Oleh: Muarrief Rahmat, S.Pd., Gr, Guru BK SMK Negeri 1 Lhokseumawe
Pendahuluan
Selama ini, Guru Bimbingan Konseling (BK) terkesan pada ruang kerja yang tidak terlalu terukur dan terstruktur. Hal ini dikarenakan belum adanya pola yang menggunakan bahasa-bahasa psikologis yang dalam praktiknya terasa berat. Selain itu, peran serta Guru BK dalam beberapa periode belakangan ini, kebijakan mengenai prioritas Guru BK dalam lingkungan sekolah belumlah menjadi sesuatu yang diperhitungkan. Maka, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, pada tahun 2025 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikasmen) Republik Indonesia menghadirkan program “7 Jurus BK Hebat”. Program strategis ini telah ada legacy-nya melalui Peratuan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru. Lalu, bagaimana 7 Jurus BK Hebat ini diharapkan dapat menjadikan sekolah sebagai sebuah ekosistem pendidikan yang berpihak kepada murid?
Saya pertama sekali mendengar program 7 Jurus BK Hebat ini dalam sebuah postingan instagram @kemendikdasmen pada tahun lalu. Jujur, pemilihan kata 7 Jurus BK Hebat ini secara bahasa komunikasi publik mengenai kebijakan pemerintah, saya kira tepat. Sebab program ini akan menarik masyarakat pendidikan untuk mencari tahu lebih lanjut apa-apa saja jurusnya yang akan diterapkan kemudian hari. Alih-alih, menggunakan kata lain misalnya ‘Penguatan Kerja Guru BK untuk Indonesia Cemerlang’. Jika ada nama program untuk masa kini, pemilihan katanya sudah usang. Maka, upaya Kemdikdasmen RI memilih 7 Jurus BK Hebat sudah sesuai.
Sebagai alumni Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bidang Studi Bimbingan Konseling (Konselor), sebelum menerapkan 7 Jurus BK Hebat ini, saya membaca secara mendalam bagaimana program ini dapat diterapkan baik dalam skala yang kecil maupun besar. Ternyata program ini mengedepankan Social Emotional Learning (SEL) seperti yang pernah saya pelajari saat kuliah PPG sebelumnya. Lebih lanjut, saya akan membahas 7 Jurus BK Hebat di bawah ini.
Pembahasan
Saat ini saya mengajar di SMK Negeri 1 Lhokseumawe, terhitung sejak November 2025 lalu. Sekolah yang berada di bawah Pemerintah Aceh ini melalui Dinas Pendidikan mendukung adanya program 7 Jurus BK Hebat. Ini ditandai dari salah satu rekan saya, Koordinator BK diundang untuk mengikuti Bimbingan Teknis sebagai fasilitator 7 Jurus BK Hebat ini. Darinya, saya mendapatkan informasi mengenai bagaiman pendekatan 7 Jurus BK Hebat ini diterapkan kepada murid. Tidak hanya untuk jenjang satuan pendidikan menengah atas saja, 7 Jurus BK Hebat ini ternyata dapat diterapkan ke semua jenjang pendidikan.
Salah satu jurus yang sudah saya terapkan yaitu jurus pertama adalah Kenali Potensi. Pada jurus ini, Guru BK dapat mengenali minat dan bakat murid agar dapat berkembang lebih optimal sesuai dengan perkembangannya. Hal ini dapat kita lakukan dengan membantu murid mengeksplorasi potensi, minat, dan bakat melalui teknik asesmen pendidikan. Misalnya mengetehaui kecerdasan majemuk, gaya belajar, hingga pengenalan minat dan bakat. Beberapa waktu belakangan, saya bertemu dengan salah satu murid untuk konseling individual. Sehari sebelumnya ia bermain di luar kelas pada jam mata pelajaran, bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali serta ia sudah pernah mendapatkan layanan konseling individual sebelumnya. Saya pun mengajaknya untuk mengobrol lebih dalam terkait ‘kendala’ yang dihadapinya. Alih-alih menggunakan kata ‘masalah’, menurut saya lebih cocok dan lebih halus menggunakan kata kendala. Sebab, kata kendala artinya ada sesuatu yang belum diketahui oleh konseli yaitu murid tersebut terkait informasi yang akan memudahkannya mengambil keputusan.
Awalnya ia terkesan menutup diri menyampaikan apa kendala utamanya. Guru BK pada proses ini, perlu melihat kasus murid sebagai fenomena es mengapung. Yang nampak di permukaan hanyalah bongkahan es kecil, padahal di bawahnya ada bongkahan es besar lainnya. Dalam pandangan konseling, fenomena ini yang nampak kecil ini hanyalah perantara awal atau gejala awal dari kendala sebenarnya setelah didiskusikan secara mendalam dengan murid. Pada kasus murid tadi, ternyata setelah saya tanyakan pilihan karier dan cita-citanya, ia belum mampu menjawab dan masih bingung memilih jurusan saat kuliah. Maka, saya arahkan ia untuk mengenali potensinya sesusuai jurus pertama dari 7 Jurus BK Hebat menggunakan Tes RIASEC untuk minat jurusannya. Tes menggunakan aplikasi berbasis website yaitu akupintar.id. Murid hanya perlu menjawab 24 butir pertanyaan terkait informasi dirinya tentang minat dan bakat. Hasil yang didapatkan sebesar 100 persen ia memliki kecenderungan yang kuat pada tipe sang kreator dan sang inisiator. Selebinya pada rata-rata 70 persen ia adalah sang eksekutor, diikuti sang penyelidik, sang organisator dan berpotensi menjadi sang kolaborator. Lalu, karir yang disarankan yaitu desainer grafis, penulis kreatif, musisi, dan forografer. Jika merujuk pada Tes RIASEC (Realistic, Investigative, Artistic, Social, Enterprising, Convensional), maka siswa saya ini cenderung pada Artistic. Artinya ia mempunyai ciri-ciri pribadi yang kreatif, ekspresif, inovatif, dan suka bekerja pada lingkungan yang tidak terstruktur. Pribadi yang seperti ini juga suka menikmati ekspresi diri melalui seni, musik, tulisan, atau drama. Ia juga cenderung menghindari pekerjaan yang sangat terstruktur atau monoton. Lalu, profesi yang cocok dengan kategori artistik ini yaitu seniman, desainer grafis, musisi, penulis, aktor, dan arsitek. Hal ini sesuai dengan apa yang saya baca Modul Jurus 1 Kenali Potensi 7 Jurus BK Hebat.
Berkaca pada kendala dan kasus murid saya tadi, setelah saya konseling lebih mendalam, ternyata ia suka bermain musik. Terutama musik gitar. Maka, ada keterkaitan yang kuat hasil Tes RIASEC tadi dengan minat dan bakatnya. Saya pun meminta ia memutar videonya sedang bermain gitar. Dalam video itu, ia sedang berguru main gitar pada seorang teman yang usianya jauh darinya. “Ini Pak videonya, waktu saya main gitar di tongkrongan bersama teman,” sebutnya dengan semangat. Sebab, sebelumnya ia belum begitu senang di sesi-sesi awal konseling. Tetapi, ketika terkait dengan kesukaannya, ia menampilkan sisi emosional yang lebih terbuka dan kooperatif.
Setelah mengetahui kondisi minat bakatnya yang mengarah pada bidang seni, saya mengarahkannya untuk terlibat dalam unit kegiatan ekstrakurikuler siswa pada bidang seni. Saya juga meminta izin, untuk menyampaikan hasil tes ini kepada wali kelas dan guru pembina seni agar ia dapat dilibatkan dalam ekstrakurikuler seni. Selain itu, hasil ini perlulah ia sampaikan juga terutama kepada kedua orang tuanya. Agar mereka mengetahui minat dan bakat anaknya.
Melalui penjabaran saya di atas ini, tentulah baru 1 Jurus BK Hebat dari 6 Jurus BK Hebat lainnya yang menarik untuk diterapkan. Misalnya pada jurus kedua yaitu Kelola Emosi dengan pendekatan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE). Mengacu pada PSE ini tidaklah asing bagi saya, sebab sewaktu mengabil kuliah PPG, ada mata kuliah khusus PSE ini yang diajarkan oleh dosen-dosen saya dan diterapkan di dalam layanan Bimbingan Klasikal di dalam kelas. Pada jurus kedua ini, diharapkan pada Guru BK maupun Guru Non-BK menggunakan pendekatan PSE agar dapat terampil menerapkannya di dalam kelas guna memberi ruang pada murid untuk mengelola emosi sehingga dapat terciptanya suasana belajar yang harmonis.
Selain pengelolaan emosi yang stabil, adakalnya murid perlu membangun daya lenting dan ketahanan mental murid dalam menghadapi tantangan. Oleh karena itu, hadirlah Jurus BK Hebat yang ketiga yaitu Tumbuhkan Resiliensi. Guru diharapkan dapat membangun pemikiran siswa yang meningkat untuk menumbuhkan resiliensinya agar murid dapat berkembang optimal. Terutama pada empat bidang, yaitu pribadi, sosial, belajar, dan kariernya ke depan.
Sejalan dengan ini pula, ada jurus keempat yaitu Jaga Konsistensi melalui kebiasaan berkesadaran. Jurus ini hadir karena bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang menjaga nilai-nilai luhur bangsa guna melahirkan generasi yang berkarakter. Maka, capaian programnya mewadahi pembiasaan karakter positif murid yang dikembangkan dengan indikator pada nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan Habit Tracker sebagai pencatat kebiasaan positif pada murid apakah dilakukan dengan baik dan jujur dalam mengisi daftar cek ini. Ada baiknya, Guru BK dan Guru Non-BK membaca lebih dulu buku karya James Clear berjudul Atomic Habits. Buku ini berisi cara mudah dan terbuktif untuk membentuk kebiasan baik (positif) dan menghilangkan kebiasaan buruk. Pada dasarnya, kebiasan-kebiasan positif misalnya membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, bertegur sapa dengan guru serta teman dan kebiasaan lainnya dapat dilakuka jika adanya kesadaran utama pada murid. Untuk itulah guru dapat menggunakan jurus ini guna menguatkan pembiasaan positif pada muridnya.
Mengacu pada jurus kelima, adalah Jalin Koneksi yaitu adanya hubungan positif dalam membangun komunikasi yang penuh empati antara guru dengan muridnya. Beberapa kunci yang perlu dipahami diantaranya mendengar aktif, koneksi sebelum koreksi, serta menggunakan prinsip pendekatan konseling realita yaitu WDEP (Wants, Doing, Evalution, and Planing). Saya pernah menggunakan pendekatan ini, cocoknya pada sesi konseling individual kedua. Pada Wants, murid diminta untuk menuliskan keinginnnya. Lalu, Doing untuk melihat apa saja yang sudah dilakukan dalam mencapai keinginannya ini. Berikutnya, Evalution untuk mengevaluasi yang telah dilakukan tersebut. Terakhhir Planning, Guru BK meminta murid untuk menuliskan rencan ke depan berdasarkan hasil evaluasinya tadi. Pendekatan WDEP ini dikembangkan Robert Wubbolding.
Seperti kita ketahui sebelumnya, Guru BK tidaklah bisa berdiri sendiri. Ia perlu ekosistem pendidikan lain misalnya keluarga, sekolah, masyarakat, dan media. Di sini Guru BK adalah penghubung komponen ekosistem dalam satuan pendidikan. Maka jurus ke enam yaitu Bangun Kolaborasi sebagai kolaborasi multipihak. Dalam kolaborasi efektif ini, Guru BK atau guru dapat menjadi penyambung berbagai sumber daya dan keahlian guna menghadirkan lingkungan satuan pendidikan yang berpihak pada murid pada bidang pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
Jurus terakhir adalah Menata Situasi agar terciptanya lingkungan aman, nyaman, dan menggembirakan. Lalu, bagaimana jurus ini dapat diterapkan? Selama ini kasus perundungan bukan lagi berada pada dunia nyata, bahkan sudah merambah ke dunia maya, yaitu cyberbullyng. Maka, senantiasa pada prinsipnya Guru BK perlu sering bertanya dan menjemput bola perihal kasus-kasus yang seperti ini. Hal ini tentu dapat terjadi di lingkungan sekolah jika ada siswa merekam dengan gawai miliknya tanpa izin lalu menyebarkannya di media sosial. Kondisi lainnya juga dapat terjadi di luar sekolah. Misal ada murid yang memposting foto dirinya sedang liburan atau kegiatan positif, namun disambut negatif oleh berbagai komentar yang mengganggu kesehatan mentalnya. Maka, untuk itulah jurus yang ini dapat menjadi rujukan Guru BK dalam menangani kasus-kasus yang serupa. Tentu ada banyak kasus-kasus lain seperti cat calling di kalangan murid, pelecehan seksual, membuat keributan di sekolah maupun kelas, hingga melanggar tata tertib lainnya. Tentulah ini menjadi perhatian serius agar terciptanya ekosistem satuan pendidikan yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi semua.
Penutup
Progam & Jurus BK Hebat ini diantaranya Kenali Potensi, Kelola Emosi, Tumbuhkan Resiliensi, Jaga Konsistensi, Jalin Koneksi, Bangun Kolaborasi, dan Menata Situasi sangatlah bisa dijadikan sebagai pedoman pelaksanaan layanan bimbingan konseling di sekolah. Agar lebih tepat sasaran dan terpola dengan efektif, dapat dimasukkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) berupa bimbingan klasikal, konseling kelompok, bimbingan kelompok, konseling individual serta layanan-layanan lain berdasarkan tugas-tugas perkembangan murid. Tentu pula, 7 Jurus BK Hebat ini sifatnya fleksibel, tidaklah monoton. Sehingga Guru BK maupun Non-BK dapat menyesuaikan dengan kebutuhan siswa.(*)










Discussion about this post