Bireuen — Kepulan asap yang memenuhi ruang sederhana menjadi pemandangan yang menarik perhatian mahasiswa KPM Mandiri Gampong Blang Lancang UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe saat berkunjung ke salah satu tempat pembuatan garam milik masyarakat Gampong Blang Lancang pada Senin, 3 Agustus 2026.
Kedatangan mahasiswa KPM disambut dengan senyuman hangat dan keramahan warga yang sedang menjalankan aktivitasnya. Meskipun tengah sibuk bekerja, warga tetap menyempatkan diri untuk berbincang dan menjelaskan kepada mahasiswa mengenai proses pembuatan garam yang menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat Gampong Blang Lancang.
Suasana pun terasa begitu akrab, mahasiswa tidak hanya mengamati dari kejauhan tetapi turut berinteraksi dan berbincang bersama warga. Dari percakapan sederhana tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat sekaligus melihat secara langsung salah satu potensi ekonomi yang masih dijalankan secara tradisional.
Di tempat produksi tersebut, mahasiswa menyaksikan seorang ibu yang sedang tekun mengolah air garam menggunakan tungku tradisional. Air garam dimasak dalam wadah besar dengan memanfaatkan panas dari pembakaran kayu, proses pemanasan dilakukan hingga kandungan air menguap dan menyisakan butiran-butiran garam.
Kepulan asap dan panas dari tungku seolah menjadi bagian dari keseharian warga dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Dengan alat yang sederhana, sang ibu tetap terlihat sabar dan teliti mengaduk serta mengolah air garam.
Di samping tungku, terlihat pula tumpukan garam yang telah dihasilkan dari proses sebelumnya. Sambil melanjutkan pekerjaannya, ibu tersebut dengan ramah menjelaskan kepada mahasiswa KPM Mandiri Gampong Blang Lancang UIN Sultanah Nahrasiyah mengenai proses pembuatan garam.
“Air garamnya dimasak sampai airnya habis dan tinggal garamnya. Setelah itu dikumpulkan, kemudian dikeringkan lagi sebelum dijual,” jelasnya.
Penjelasan singkat tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa proses menghasilkan garam membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Setiap butir garam yang terkumpul merupakan hasil dari proses yang dilakukan secara berulang dan penuh ketekunan.
Bagi mahasiswa KPM Mandiri Gampong Blang Lancang UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, pemandangan tersebut memberikan kesan tersendiri. Mereka melihat bagaimana masyarakat tetap bekerja dengan gigih meskipun harus berhadapan dengan panasnya tungku dan kepulan asap, kesederhanaan peralatan yang digunakan tidak mengurangi semangat warga untuk terus menghasilkan garam sebagai salah satu sumber penghidupan keluarga.
Lebih dari sekadar melihat proses produksi, kunjungan tersebut juga mempererat hubungan antara mahasiswa KPM Mandiri Gampong Blang Lancang UIN Sultanah Nahrasiyah dan masyarakat Gampong Blang Lancang. Keramahan warga, obrolan ringan, serta keterbukaan mereka dalam berbagi pengalaman membuat mahasiswa merasa diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat selama menjalankan pengabdian.
Dari kunjungan sederhana itu, mahasiswa KPM Mandiri UIN Sultanah Nahrasiyah belajar bahwa di balik sesuatu yang terlihat sederhana, terdapat cerita perjuangan yang begitu berarti.
Di balik asap yang mengepul dan butiran garam yang terkumpul, tersimpan kisah tentang tangan-tangan yang tak lelah bekerja, kesabaran yang terus dijaga, serta kegigihan masyarakat Blang Lancang dalam mempertahankan sumber penghidupan mereka.[]











Discussion about this post