektasi sosial justru menjauh dari makna syukur itu sendiri. Pun begitu dengan konsep qana’ah dalam Islam, yang mengajarkan untuk menerima dengan lapang apa yang telah diberikan. Dari sinilah muncul cara pandang yang lebih sehat, bahwa kecantikan tidak hanya terletak pada fisik, tetapi juga pada ketenangan hati, akhlak, dan rasa syukur yang terpancar dalam kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, kesadaran ini tidak bisa tumbuh sendiri. Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuknya. Keluarga, misalnya, menjadi pondasi utama dalam membangun kepercayaan diri anak. Komentar sederhana tentang fisik, jika terus diulang, dapat membentuk cara pandang negatif terhadap diri sendiri. Sebaliknya, dukungan dan penerimaan dapat menjadi pelindung dari tekanan luar.
Di sisi lain, sekolah dan pemerintah perlu memperkuat literasi media dan edukasi kesehatan mental. Remaja perlu memahami bahwa apa yang mereka lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Mereka juga perlu dibekali pengetahuan tentang pola hidup sehat agar tidak mudah terjebak pada cara-cara instan yang justru merusak diri.
Ketika keluarga, pendidikan, dan lingkungan berjalan seiring, remaja tidak hanya tumbuh sehat secara fisik, tetapi juga kokoh secara mental dan spiritual. Sehingga mereka akan menyadari dengan sendirinya, bahwa kecantikan bukan tentang angka di timbangan atau ukuran pakaian. Kecantikan adalah tentang bagaimana seseorang memperlakukan tubuhnya dengan penuh tanggung jawab—merawatnya, menjaganya, dan mensyukurinya.
Tubuh ini adalah amanah. Ia bukan untuk disiksa, tetapi untuk dijaga, dirawat, dan digunakan dalam kebaikan. Maka menjadi muslimah bukanlah tentang memenuhi standar yang terus berubah, melainkan tentang menjaga fitrah yang telah Allah titipkan—melalui pola makan yang baik, aktivitas yang sehat, serta akhlak dan keimanan yang terus diperbaiki. Karena, pada akhirnya, yang akan dimintai pertanggungjawaban bukanlah seberapa kurus tubuh kita, tetapi bagaimana kita menjaganya.
Dan di tengah semua standar yang datang silih berganti itu, satu hal tetap sederhana dan tidak berubah yang tentu harus kita sadari dan garis bawahi sebagai prinsip hidup seorang muslimah, bahwa cantik itu sehat, dan sehat itu, adalah wujud nyata dari rasa syukur atas ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala.










Discussion about this post