TINJAUAN.ID | Membiasakan anak membaca buku sering dianggap urusan sekolah. Padahal penelitian menunjukkan fondasinya dibangun di rumah, bahkan sejak anak masih bayi.
Buku bukan sekadar hiburan, ia memperkaya bahasa, kosakata, dan kemampuan membaca anak yang kelak menopang seluruh proses belajarnya. Berikut alasan ilmiah mengapa kebiasaan ini layak dimulai sedini mungkin, lengkap dengan cara praktis menumbuhkannya di rumah.
1. Kemampuan Bahasa Anak Dibangun dari Buku Sejak Bayi
Banyak orang tua baru mulai membacakan buku ketika anak sudah bisa bicara. Riset menunjukkan manfaatnya sudah terasa jauh sebelumnya.
Sebuah studi dari NYU School of Medicine memantau lebih dari 250 ibu dan bayi dari usia 6 bulan hingga 4,5 tahun. Hasilnya, kualitas kegiatan membaca buku pada masa bayi memprediksi kemampuan membaca awal anak, dan pengaruhnya pada bahasa serta literasi masih terlihat sampai sekitar empat tahun kemudian.
Kata kuncinya adalah kualitas. Anak yang orang tuanya mengobrol tentang isi buku, misalnya menyebut nama gambar atau perasaan tokoh, lebih mungkin memiliki keterampilan literasi awal yang baik.
Temuan serupa datang dari studi acak di Marshall University. Keluarga yang membacakan setidaknya satu buku per hari sejak bayi berusia dua minggu menunjukkan skor bahasa yang lebih baik pada usia sembilan bulan. Peneliti juga mencatat bahwa sesi membaca tidak perlu panjang atau sempurna. Sesi singkat yang sering sudah bermanfaat, bahkan ketika bayi bergerak atau hanya bertahan beberapa halaman.
2. Buku Memperkenalkan Bahasa yang Lebih Kaya daripada Obrolan Sehari-hari
Mengapa membaca buku begitu membantu? Salah satu penjelasannya terletak pada ragam bahasanya. Sebuah studi tentang interaksi alami orang tua dan anak menemukan bahwa bahasa yang dipakai orang tua saat membacakan buku lebih kompleks dibanding bahasa percakapan harian. Jumlah interaksi membaca buku pun terkait langsung dengan capaian bahasa dan literasi anak.
Studi lain dari Hong Kong menemukan bahwa usia pertama kali anak dibacakan buku berkaitan dengan frekuensi membaca di masa prasekolah serta kemampuan bahasa dan kognitif anak. Para peneliti menyimpulkan bahwa membacakan buku pada anak yang sangat kecil berperan dalam menciptakan lingkungan literasi yang baik di rumah.
Sebuah studi Amerika tahun 2015 yang dikutip dalam rangkuman riset juga menemukan bahwa mainan tradisional, termasuk buku, lebih efektif meningkatkan jumlah dan kualitas bahasa anak dibanding mainan elektronik.
4. Kebiasaan Membaca Tidak Terbentuk Sendiri
Tanpa pembiasaan, minat baca anak bisa tergerus. Di Finlandia, negara yang lama dikenal punya sistem pendidikan unggul, hasil PISA 2025 menunjukkan skor membaca remajanya kembali turun. Peneliti nasional PISA di sana menyebut berkurangnya membaca buku cetak dan menurunnya ketekunan sebagai bagian dari penyebabnya. Hanya 41 persen siswa Finlandia yang mengaku berusaha lebih keras saat tugas terasa sulit.
Di Indonesia, PISA 2018 menempatkan literasi membaca siswa di peringkat 74 dari 79 negara peserta. Angka ini tentu tidak bisa disederhanakan menjadi satu penyebab. Namun ia menjadi pengingat bahwa kebiasaan membaca perlu dirawat, dimulai dari rumah, bukan hanya diserahkan kepada sekolah.
Di Indonesia, PISA 2018 menempatkan literasi membaca siswa di peringkat 74 dari 79 negara peserta. Angka ini tentu tidak bisa disederhanakan menjadi satu penyebab. Namun ia menjadi pengingat bahwa kebiasaan membaca perlu dirawat, dimulai dari rumah, bukan hanya diserahkan kepada sekolah.
5. Cara Membiasakan Anak Membaca Buku
Anak perlu dibiasakan membac buku mulai sejak dini. Bayi pun sudah bisa dibacakan buku. Tidak perlu menunggu anak lancar bicara.
Orangtua perlu menjadikan baca buku sebagai rutinitas. Tentukan waktu tetap, misalnya sebelum tidur. Kebiasaan yang rutin lebih penting daripada durasi yang panjang.
Ajak anak mengobrol tentang buku. Tanyakan gambar apa yang ia lihat, atau bagaimana perasaan tokohnya. Inilah bagian yang menurut penelitian NYU paling berdampak.
Beri contoh dengan memperlihatkan orangtua membaca buku. Anak cenderung meniru kebiasaan orang tua. Biarkan ia melihat Anda membaca.
Biarkan anak memilih bukunya. Buku yang sesuai minatnya membuat membaca terasa menyenangkan, bukan tugas.
Orangtua sebaiknya mengulangi membaca buku favorit anaknya. Pengulangan dan keakraban justru membantu anak belajar.
Manfaatkan perpustakaan dan sudut baca. Sediakan buku yang mudah dijangkau di rumah.
Sejak Usia Berapa Anak Sebaiknya Dibacakan Buku?
Studi yang dibahas di atas menunjukkan manfaat sejak masa bayi, bahkan dimulai pada usia anak dua minggu, menurut penelitian Marshall University.
Berapa lama sebaiknya membaca setiap hari? Penelitian pada bayi menekankan sesi singkat yang sering. Tidak ada angka menit pasti yang terbukti ideal untuk semua anak, jadi sesuaikan dengan kemampuan perhatian anak.
Bagaimana jika anak tidak suka membaca? Hindari memaksa. Pilih topik yang ia sukai, bacakan bersama, dan jadikan waktu membaca momen yang hangat.
Membiasakan anak membaca buku adalah investasi sederhana dengan manfaat yang terdukung riset: bahasa yang lebih kaya, kemampuan membaca awal yang lebih baik, dan lingkungan belajar yang lebih hangat di rumah.
Kuncinya bukan buku yang mahal atau sesi yang panjang, melainkan konsistensi dan kebersamaan. Mulailah dari sepuluh menit malam ini, dengan satu buku yang disukai anak Anda.[]











Discussion about this post