BANDA ACEH — Pemulihan infrastruktur pascabencana di Aceh masih berlangsung. Data Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat per 30 Agustus 2026 menunjukkan masih terdapat ratusan pekerjaan infrastruktur yang dalam proses penanganan.
Untuk sektor jembatan, Aceh menjadi provinsi dengan jumlah sasaran terbesar, yakni 676 jembatan. Dari jumlah tersebut, 188 jembatan telah selesai, sementara 490 jembatan masih dalam proses.
Secara keseluruhan di tiga provinsi terdampak, terdapat 1.227 sasaran penanganan jembatan. Sebanyak 574 telah selesai dan 653 masih dalam proses. Dengan demikian, sekitar 46,8 persen sasaran jembatan telah diselesaikan.
Di Aceh, pekerjaan tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Bener Meriah tercatat memiliki sasaran jembatan terbesar, mencapai 142 unit, dengan 7 telah selesai dan 135 masih dalam proses. Selanjutnya Gayo Lues memiliki 99 sasaran, 2 selesai dan 97 dalam proses; Aceh Tengah 85 sasaran, 39 selesai dan 46 dalam proses; serta Aceh Utara 73 sasaran, 39 selesai dan 34 dalam proses.
Jalan: 1.545 Penanganan Daerah Sudah Fungsional
Untuk sektor jalan, data Satgas mencatat di Aceh terdapat 46 penanganan jalan oleh pemerintah pusat yang telah fungsional, tanpa penanganan pusat yang tercatat belum fungsional.
Sementara pada penanganan jalan daerah, terdapat 1.545 ruas/penanganan yang sudah fungsional dan 93 yang masih belum fungsional. Data tersebut bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum per 28 Agustus 2026.
Sebaran penanganan jalan daerah cukup besar di sejumlah wilayah. Aceh Tamiang tercatat 334 penanganan yang sudah fungsional, disusul Bener Meriah 318, Aceh Utara 191, Aceh Timur 133, Pidie Jaya 114, dan Aceh Tengah 106.
Bendungan dan Irigasi Masih Didominasi Pekerjaan Berjalan
Selain jalan dan jembatan, pemulihan juga mencakup bendungan Dari 66 sasaran bendungan di tiga provinsi, baru 5 yang selesai, sementara 61 masih dalam proses. Aceh memiliki 54 sasaran bendungan, dengan 2 selesai dan 52 masih dalam proses.
Di Aceh, konsentrasi pekerjaan bendungan antara lain berada di Aceh Utara dengan 19 sasaran, Pidie Jaya 15, Bireuen 10, dan Aceh Selatan 2.
Kondisi serupa terlihat pada jaringan irigasi. Dari 96 sasaran daerah irigasi di tiga provinsi, 15 unit yang selesai, sedangkan 81 masih dalam proses. Aceh memiliki 67 sasaran, tetapi baru 1 yang selesai dan 66 masih dalam proses.
Penanganan Sungai dan Muara
Untuk penanganan sungai, terdapat 137 sasaran di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebanyak 47 telah selesai, sementara 90 masih dalam proses.
Aceh memiliki 31 sasaran sungai, dengan 14 selesai dan 17 dalam proses. Beberapa pekerjaan berada pada wilayah lintas kabupaten, seperti Aceh Tenggara–Gayo Lues serta Aceh Utara–Aceh Timur.
Sementara untuk muara, terdapat 38 sasaran di tiga provinsi. Sebanyak 7 telah selesai dan 31 masih dalam proses. Aceh memiliki 23 sasaran, dengan 2 selesai dan 21 masih dalam proses. Pekerjaan tersebar antara lain di Aceh Barat, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Banda Aceh, Nagan Raya, Pidie, dan Pidie Jaya.
Aceh Masih Menjadi Titik Terbesar Pemulihan
Jika melihat keseluruhan data, Aceh memiliki beban pemulihan infrastruktur yang jauh lebih besar dibanding dua provinsi lainnya, terutama pada jembatan, jalan, bendungan, daerah irigasi, sungai, dan muara.
Untuk jembatan saja, dari 1.227 sasaran di tiga provinsi, 676 berada di Aceh atau sekitar 55 persen. Namun baru 188 yang selesai sehingga sekitar 72 persen sasaran jembatan Aceh masih dalam proses.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan membuka kembali akses transportasi, tetapi juga menyangkut pemulihan sistem pengairan, sungai, bendung, dan kawasan muara yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Data ini merupakan update kegiatan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana bertanggal 30 Agustus 2026, dengan sumber data teknis yang dicantumkan berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum per 28 Agustus 2026.[]












Discussion about this post