BANDA ACEH – Bersamaan dengan lounching platform tanggapi.acehprov.id, pemerintah Aceh juga telah memperkenalkan sebuah logo yang bertajuk “Centang Gajah”, sebuah logo yang merupakan donasi desain dari Iskandar, dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.
Logo ini menjadi kontribusi penting dalam mendukung penguatan sistem pengaduan publik dan penanggulangan bencana berbasis data.
“Dashboard Tanggapi Aceh dirancang sebagai ruang digital yang menghubungkan laporan masyarakat dengan sistem respons pemerintah secara lebih terstruktur, cepat, dan terukur,” terang Iskandar.
Dalam konteks kebencanaan, platform ini menjadi bagian penting dalam menghimpun data lapangan secara partisipatif, sehingga membantu proses pengambilan keputusan yang lebih akurat dan responsif.
Selain sebagai akademisi, Iskandar juga menjabat sebagai Direktur Media pada Yayasan Perspektif Kemanusiaan Indonesia (HUMANSIGHT), sebuah lembaga yang aktif mendorong pengembangan sistem informasi inklusif untuk penanganan bencana di Aceh. Keterlibatan ini menjadi landasan konseptual dalam perancangan logo, yang tidak hanya mempertimbangkan aspek visual, tetapi juga fungsi dan konteks penggunaannya.
Secara visual, “Centang Gajah” memadukan stilisasi kepala gajah dengan elemen centang yang terintegrasi dalam bentuk belalai. Gajah sebagai simbol identitas Aceh merepresentasikan kekuatan, kebijaksanaan, dan keteguhan. Dalam konteks pelayanan publik dan kebencanaan, simbol ini dimaknai sebagai kesiapsiagaan serta komitmen untuk merespons setiap kondisi masyarakat secara serius dan berkelanjutan.
Belalai gajah yang membentuk alur lengkung dinamis merepresentasikan jalur pengaduan dan aliran data yang bergerak dari tahap penerimaan laporan, verifikasi, hingga tindak lanjut. Sementara bentuk centang menegaskan orientasi pada aksi dan penyelesaian, sebagai penanda bahwa setiap laporan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi diproses hingga menghasilkan respons nyata.
Elemen ornamen yang menyatu dalam struktur visual logo menjadi representasi kepedulian terhadap ragam hias dan kearifan lokal Aceh. Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi digital dapat tetap berpijak pada identitas budaya.
Dalam tradisi visual Islam, ornamen tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi sebagai simbol keteraturan, kesinambungan, dan harmoni. Nilai tersebut diterjemahkan ke dalam sistem visual yang mencerminkan alur kerja yang terstruktur dan berkelanjutan.
Dari sisi warna, biru digunakan untuk merepresentasikan integritas, profesionalitas, dan kepercayaan terhadap institusi, sementara hijau melambangkan harapan, pertumbuhan, serta kepedulian sosial. Kombinasi ini mencerminkan keseimbangan antara stabilitas sistem pemerintahan dan dinamika partisipasi masyarakat.
“Melalui donasi desain ini, “Centang Gajah” tidak hanya hadir sebagai identitas visual, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun sistem pelayanan publik yang lebih responsif, inklusif, dan berbasis data,” ia menjelaskan.
Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat peran dashboard Tanggapi Aceh sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah, khususnya dalam situasi darurat dan kebencanaan, baik di masa kini dan di masa yang mendatang.[]











Discussion about this post