Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Warisan Turun-Temurun, Petani Garam Paru Cot, Pidie Jaya Bertahan di Tengah Cuaca dan Biaya yang Tak Menentu

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
July 28, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Warisan Turun-Temurun, Petani Garam Paru Cot, Pidie Jaya Bertahan di Tengah Cuaca dan Biaya yang Tak Menentu

Pidie Jaya — Di tengah teriknya cuaca Gampong Paru Cot, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, aktivitas pengolahan garam tradisional masih menjadi tumpuan hidup sebagian warga yang bekerja sebagai petani garam.

Salah satunya adalah Aisha, seorang pengolah garam yang telah menekuni usaha ini sepanjang hidupnya sebagai warisan yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

“Usaha garam ini bukan usaha baru, ini warisan dari orang tua kami dulu. Sudah dari kecil saya lihat dan ikut kerja di tambak, jadi ya sampai sekarang saya teruskan,” ujar Aisha saat ditemui mahasiswa Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) R-XXIX-112 Universitas yang tengah melaksanakan pengabdian di desa tersebut.

Menurut Aisha, proses produksi garam sangat bergantung pada kondisi cuaca. Musim hujan menjadi tantangan besar karena mengurangi ketersediaan pasir garam yang menjadi bahan baku utama, sehingga produksi bisa terhenti dalam waktu yang cukup lama.

“Kalau musim hujan datang, kami susah dapat pasir garamnya. Bisa berhenti produksi lama, kadang berminggu-minggu, karena pasirnya tidak kering,” katanya.

Dalam kondisi cuaca normal, Aisha mampu menghasilkan sekitar 25 hingga 30 bambu garam per hari. Namun harga jualnya bersifat fluktuatif, mengikuti musim. Saat musim hujan, harga garam cenderung naik karena pasokan berkurang, sementara pada musim panas harga justru turun akibat produksi yang melimpah.

Keterbatasan tenaga kerja dan teriknya cuaca juga membuat proses pengolahan hanya bisa dilakukan satu kali dalam sehari. Di sisi lain, biaya produksi terus menjadi beban berat bagi para pengolah garam, terutama untuk pembelian kayu bakar yang harganya terus merangkak naik.

“Yang paling berat itu beli kayu bakarnya, karena harganya terus naik. Sedangkan harga garam kami tidak ikut naik sama seperti itu,” ungkap Aisha.

Setelah dipotong biaya kayu bakar dan pembagian hasil dengan pemilik lahan atau pondok garam, pendapatan bersih yang diterima para pengolah relatif kecil dan tidak menentu. Bahkan dalam beberapa kondisi, hasil produksi harian belum cukup untuk menutupi biaya operasional.

“Kadang-kadang hasil sehari itu belum tentu cukup untuk balik modal kayu bakar, apalagi kalau kena banjir atau cuaca tidak menentu. Susah juga kami mau cari kerja lain,” tuturnya.

Sistem pemasaran garam di Paru Cot pun masih bergantung sepenuhnya pada pemilik lahan atau yang biasa disebut warga sebagai “toke”. Pihak inilah yang menimbang hasil produksi setiap harinya, sementara para pengolah tidak menjual garam secara langsung ke agen maupun pasar.

“Kami tidak jual sendiri ke pasar, semua lewat pemilik lahan. Mereka yang timbang, mereka juga yang atur jual ke mana,” jelas Aisha.

Kelompok KKN R-XXIX-112 yang beranggotakan tujuh mahasiswa lintas jurusan — Jalal Syaifullah Mukti (Ilmu Hukum), Risky Rahmat (Fisika), Nasywa Salsabila (Pendidikan Sendratasik), Putri Maulida (Pendidikan Ekonomi), Putri Salsabila (Ilmu Hukum), Alya Reka Mei Sari (Ilmu Hukum), dan Suci Indah Wijaya (Ilmu Komunikasi) — melakukan wawancara ini sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat guna memahami kondisi sosial-ekonomi warga Gampong Paru Cot.

Hasil wawancara tersebut menggambarkan bahwa usaha garam di Paru Cot bukan sekadar mata pencaharian, melainkan juga warisan budaya yang terus dipertahankan warga di tengah berbagai kendala seperti ketergantungan pada cuaca, tingginya biaya produksi, fluktuasi pendapatan, hingga keterbatasan akses pemasaran yang masih bergantung pada satu jalur distribusi.[]

Tags: KKNpetani garamPidie JayaUMKM
ShareTweetSendShare

Related Posts

FISIP USK Satukan Suara, Aceh Harus Jadi Pemain Utama di Blok Andaman
Daerah

FISIP USK Satukan Suara, Aceh Harus Jadi Pemain Utama di Blok Andaman

July 29, 2026
Pendapatan Negara Tumbuh 21,4 Persen, Menkeu Purbaya Klaim Kinerja APBN Semester I 2026 Solid
Ekonomi

Pendapatan Negara Tumbuh 21,4 Persen, Menkeu Purbaya Klaim Kinerja APBN Semester I 2026 Solid

July 29, 2026
Bupati Aceh Besar Apresiasi Pembangunan Sumur Bor Sucofindo untuk Masyarakat Lambleut
Daerah

Syech Muharram Minta OPD Respon Cepat Tangani Kekeringan

July 28, 2026
Sambut HUT ke-25 Partai, Demokrat Aceh gelar Donor Darah dan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri
Daerah

Sambut HUT ke-25 Partai, Demokrat Aceh gelar Donor Darah dan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri

July 28, 2026
Penjelasan Wali Kota M. Rasyid Bancin Ditolak DPRK, Subulussalam Menuju Hak Angket
Daerah

Penjelasan Wali Kota M. Rasyid Bancin Ditolak DPRK, Subulussalam Menuju Hak Angket

July 27, 2026
Hari Anak Nasional di Banda Aceh: Ratusan Anak Ikuti Kegiatan Baca Nyaring dan Dongeng
Daerah

Hari Anak Nasional di Banda Aceh: Ratusan Anak Ikuti Kegiatan Baca Nyaring dan Dongeng

July 27, 2026
Next Post
Pendapatan Negara Tumbuh 21,4 Persen, Menkeu Purbaya Klaim Kinerja APBN Semester I 2026 Solid

Pendapatan Negara Tumbuh 21,4 Persen, Menkeu Purbaya Klaim Kinerja APBN Semester I 2026 Solid

FISIP USK Satukan Suara, Aceh Harus Jadi Pemain Utama di Blok Andaman

FISIP USK Satukan Suara, Aceh Harus Jadi Pemain Utama di Blok Andaman

Discussion about this post

Recommended Stories

Peneliti Ungkap Temuan “Kuburan Massal” Belanda di Indrapuri

Peneliti Ungkap Temuan “Kuburan Massal” Belanda di Indrapuri

June 7, 2026
Wagub Fadhlullah Ajak Perkuat Sinergi dan Pembangunan Berkelanjutan pada HUT Aceh Singkil ke-27

Wagub Fadhlullah Ajak Perkuat Sinergi dan Pembangunan Berkelanjutan pada HUT Aceh Singkil ke-27

April 27, 2026
Terima Kunjungan BAM DPR RI, Sekda Aceh Dorong Penyelesaian Tuntas Persoalan Warga Eks Blang Lancang-Rancong

Wagub Aceh Bersama Menteri Sosial Hadiri Open House Sekolah Rakyat di Aceh Besar ‎

June 9, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!