Tidak ada yang keliru dengan memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang berubah dalam diri kita setelah Maulid selesai?
Oleh: Hadi Irfandi, S. Pd. — Pengamat Sosial Kepemudaan di Islamic Civilization In Malay Archipelago Forum (ICOMAF).
TINJAUAN.ID | Setiap tahun umat Islam kembali memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Masjid dan majelis dipenuhi jamaah, selawat dilantunkan, kisah kehidupan Rasulullah ﷺ disampaikan, dan berbagai nasihat tentang akhlak beliau mengemuka. Setelah rangkaian acara berakhir, kehidupan pun kembali berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang keliru dengan memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang berubah dalam diri kita setelah Maulid selesai?
Maulid semestinya tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Ia dapat menjadi ruang untuk kembali mengenal Rasulullah ﷺ, memahami perjalanan dakwah dan perjuangan beliau, menumbuhkan kecintaan kepada beliau, lalu membuktikan kecintaan tersebut melalui sikap ittiba’, yakni mengikuti petunjuk dan teladan yang beliau ajarkan. Keteladanan itu tidak hanya berada dalam wilayah ibadah dan akhlak pribadi, tetapi juga menyentuh kehidupan bermasyarakat dan kepemimpinan.
Dari Mengenal Menuju Mengikuti
Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup diwujudkan melalui rasa kagum atau ungkapan cinta. Ada proses yang semestinya menyertainya: mengenal beliau, memahami perjuangan beliau, mencintainya, kemudian berusaha mengikuti ajaran dan teladannya.
Dalam kerangka itu, ma’rifat melahirkan mahabbah, sedangkan mahabbah semestinya mengantarkan seseorang kepada ittiba’. Semakin seseorang mengenal Rasulullah ﷺ, idealnya semakin kuat pula dorongannya untuk menjadikan beliau sebagai pedoman dalam kehidupan.
Karena itu, mempelajari sirah Nabi tidak seharusnya hanya membuat kita hafal berbagai peristiwa sejarah. Sirah juga perlu dibaca sebagai sumber keteladanan. Perjalanan Rasulullah ﷺ di Madinah, misalnya, memperlihatkan bagaimana beliau membangun masyarakat, menyelesaikan persoalan publik, mengambil keputusan, dan menjalankan kepemimpinan.
Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang guru yang menyampaikan ajaran ibadah. Dalam kehidupan masyarakat Madinah, beliau juga menjalankan fungsi kepemimpinan publik. Karena itu, pembicaraan mengenai keteladanan Nabi semestinya tidak berhenti pada kesalehan personal, tetapi juga mencakup bagaimana beliau memimpin dan mengelola kehidupan masyarakat.
Lalu, mengapa keteladanan Rasulullah ﷺ dalam akhlak dan ibadah begitu sering dibicarakan, sementara dimensi kepemimpinan dan kehidupan politik beliau justru kerap dikesampingkan?
Ketika Keteladanan Nabi Dipersempit
Kita tentu mengenal Rasulullah ﷺ sebagai sosok yang jujur, amanah, penyayang, rendah hati, dan tekun beribadah. Semua itu merupakan bagian penting dari keteladanan beliau.
Namun, keteladanan Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada karakter pribadi.
Di Madinah, beliau juga tampil sebagai pemimpin masyarakat. Beliau terlibat dalam penyelesaian berbagai persoalan, mengatur urusan publik, membuat kesepakatan, mengangkat pihak yang menjalankan tugas pemerintahan, dan memimpin masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Gambaran mengenai besarnya pengaruh Rasulullah ﷺ dalam sejarah bahkan tercermin dalam karya Michael Hart yang menempatkan Nabi Muhammad ﷺ di posisi pertama dalam daftar tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah.
Penilaian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh Rasulullah ﷺ tidak hanya terlihat dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam kemampuannya membentuk masyarakat dan peradaban.
Di sinilah muncul sebuah ironi.
Kita dapat begitu khusyuk menghadiri Maulid, mengenakan pakaian terbaik, melantunkan selawat, dan tersentuh ketika mendengar kisah kehidupan Rasulullah ﷺ. Namun, setelah acara berakhir, persoalan seperti ketidakjujuran, korupsi, ketimpangan, praktik ekonomi yang bermasalah, dan penyalahgunaan kekuasaan masih terus berlangsung.
Kita memuji Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin yang amanah, tetapi belum tentu menjadikan prinsip amanah itu sebagai standar ketika menjalankan kehidupan publik.
Jika demikian, kecintaan kepada Nabi berisiko berhenti sebagai simbol dan seremoni. Padahal, Rasulullah ﷺ meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman yang tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga dipahami, diamalkan, dan disampaikan kepada manusia.
Ketika Agama Dipisahkan dari Kehidupan
Persoalan lain muncul ketika agama ditempatkan hanya sebagai urusan pribadi, sementara kehidupan sosial, ekonomi, hukum, dan politik dianggap harus berjalan dengan ukuran yang sepenuhnya terpisah dari agama.
Cara pandang semacam ini pada akhirnya membuat keteladanan Rasulullah ﷺ menjadi terbatas. Seseorang bisa merasa telah mengikuti Nabi karena rajin beribadah dan berusaha memperbaiki akhlak pribadi, tetapi pada saat yang sama menganggap urusan masyarakat dan politik tidak memiliki hubungan dengan ajaran Islam.
Padahal, kehidupan Rasulullah ﷺ menunjukkan keterkaitan antara berbagai dimensi tersebut.
Beliau mengajarkan ibadah, membina keluarga, memperbaiki hubungan sosial, memperhatikan kelompok yang lemah, membangun kehidupan ekonomi yang adil, sekaligus memimpin masyarakat.
Karena itu, ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ semestinya tidak dipahami secara parsial. Keteladanan beliau dapat menjadi inspirasi dalam membangun karakter pribadi sekaligus dalam menjalankan amanah sosial dan kepemimpinan.
Kita dapat menemukan kontradiksi ketika peringatan Maulid berlangsung begitu meriah, tetapi persoalan yang ada di sekitar masyarakat tidak menjadi perhatian. Ada yang begitu bersemangat memuji akhlak Rasulullah ﷺ, tetapi masih memandang jabatan sebagai sarana memperoleh keuntungan pribadi. Ada pula yang mencintai Nabi secara emosional, tetapi tidak tertarik memahami bagaimana beliau membangun kehidupan masyarakat.
Padahal, jika Rasulullah ﷺ benar-benar ditempatkan sebagai teladan, maka semangat mengikuti beliau seharusnya juga tercermin dalam cara kita memandang persoalan publik.
Islam dan Kehidupan yang Tidak Terpisah
Islam memandang kehidupan manusia sebagai sesuatu yang utuh. Hubungan manusia dengan Allah tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan pula dengan bagaimana manusia menjalankan tanggung jawabnya terhadap sesama.
Karena itu, Rasulullah ﷺ menjadi teladan dalam banyak aspek kehidupan: ibadah, keluarga, akhlak, hubungan sosial, ekonomi, kepemimpinan, dan kehidupan bermasyarakat.
Al-Qur’an menegaskan bahwa kecintaan kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasul-Nya:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat tersebut memberikan penekanan penting bahwa cinta bukan hanya persoalan perasaan. Cinta kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ.
Begitu pula cinta kepada Rasulullah ﷺ semestinya tidak berhenti pada pujian, selawat, atau rasa haru ketika mendengar kisah beliau. Cinta perlu diterjemahkan menjadi usaha untuk memahami ajaran dan meneladani kehidupan beliau.
Dalam keluarga, Rasulullah ﷺ menunjukkan kasih sayang dan kelembutan. Dalam hubungan sosial, beliau mengajarkan keadilan dan kepedulian terhadap mereka yang lemah. Dalam kehidupan masyarakat, beliau menjalankan tanggung jawab kepemimpinan dan mengatur berbagai urusan publik.
Dengan demikian, kesalehan tidak semestinya hanya diukur dari hubungan seseorang dengan Allah, tetapi juga dari bagaimana ia menjalankan amanah dan memperlakukan manusia.
Menempatkan Kepemimpinan Nabi sebagai Teladan
Jika Rasulullah ﷺ dijadikan teladan dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan keluarga, maka aspek kepemimpinan beliau juga layak dipelajari sebagai bagian dari sirah.
Ketika berada di Madinah, Rasulullah ﷺ menghadapi persoalan masyarakat secara langsung. Beliau menjadi rujukan dalam berbagai persoalan, menyelesaikan perselisihan, membuat kesepakatan, mengatur urusan masyarakat, serta menjalankan fungsi kepemimpinan.
Karena itu, kehidupan politik dan kepemimpinan tidak seharusnya langsung dikeluarkan dari pembahasan mengenai keteladanan Rasulullah ﷺ.
Namun, mempelajari kepemimpinan Nabi bukan berarti sekadar menyalin bentuk-bentuk pemerintahan masa lalu secara mekanis. Yang lebih penting adalah memahami prinsip, nilai, tanggung jawab, dan orientasi kepemimpinan yang ditunjukkan Rasulullah ﷺ, lalu menjadikannya bahan refleksi dalam kehidupan umat.
Di sinilah Maulid dapat memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan hanya momentum untuk mengenang kelahiran seorang manusia mulia, tetapi juga kesempatan untuk bertanya apakah kehidupan kita semakin dekat dengan nilai-nilai yang beliau ajarkan.
Maulid sebagai Momentum Perubahan
Hari ini umat Islam memiliki Al-Qur’an, Sunnah, dan warisan kehidupan Rasulullah ﷺ yang dapat dipelajari. Tantangannya bukan semata-mata menemukan sumber keteladanan, melainkan bagaimana menjadikan sumber tersebut benar-benar hidup dalam perilaku.
Karena itu, Maulid seharusnya mendorong perubahan dari sekadar mengenang menuju mengamalkan; dari sekadar mengagumi menuju mengikuti; dan dari sekadar merayakan menuju membangun kehidupan yang lebih sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Kecintaan kepada Nabi tidak cukup dibuktikan dengan seberapa meriah sebuah perayaan Maulid. Ukurannya juga dapat dilihat dari sejauh mana ajaran dan akhlak beliau hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Khatimah
Pada akhirnya, memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen dalam mengikuti beliau.
Kita tidak cukup hanya mencintai Nabi sebagai pribadi yang mulia. Kita juga perlu mempelajari perjuangan, ajaran, akhlak, dan kepemimpinannya. Jangan sampai kecintaan kepada Rasulullah ﷺ hanya hadir dalam majelis-majelis Maulid, tetapi tidak terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan.
Maulid akan memiliki makna yang lebih dalam apabila mampu menggerakkan kita dari sekadar cinta menuju ittiba’, dari kekaguman menuju keteladanan, dan dari seremoni menuju perubahan nyata.
Nabi bukan sekadar untuk dicintai dan dipuji. Beliau dihadirkan sebagai teladan untuk dikenal, diikuti, dan diwujudkan nilai-nilainya dalam kehidupan.









Discussion about this post