Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Di Balik Laba BUMN Rp335 Triliun: Menakar Transformasi Danantara

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
August 24, 2026
Reading Time: 5 mins read
0
Laba BUMN Melonjak Signifikan pada Semester I 2026, Kesuksesan Transformasi Danantara

TINJAUAN.ID | Klaim keberhasilan transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah ekosistem Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai terlihat dari satu angka besar, laba konsolidasi BUMN 2025 disebut mencapai sekitar Rp335 triliun.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan angka tersebut dalam Jogja Financial Festival pada Mei 2026. Untuk 2026, Danantara bahkan membidik laba BUMN sekitar Rp360 triliun.

Di permukaan, angka tersebut menunjukkan lompatan besar. Namun, ketika angka itu ditempatkan dalam konteks kinerja BUMN beberapa tahun terakhir, struktur laba, impairment, serta proses konsolidasi yang sedang berlangsung, kesimpulannya menjadi lebih kompleks.

Pertanyaannya bukan lagi apakah BUMN menghasilkan laba. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa besar laba tersebut benar-benar mencerminkan pertumbuhan bisnis, dan berapa bagian yang muncul dari normalisasi aset, efisiensi struktural, serta perubahan metode konsolidasi?

Laba BUMN dari Rp304 Triliun ke Rp335 Triliun

Sebagai pembanding, laba konsolidasi BUMN pada 2024 berada di kisaran Rp304 triliun, turun sekitar 7,03 persen dari 2023 yang mencapai sekitar Rp327 triliun. Pendapatan konsolidasi 2024 berada di sekitar Rp3.128–3.142 triliun, sementara total aset mendekati Rp11.000 triliun.

Dengan basis tersebut, angka laba 2025 sebesar Rp335 triliun berarti kenaikan sekitar 10 persen dibanding angka Rp304 triliun pada 2024.

Angka itu memang positif. Tetapi jauh berbeda dengan narasi bahwa laba BUMN melonjak sekitar 75 persen.

Persentase kenaikan yang sangat besar tersebut muncul apabila angka laba 2025 dibandingkan dengan basis laba setelah impairment, bukan dengan laba konsolidasi BUMN tahun sebelumnya.

Penting membedakan pertumbuhan laba aktual dengan rebound setelah penyesuaian akuntansi.

Pada Januari 2026, Dony Oskaria menjelaskan bahwa laba BUMN 2025 secara normalisasi berada di sekitar Rp332 triliun. Namun setelah pencatatan impairment sekitar Rp55 triliun, laba bersih yang diperkirakan ditutup berada di kisaran Rp280–285 triliun, dengan kemungkinan koreksi hingga sekitar Rp295 triliun.

Beberapa bulan kemudian, angka yang disampaikan kepada publik berubah menjadi sekitar Rp335 triliun.

Perubahan ini tidak otomatis berarti ada kesalahan. Bisa saja terdapat perbedaan basis pelaporan, koreksi konsolidasi, atau perlakuan terhadap impairment. Namun justru karena itulah rekonsiliasi angka tersebut penting dipublikasikan.

Tanpa rekonsiliasi, publik sulit mengetahui apakah Rp335 triliun merupakan laba bersih final setelah seluruh penyesuaian atau kembali menggunakan angka normalisasi.

Masalah berikutnya adalah status laporan keuangan.

Danantara sendiri pada Mei 2026 menyatakan laporan keuangan pertamanya masih menjalani proses konsolidasi dan audit. Lembaga tersebut menjelaskan bahwa prosesnya mencakup konsolidasi laporan berbagai BUMN sekaligus eliminasi transaksi antarperusahaan untuk mencegah penghitungan ganda.

Pada akhir Juli 2026, laporan keuangan Danantara juga belum dipublikasikan secara utuh. Dony menjelaskan proses penyusunannya dibantu konsultan keuangan dan memasuki tahap pre-audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan.

Ini menjadi catatan penting.

Sebab, semakin besar angka yang diklaim, semakin besar pula kebutuhan terhadap audit independen, rekonsiliasi, dan keterbukaan metodologi.

Dengan kata lain, Rp335 triliun sebaiknya diposisikan sebagai angka kinerja yang disampaikan Danantara, bukan sebagai angka final yang telah sepenuhnya diverifikasi publik melalui laporan keuangan audited Danantara.

Danantara Memang Memiliki Mesin Laba yang Besar

Terlepas dari persoalan pelaporan, tidak tepat pula jika seluruh capaian BUMN dianggap semata-mata sebagai hasil Danantara.

Sebelum Danantara berdiri, BUMN sudah memiliki mesin laba yang sangat besar.

Pada 2023, laba BUMN mencapai sekitar Rp327 triliun. Pada 2024, laba konsolidasi berada sekitar Rp304 triliun. Artinya, sebagian besar kapasitas menghasilkan laba memang sudah terdapat di dalam portofolio BUMN sebelum pembentukan Danantara.

Sektor perbankan, energi, pertambangan, dan telekomunikasi menjadi tulang punggung utama.

Karena itu, keberhasilan Danantara tidak cukup diukur dari apakah BUMN menghasilkan laba. Yang harus dibuktikan adalah apakah Danantara mampu membuat laba tersebut tumbuh lebih cepat, lebih stabil, lebih produktif, dan berasal dari basis perusahaan yang semakin sehat. Itulah ukuran transformasi yang lebih substantif.

Konsolidasi Menjadi Sumber Efisiensi Besar

Di sisi lain, transformasi struktural Danantara memang menghasilkan perubahan yang cukup besar.

Pemerintah menyebut ketika proses restrukturisasi dimulai terdapat sekitar 1.074–1.077 entitas BUMN, termasuk berbagai anak, cucu, dan cicit perusahaan. Hingga akhir Juli 2026, sekitar 250 entitas telah ditutup, digabung, atau dikonsolidasikan, menurut Presiden Prabowo Subianto.

Versi lain dari laporan pemerintah menyebut 274 entitas telah ditata hingga 31 Juli 2026. Danantara menargetkan sekitar 652 perusahaan akan hilang dari struktur BUMN sehingga jumlah akhirnya menjadi sekitar 250 entitas. Efisiensi yang diklaim juga bukan kecil.

Presiden Prabowo menyebut konsolidasi sekitar 250 entitas telah menghemat biaya overhead sekitar Rp50 triliun, terutama dari biaya direksi, komisaris, gedung, transportasi, perjalanan dinas, dan berbagai biaya rutin lainnya. Pemerintah memperkirakan penghematan tersebut dapat meningkat menjadi sekitar Rp70–80 triliun pada akhir tahun.

Jika angka penghematan itu benar-benar terealisasi dan berulang setiap tahun, dampaknya terhadap profitabilitas BUMN memang signifikan.

Tetapi terdapat satu pertanyaan penting: Apakah penghematan overhead tersebut akan menjadi sumber pertumbuhan laba permanen, atau sebagian besar hanya merupakan keuntungan satu kali dari restrukturisasi?

Jawaban atas pertanyaan ini baru dapat terlihat dalam beberapa tahun ke depan.

Laba BUMN Bukan Cermin 1.000 Perusahaan

Ada persoalan lain yang sering hilang dalam narasi laba jumbo BUMN, yaitu konsentrasi laba. Kinerja agregat BUMN tidak berarti seluruh perusahaan pelat merah sama-sama sehat.

Sejumlah perusahaan besar menghasilkan laba sangat besar dan mampu menopang perusahaan lain yang kinerjanya lemah. Karena itu, angka laba konsolidasi Rp300-an triliun lebih tepat dibaca sebagai kinerja sebuah portofolio raksasa, bukan rata-rata kinerja lebih dari seribu entitas.

Struktur seperti ini membuat konsolidasi Danantara masuk akal secara ekonomi.

Jika perusahaan yang memiliki fungsi serupa, anak usaha yang tumpang tindih, atau struktur holding yang terlalu berlapis dapat digabung, biaya dapat ditekan dan modal dapat dialihkan ke bisnis yang lebih produktif.

Namun konsekuensinya juga jelas, laba agregat tidak boleh menjadi satu-satunya indikator keberhasilan.

Return on equity, return on invested capital, arus kas, produktivitas aset, pertumbuhan pendapatan, leverage, kualitas investasi, serta kontribusi dividen kepada negara harus ikut diperiksa.

Target Rp360 Triliun: Tidak Terlalu Jauh, tetapi Ujiannya Berat

Target laba BUMN sebesar Rp360 triliun pada 2026 sebenarnya tidak terlihat mustahil jika menggunakan basis Rp335 triliun. Kenaikannya hanya sekitar 7,5 persen.

Namun tantangannya adalah memastikan kenaikan tersebut berasal dari peningkatan produktivitas, bukan sekadar keuntungan restrukturisasi atau perubahan basis pelaporan.

Danantara juga telah menyebut agenda transformasi yang mencakup merger, konsolidasi, hilirisasi, dan proyek-proyek strategis. Setidaknya 41 proyek, terdiri dari 20 proyek hilirisasi dan 21 program transformasi, disebut tengah berjalan.

Jika proyek-proyek tersebut berhasil meningkatkan pendapatan dan arus kas, target Rp360 triliun dapat menjadi indikator awal bahwa reformasi mulai menghasilkan pertumbuhan organik.

Tetapi jika laba naik terutama karena pemotongan biaya dan pengurangan jumlah entitas, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang terjadi setelah penghematan satu kali tersebut habis?

Ukuran Keberhasilan Bukan Sekadar Rp360 Triliun

Danantara sedang menjalankan salah satu restrukturisasi korporasi negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Karena itu, keberhasilannya tidak seharusnya dinilai hanya dari angka laba.

Setidaknya ada lima indikator yang layak diperhatikan publik:

Pertama, kualitas laba. Apakah laba berasal dari operasi bisnis yang berkelanjutan atau dari faktor nonberulang?

Kedua, kualitas aset. Apakah restrukturisasi benar-benar menghasilkan portofolio yang lebih sehat setelah impairment dan penghapusan aset bermasalah?

Ketiga, produktivitas modal. Apakah aset BUMN yang nilainya mencapai ribuan triliun menghasilkan return yang semakin tinggi?

Keempat, kontribusi fiskal. Apakah kenaikan laba diikuti peningkatan dividen, pajak, dan penerimaan negara lainnya tanpa mengorbankan kemampuan BUMN untuk berinvestasi?

Kelima, transparansi. Apakah publik dapat memeriksa angka tersebut melalui laporan keuangan konsolidasi yang audited dan metodologi yang jelas?

Danantara tidak sedang diuji apakah mampu membuat BUMN terlihat menguntungkan. BUMN memang sudah menghasilkan laba jauh sebelum Danantara lahir.

Yang sedang diuji adalah apakah Danantara mampu mengubah kumpulan besar perusahaan negara tersebut menjadi portofolio yang lebih ramping, lebih produktif, lebih transparan, dan menghasilkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan.

Ukuran transformasi yang sesungguhnya adalah apakah laba tersebut tetap tumbuh setelah efek restrukturisasi mereda, dan apakah setiap rupiah aset negara menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar daripada sebelumnya.

Di situlah klaim transformasi Danantara akan benar-benar diuji oleh angka.

Tags: binisbumnDanantaraEKonomiindonesia
ShareTweetSendShare

Related Posts

Dua Dekade Otsus Aceh, Pemeriksaan BPK Temukan Indikasi Triliunan Rupiah Menguap
Laporan dan Analisis

Dua Dekade Otsus Aceh, Pemeriksaan BPK Temukan Indikasi Triliunan Rupiah Menguap

August 25, 2026
Prabowo: Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi harus Memperbaiki Kehidupan Rakyat
Ekonomi

Prabowo: Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi harus Memperbaiki Kehidupan Rakyat

August 14, 2026
Jejak Kebijakan Positif Pemerintah Kota Banda Aceh: Tinjauan 2024–2026
Daerah

Jejak Kebijakan Positif Pemerintah Kota Banda Aceh: Tinjauan 2024–2026

August 13, 2026
Hokkop Situngkir Perkuat Strategi Biomassa PLN EPI, Buka Ruang Akselerasi Ekonomi Aceh
Daerah

Hokkop Situngkir Perkuat Strategi Biomassa PLN EPI, Buka Ruang Akselerasi Ekonomi Aceh

August 13, 2026
Gubernur Aceh dan Bank Mustaqim Aceh Raih Penghargaan Nasional Top BUMD Se-Indonesia
Ekonomi

Capaian Kinerja BPR Mustaqim Aceh: Peran BUMD Syariah yang Berdampak

August 13, 2026
Laba BUMN Melonjak Signifikan pada Semester I 2026, Kesuksesan Transformasi Danantara
Ekonomi

Laba BUMN Melonjak Signifikan pada Semester I 2026, Kesuksesan Transformasi Danantara

August 13, 2026
Next Post
‎‎‎YARA Minta Kasus Penganiayaan Siswa SMA di Bener Meriah Ditindak Tegas 

‎‎‎YARA Minta Kasus Penganiayaan Siswa SMA di Bener Meriah Ditindak Tegas 

Taufik Jadi Plt Sekda Aceh, Wagub Dek Fadh: Jaga Integritas dan Bangun Komunikasi yang Baik

Taufik Jadi Plt Sekda Aceh, Wagub Dek Fadh: Jaga Integritas dan Bangun Komunikasi yang Baik

Discussion about this post

Recommended Stories

Aceh Rebut Delapan Medali di Kejurnas Angkat Besi Senior

Aceh Rebut Delapan Medali di Kejurnas Angkat Besi Senior

April 21, 2026
Menjawab Kritik Usman Lamreung: Penataan Birokrasi Aceh Besar Adalah Upaya Membenahi Warisan Masalah Masa Lalu

Menjawab Kritik Usman Lamreung: Penataan Birokrasi Aceh Besar Adalah Upaya Membenahi Warisan Masalah Masa Lalu

May 30, 2026
Pemerintah Aceh Kembali Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pecabencana, Tetapkan Enam Langkah Prioritas

Pemerintah Aceh Kembali Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pecabencana, Tetapkan Enam Langkah Prioritas

April 29, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!