ACEH UTARA — Pelabuhan Krueng Geukueh di Aceh Utara dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pintu utama ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Aceh ke pasar global. Ekonom dan profesional energi asal Aceh, Ali Mulyagusdin, menilai penguatan fungsi Pelabuhan Krueng Geukueh menjadi semakin penting di tengah penerapan sistem ekspor komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Ali, yang saat ini menjabat Direktur Utama PT Jabung Gas Energi dan sebelumnya merupakan Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (PEMA), menyebut Aceh menghadapi persoalan serius dalam tata kelola ekspor CPO.
Menurutnya, produksi CPO Aceh yang mencapai sekitar satu juta ton per tahun belum sebanding dengan volume yang benar-benar diekspor melalui pelabuhan di Aceh.
Dalam tulisannya yang dipublikasikan pada 2 September 2026, Ali mengungkapkan bahwa sepanjang tujuh bulan pertama 2026, Pelabuhan Krueng Geukueh melayani pengiriman 32.668 metrik ton CPO ke pasar global melalui PT Aceh Makmur Bersama dan PT Agro Murni.
“Namun, angka tersebut masih sangat kecil dibandingkan potensi produksi CPO Aceh,” ujarnya.
Ali menyebut produksi CPO Aceh diperkirakan sekitar satu juta ton per tahun, sementara hanya sekitar 70.000 ton yang selama ini berangkat melalui pelabuhan lokal seperti Krueng Geukueh dan Calang.
Sebaliknya, sekitar 930.000 ton CPO disebut mengalir keluar Aceh melalui jalur darat menuju Sumatera Utara menggunakan ribuan perjalanan truk tangki setiap tahun.
Pelabuhan Krueng Geukueh Sudah Memiliki Rekam Jejak
Menurut Ali, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Aceh bukan semata-mata produksi, tetapi juga bagaimana membangun sistem logistik dan perdagangan yang memungkinkan komoditas daerah diekspor langsung dari wilayah asalnya.
“Pelabuhan Krueng Geukueh sebenarnya sudah menunjukkan kapasitas untuk memainkan peran tersebut,” katanya.
Pengiriman CPO melalui pelabuhan di Aceh Utara itu telah berlangsung sepanjang 2026. Dengan adanya aktivitas ekspor tersebut, Krueng Geukueh memiliki basis pengalaman untuk dikembangkan menjadi pusat logistik dan ekspor komoditas sawit Aceh.
Ali menilai penguatan pelabuhan akan memberikan manfaat lebih luas dibandingkan sekadar memindahkan titik keberangkatan kapal.
Menurutnya, semakin banyak CPO Aceh yang diekspor melalui pelabuhan sendiri, semakin baik pula pencatatan asal komoditas, aktivitas perdagangan, serta potensi penerimaan ekonomi yang berkaitan dengan rantai logistik tersebut.
Jangan Sampai CPO Aceh Terus Keluar Lewat Jalan Darat
Ali menyoroti besarnya biaya ekonomi dari pola distribusi CPO melalui jalur darat menuju Sumatera Utara.
Dalam tulisannya, ia memperkirakan pola tersebut menimbulkan biaya logistik sekitar Rp372 miliar per tahun, belum termasuk dampak terhadap infrastruktur jalan akibat tingginya intensitas angkutan kendaraan berat.
Persoalan lainnya adalah pencatatan asal komoditas. Ketika CPO yang diproduksi di Aceh dibawa melalui jalur darat dan kemudian diekspor dari wilayah Sumatera Utara, komoditas tersebut berpotensi tercatat dalam statistik ekspor sebagai bagian dari provinsi tujuan. Kondisi inilah yang menurut Ali perlu diperbaiki melalui penguatan pelabuhan ekspor di Aceh.
Momentum Sistem Ekspor Satu Pintu
Ali melihat penerapan sistem ekspor satu pintu melalui DSI sebagai momentum untuk membenahi persoalan tersebut.
Sistem baru itu dirancang untuk memperkuat pengawasan perdagangan komoditas strategis, termasuk CPO, terutama berkaitan dengan kepatuhan harga dan transparansi transaksi ekspor.
“Penguatan pengawasan di tingkat nasional harus diikuti dengan pembenahan infrastruktur dan rantai logistik di daerah,” ujar Ali.
Artinya, ketika sistem nasional semakin tertib mencatat perdagangan CPO, Aceh juga harus memastikan komoditasnya memiliki pintu ekspor yang kuat di wilayah sendiri.
Dalam konteks tersebut, Krueng Geukueh dinilai memiliki peluang besar untuk mengambil peran.
Investasi Pelabuhan Krueng Geukueh Butuh Rp700 Miliar
Ali juga mengungkap adanya kajian yang menempatkan modernisasi Pelabuhan Krueng Geukueh sebagai proyek yang layak dikembangkan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Dalam kajian yang dikutipnya, kebutuhan investasi modernisasi pelabuhan diperkirakan mencapai sekitar Rp700 miliar, dengan proyeksi pengembalian investasi tujuh hingga delapan tahun dan potensi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah sekitar Rp40 miliar per tahun.
Menurut Ali, investasi tersebut bukan hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas pelabuhan, tetapi juga dengan upaya membangun ekosistem perdagangan dan logistik CPO Aceh.
Efisiensi rantai pasok dari pelabuhan yang lebih dekat dengan sentra produksi sawit juga berpotensi meningkatkan harga yang diterima petani.
Ali menyebut efisiensi tersebut berpotensi meningkatkan harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani hingga sekitar Rp150 per kilogram.
Krueng Geukueh dan Masa Depan Ekonomi Aceh
Penguatan Pelabuhan Krueng Geukueh juga menjadi semakin relevan dengan rencana pengembangan konektivitas perdagangan Aceh melalui jalur laut.
“Dengan posisi geografisnya di Aceh Utara dan kedekatannya dengan sejumlah sentra produksi, Krueng Geukueh memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya sebagai pelabuhan bongkar muat, tetapi sebagai simpul perdagangan internasional Aceh,” terang mantan Dirut PT PEMA ini.
Bagi Ali, persoalannya kini bukan apakah Aceh memiliki komoditas untuk diekspor. Aceh memiliki produksi sawit, gas, hasil pertanian, dan berbagai komoditas lainnya.
Tantangannya adalah memastikan komoditas tersebut keluar melalui infrastruktur perdagangan yang berada di wilayah Aceh sehingga manfaat ekonominya lebih banyak tertahan di daerah. Karena itu, penguatan Krueng Geukueh menjadi salah satu pilihan strategis.
“Ketika sistem satu pintu benar-benar menutup celah pelaporan komoditas, minyak sawit Aceh harus memiliki pintu keberangkatannya sendiri,” ujarnya.
Dengan demikian, kebijakan ekspor satu pintu tidak hanya menjadi agenda pemerintah pusat, tetapi juga dapat menjadi momentum bagi Aceh untuk membangun sistem ekspor yang lebih mandiri.
Krueng Geukueh berada di posisi penting dalam agenda tersebut. Dari sekadar pelabuhan pengiriman CPO menjadi pintu perdagangan Aceh menuju pasar internasional.[]











Discussion about this post