TINJAUAN.ID | Dalam bulan Rabiul Awal, ada baiknya kita tidak hanya merayakan Maulid sebagai selebrasi Khanduri setelah menonton penampilan Dike, tapi mari sejenak kembali membaca beberapa catatan yang ditulis oleh seorang yang berasal dari luar Aceh (Outsider) terkait perayaan Maulid (selanjutnya ditulis Molod).
Menariknya, salah satu catatan itu justru datang bukan dari seorang ulama Aceh, bukan pula dari seorang pelaku Molod, melainkan dari seorang Christiaan Snouck Hurgronje (1857โ1936)
Nama Snouck tentu bukan nama yang netral dalam sejarah Aceh. Ia adalah orientalis Belanda, sarjana yang menguasai bahasa Arab dan kajian Islam, yang kemudian bekerja sebagai penasihat pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Pengetahuan antropologis dan keislamannya dipergunakan pemerintah kolonial untuk memahami struktur masyarakat Aceh dan merumuskan kebijakan dalam menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Karena itu, membaca Snouck harus selalu dilakukan secara kritis: ia seorang ilmuwan, tetapi pada saat yang sama bagian dari perangkat kekuasaan kolonial.
Kajian-kajian sejarah juga menunjukkan pengaruh kuat nasihat Snouck dalam kebijakan kolonial menghadapi ulama dan masyarakat Aceh. Namun justru di situlah letak menariknya. Di tengah kepentingannya mempelajari Aceh, Snouck meninggalkan catatan yang memperlihatkan betapa dalamnya penghormatan masyarakat Aceh kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam The Achehnese, Volume I, Bab II tentang kalender, perayaan, dan musim masyarakat Aceh, ia memberikan perhatian cukup panjang kepada tradisi Molod. Edisi bahasa Inggris buku tersebut diterbitkan di Leiden pada 1906.
Yang pertama kali menarik perhatian adalah nama bulan itu sendiri. Bagi masyarakat Aceh yang dicatat Snouck, Rabiul Awal bukan sekadar Rabiul Awal. Ia disebut Buleun Molod. Bahkan bulan sesudahnya, Rabiul Akhir, disebut Adoe Molod (adik Maulid). Jumadil Awal disebut Molod Seuneulheueh (Maulid yang terakhir).
Bayangkan maknanya. Kelahiran Nabi bukan hanya dikenang pada satu tanggal. Ia bahkan memberi nama kepada tiga bulan dalam kosakata masyarakat. Di sini Molod telah melampaui sebuah acara. Ia masuk ke dalam cara masyarakat Aceh menandai waktu.
Molod sebagai Tanggung Jawab Gampong
Snouck bahkan menggunakan ungkapan yang cukup kuat. Menurut catatannya, orang Aceh memandang penyelenggaraan Molod sebagai sesuatu yang secara khusus mengikat masyarakat mereka.
Ia mencatat sebuah tradisi lisan yang menghubungkan kewajiban tersebut dengan hubungan Aceh dan Turki Utsmani serta kisah meriam Lada Sicupak. Dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat Aceh itu, Sultan Turki disebut meminta agar penghormatan tahunan diwujudkan bukan dalam bentuk upeti, tetapi dengan memastikan setiap gampong mengadakan peringatan kelahiran Nabi.
Tentu bagian tersebut harus dibaca sebagai legenda historis yang dicatat Snouck, bukan otomatis sebagai fakta sejarah yang telah terbukti seluruh rinciannya. Tetapi yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi dalam struktur sosial Aceh sesudahnya.
Snouck mencatat: โkepala sebuah gampong yang tidak mempersiapkan penyelenggaraan Molod pada waktunya dapat dikenai denda oleh uleebalang karena dianggap melalaikan kewajibannya.โ
Catatan ini penting. Artinya, Molod pada masyarakat Aceh masa itu bukan semata kesalehan privat. Ia telah menjadi bagian dari Reusam (tata kehidupan sosial masyarakat).
Ada pemimpin yang mengatur. Ada masyarakat yang berpartisipasi. Ada meunasah yang menjadi pusat kegiatan. Ada tamu yang diundang. Ada makanan yang disediakan bersama. Ada zikir dan riwayat Nabi yang dibacakan. Dengan kata lain, cinta kepada Nabi memperoleh bentuk sosial.
Meunasah Menjadi Pusat Molod
Dalam catatan Snouck, tempat penyelenggaraan Molod adalah Meunasah. Harinya ditentukan setiap tahun oleh kepala gampong. Penentuan itu tidak sembarangan. Waktunya dipilih agar tidak berbenturan dengan pekerjaan dan kepentingan masyarakat. Bahkan jadwal antar gampong dalam satu mukim diatur agar tidak berdekatan karena masyarakat dari gampong lain akan menjadi tamu dalam kenduri tersebut.
Ini bagian yang menarik. Lebih dari satu abad lalu, Molod ternyata telah memperlihatkan apa yang hari ini mungkin kita sebut sebagai manajemen sosial berbasis gampong.
Geuchik tidak hanya memerintah, Tengku tidak hanya mengajar, Masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Semua mengambil bagian. Kepala keluarga membawa hidang sesuai kemampuan. Masyarakat dari gampong lain datang sebagai tamu, Undangan disampaikan melalui perangkat gampong. Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas bahkan dapat bergabung beberapa keluarga untuk menyediakan satu hidang.
Maka kenduri Molod sebenarnya menyimpan beberapa lapis makna sekaligus: ibadah, pendidikan, silaturahmi, sedekah, penghormatan kepada tamu dan penguatan solidaritas sosial. Inilah sebabnya Molod Aceh tidak cukup dibaca hanya dari berapa banyak hidangan yang tersusun di atas hidang namun dibalik itu, ada suatu arsitektur sosial di belakangnya
Catatan Snouck juga menarik bagi sejarah intelektual Islam Aceh. Ia mencatat beberapa teks maulid yang digunakan masyarakat. Diantaranya karya yang dinisbahkan kepada Bukhari dan karya Jaโfar Barzanji. Salah satu teks yang sangat populer disebut Maulid Syaraf al-Anam, yang dalam pengucapan Aceh dicatat Snouck sebagai Charapha Anam.
Ia juga menyebut teks-teks Barzanji digunakan di Aceh. Pembacaannya dilakukan oleh Tengku dan para Leube. Bagian prosa dibaca secara bergantian, sementara bagian syair dilantunkan. Pada salah satu bagian pujian kepada Rasulullah SAW, mereka berdiri dan melantunkannya bersama-sama. Setelah pembacaan tersebut, acara ditutup dengan doa sebelum masyarakat menikmati kenduri.
Catatan ini membawa kita kepada satu kesimpulan penting: Molod Aceh sejak dahulu bukan hanya tradisi makan bersama. Molod juga merupakan tradisi membaca. Orang-orang mendengar kisah kelahiran Nabi, perjalanan hidup beliau, sifat-sifatnya dan syair-syair pujian kepadanya.
Dalam masyarakat yang belum mengenal sekolah modern seperti hari ini, kegiatan semacam itu memiliki fungsi transmisi pengetahuan. Riwayat Nabi tidak hanya tersimpan dalam kitab di rak-rak dayah, tetapi berpindah dari suara teungku ke telinga masyarakat.Dari generasi kepada generasi.
Salah satu bagian paling mengesankan dalam catatan Snouck adalah panjangnya rentang perayaan. Kenduri tidak harus selesai pada 12 Rabiul Awal. Ia dapat dilaksanakan sepanjang Buleun Molod, diteruskan pada Adoe Molod, bahkan sampai Molod Seuneulheuh. Snouck secara eksplisit mencatat bahwa kenduri yang dianggap penting oleh masyarakat Aceh tersebut dapat diselenggarakan pada Rabiul Awal ataupun dua bulan sesudahnya.
Dengan demikian, bagi orang Aceh dahulu, Maulid seperti tidak cukup dirayakan dalam sehari. Kegembiraan itu diperpanjang. Rumah berganti menjadi tuan rumah. Gampong berganti menjadi penyelenggara. Satu mukim berkunjung kepada mukim dan gampong lainnya. Kenduri menjadi ruang perjumpaan. Dalam bahasa agama, kegembiraan terhadap karunia Allah memiliki landasan yang kuat. Al-Qur’an menyatakan:
ูููู ุจูููุถููู ุงูููููู ููุจูุฑูุญูู ูุชููู ููุจูุฐููฐูููู ููููููููุฑูุญููุง
โKatakanlah: dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.โ (QS. Yunus: 58) Al-Qur’an juga menggambarkan diutusnya Rasulullah ๏ทบ sebagai karunia kepada orang-orang beriman:
ููููุฏู ู ูููู ุงูููููู ุนูููู ุงููู ูุคูู ูููููู ุฅูุฐู ุจูุนูุซู ูููููู ู ุฑูุณููููุง ู ููู ุฃูููููุณูููู ู
โSungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri.โ (QS. Ali โImran: 164)
Tentu pembahasan fikih mengenai bentuk perayaan Maulid memiliki sejarah dan argumentasinya sendiri. Tetapi dalam konteks Aceh, yang sedang kita baca di sini adalah sesuatu yang lain: bagaimana kecintaan kepada Rasulullah SAW diterjemahkan menjadi kebudayaan dan solidaritas masyarakat.
Sisi yang Perlu Perhatian dalam Catatan Snouck Hurgronje
Menariknya, catatan lama tersebut juga memberi bahan untuk melakukan introspeksi terhadap perayaan Molod hari ini. Snouck mencatat bahwa terkadang muncul persaingan antarmasyarakat untuk menghadirkan idang yang lebih mewah. Persaingan itu dapat berkembang sedemikian rupa sehingga kepala gampong harus menetapkan batas agar masyarakat tidak berlebihan.
Ternyata lebih dari seratus tahun yang lalu masalah yang kita kenal hari ini sudah ada: semangat memuliakan hari besar dapat bergeser menjadi perlombaan penampilan.
Sebuah pelajaran penting bahwa kemegahan Molod tentu merupakan bagian dari ekspresi kegembiraan. Tetapi jangan sampai keluarga yang kurang mampu merasa harus berutang hanya karena malu jika hidangnya lebih sederhana daripada tetangganya.
Jika dahulu beberapa keluarga yang kurang mampu diperbolehkan bergabung menyediakan satu hidang, maka disitulah sebenarnya terdapat pesan yang sangat Islami: Molod bukan tempat mempertontonkan kelas sosial. Tujuan kenduri adalah mempertemukan, bukan membedakan.
Tentu kita tidak harus menerima semua penilaian Snouck terhadap agama dan budaya Aceh. Beberapa bagian The Achehnese memperlihatkan pandangan khas orientalis Eropa zamannya dan harus dibaca dengan kritik historiografis. Tetapi data yang dicatatnya tetap berharga.
Ada ironi sejarah di sini. Seorang penasihat kolonial datang mempelajari Aceh untuk memahami kekuatan masyarakatnya. Namun dari catatan orang yang berada di pihak kolonial itu pula, lebih dari satu abad kemudian, kita dapat melihat betapa kuatnya jejak kecintaan orang Aceh kepada Rasulullah SAW.
Ia menemukan Molod di Meunasah, Ia melihat Tengku dan Leube membaca riwayat Nabi, Ia menyaksikan masyarakat membawa hiding, Ia mencatat Geuchik mengatur harinya, Ia menemukan Rabiul Akhir disebut Adoe Molod. Ia bahkan menemukan Jumadil Awal masih disebut Molod Seuneulheueh. Mungkin inilah bagian yang paling menarik dari semuanya.
Kolonialisme dapat menguasai wilayah, tetapi ternyata jauh lebih sulit menghapus apa yang sudah hidup dalam ingatan, bahasa dan kebiasaan masyarakat. Molod adalah salah satu contohnya. Karena itu pekerjaan generasi kita bukan sekadar mempertahankan ramainya kenduri. Yang lebih penting ialah menjaga ruh di balik kenduri: mengenal Rasulullah SAW, membaca sirahnya, meneladani akhlaknya, bersedekah, memuliakan tamu, mempererat silaturahmi dan memastikan yang miskin ikut bergembira.
Jangan sampai idangnya tetap tinggi, tetapi pengetahuan kita tentang orang yang sedang diperingati justru semakin tipis.
Jangan sampai tiga bulan masih disebut bulan Molod, tetapi shalawat hanya tinggal bunyi tanpa meninggalkan bekas pada akhlak. Sebab warisan terbesar Molod Aceh bukanlah banyaknya hidangan, Warisan terbesarnya adalah bagaimana Indatu Aceh (nenek moyang) kita pernah berusaha menjadikan cinta kepada Nabi sebagai reusam kehidupan bersama. Dan menariknya, jejak cinta itu begitu kuat sehingga seorang โTeungku Putehโ pun merasa perlu mencatatnya. Wallahu aโlam.
Oleh: Ihsan Sulis, Penikmat Khazanah keislaman, kebudayaan serta ke-Acehan.
Referensi:
C. Snouck Hurgronje, The Achehnese, Vol. I, Bab II, edisi bahasa Inggris, Leiden: Late E.J. Brill, 1906.
Edisi Indonesia: Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial, penerjemah Ruslani, editor Endah Raharjo, Yogyakarta, 2019.










Discussion about this post