Pidie Jaya — Di tengah teriknya cuaca Gampong Paru Cot, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, aktivitas pengolahan garam tradisional masih menjadi tumpuan hidup sebagian warga yang bekerja sebagai petani garam.
Salah satunya adalah Aisha, seorang pengolah garam yang telah menekuni usaha ini sepanjang hidupnya sebagai warisan yang diturunkan dari generasi sebelumnya.
“Usaha garam ini bukan usaha baru, ini warisan dari orang tua kami dulu. Sudah dari kecil saya lihat dan ikut kerja di tambak, jadi ya sampai sekarang saya teruskan,” ujar Aisha saat ditemui mahasiswa Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) R-XXIX-112 Universitas yang tengah melaksanakan pengabdian di desa tersebut.
Menurut Aisha, proses produksi garam sangat bergantung pada kondisi cuaca. Musim hujan menjadi tantangan besar karena mengurangi ketersediaan pasir garam yang menjadi bahan baku utama, sehingga produksi bisa terhenti dalam waktu yang cukup lama.
“Kalau musim hujan datang, kami susah dapat pasir garamnya. Bisa berhenti produksi lama, kadang berminggu-minggu, karena pasirnya tidak kering,” katanya.
Dalam kondisi cuaca normal, Aisha mampu menghasilkan sekitar 25 hingga 30 bambu garam per hari. Namun harga jualnya bersifat fluktuatif, mengikuti musim. Saat musim hujan, harga garam cenderung naik karena pasokan berkurang, sementara pada musim panas harga justru turun akibat produksi yang melimpah.
Keterbatasan tenaga kerja dan teriknya cuaca juga membuat proses pengolahan hanya bisa dilakukan satu kali dalam sehari. Di sisi lain, biaya produksi terus menjadi beban berat bagi para pengolah garam, terutama untuk pembelian kayu bakar yang harganya terus merangkak naik.
“Yang paling berat itu beli kayu bakarnya, karena harganya terus naik. Sedangkan harga garam kami tidak ikut naik sama seperti itu,” ungkap Aisha.
Setelah dipotong biaya kayu bakar dan pembagian hasil dengan pemilik lahan atau pondok garam, pendapatan bersih yang diterima para pengolah relatif kecil dan tidak menentu. Bahkan dalam beberapa kondisi, hasil produksi harian belum cukup untuk menutupi biaya operasional.
“Kadang-kadang hasil sehari itu belum tentu cukup untuk balik modal kayu bakar, apalagi kalau kena banjir atau cuaca tidak menentu. Susah juga kami mau cari kerja lain,” tuturnya.
Sistem pemasaran garam di Paru Cot pun masih bergantung sepenuhnya pada pemilik lahan atau yang biasa disebut warga sebagai “toke”. Pihak inilah yang menimbang hasil produksi setiap harinya, sementara para pengolah tidak menjual garam secara langsung ke agen maupun pasar.
“Kami tidak jual sendiri ke pasar, semua lewat pemilik lahan. Mereka yang timbang, mereka juga yang atur jual ke mana,” jelas Aisha.
Kelompok KKN R-XXIX-112 yang beranggotakan tujuh mahasiswa lintas jurusan — Jalal Syaifullah Mukti (Ilmu Hukum), Risky Rahmat (Fisika), Nasywa Salsabila (Pendidikan Sendratasik), Putri Maulida (Pendidikan Ekonomi), Putri Salsabila (Ilmu Hukum), Alya Reka Mei Sari (Ilmu Hukum), dan Suci Indah Wijaya (Ilmu Komunikasi) — melakukan wawancara ini sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat guna memahami kondisi sosial-ekonomi warga Gampong Paru Cot.
Hasil wawancara tersebut menggambarkan bahwa usaha garam di Paru Cot bukan sekadar mata pencaharian, melainkan juga warisan budaya yang terus dipertahankan warga di tengah berbagai kendala seperti ketergantungan pada cuaca, tingginya biaya produksi, fluktuasi pendapatan, hingga keterbatasan akses pemasaran yang masih bergantung pada satu jalur distribusi.[]












Discussion about this post