Sudah saatnya media massa di Aceh bergeser dari sekadar jurnalisme konvensional menuju jurnalisme solusi (solutions journalism) yang menempatkan aksi kemanusiaan sebagai agenda utama publik.
Oleh: Muhammad Haykal,Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
TINJAUAN.ID | Membuka portal berita daring di Aceh hari ini, ruang digital kita kerap dipenuhi oleh riuh rendah kontestasi politik lokal, perdebatan kebijakan dan birokrasi, hingga berita kriminalitas yang dikemas semenarik mungkin.
Pola ini bukan hal baru, dalam lanskap komunikasi massa, media memiliki kecenderungan bawaan untuk mengutamakan unsur konflik (conflict) serta ketokohan politik demi memburu rating pembaca.
Namun, di tengah kepungan informasi yang melelahkan tersebut, kita patut merenung: Kemana perginya narasi-narasi kemanusiaan yang solutif? Mengapa aksi filantropi yang berdampak nyata bagi hajat hidup orang banyak sering kali terlempar ke sudut sepi pemberitaan?
Sebagai wilayah dengan memori kolektif solidaritas yang kuat, Aceh seharusnya menjadi episentrum bagi jurnalisme yang humanis, di mana media massa berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan perhatian publik pada solusi kemanusiaan, bukan sekadar menjadi cermin retak yang memantulkan masalah.
Dalam kacamata komunikasi massa, fenomena ini dapat dibedah melalui teori penyusunan agenda (agenda setting). Media online hari ini memiliki kekuatan besar untuk mendikte apa yang dianggap penting oleh masyarakat melalui penempatan berita dan algoritma media baru (new media).
Ketika redaksi secara konsisten menempatkan perseteruan elite di halaman utama dan mengabaikan inisiatif sosial, mereka secara tidak sadar sedang membangun realitas semu bahwa isu kemanusiaan adalah prioritas kelas dua atau bahkan kelas tiga mapun kelas ke empat. Sehingga dampaknya sangat sistemik di era digital: ruang publik menjadi kering dari inspirasi, memicu rasa ketidakpedulian atau apatis dari masyarakat.
Padahal, esensi dari komunikasi penyiaran Islam dan komunikasi massa pada umumnya adalah membawa kemaslahatan (mashlahah).
Sudah saatnya media massa di Aceh bergeser dari sekadar jurnalisme konvensional menuju jurnalisme solusi (solutions journalism) yang menempatkan aksi kemanusiaan sebagai agenda utama publik.
Nilai dari UIN Ar-Raniry
Sebagai contoh konkret di lingkungan kampus tempat saya belajar, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh baru saja menghadirkan Anjungan Air Minum Sayyid Osman Hulusi Efendi Hazretleri.
Proyek ini merupakan kolaborasi wakaf internasional yang melibatkan Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi bersama Somuncu Baba Organization, serta difasilitasi oleh Yayasan Tarara Global Humanity. Menyediakan air bersih gratis berbasis teknologi reverse osmosis dengan arsitektur klasik Usmani, proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik.
Di balik anjungan air yang megah itu, ada pesan komunikasi antarabudaya yang sangat kuat yang menghidupkan kembali memori diplomasi historis antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kekhalifahan Usmaniyah di era modern.
Sayangnya, respons media massa kita terhadap pemanfaatan media baru dalam gerakan ini masih sangat minimalis.
Sebagian besar media online lokal hanya memperlakukannya sebagai berita seremonial belaka yang tenggelam dalam hitungan hari. Walaupun sehari setelah peresmian berita ini turut tampil di halaman salah satu koran utama di Aceh, namun jarang ada media yang mau masuk lebih dalam menggunakan pendekatan new media untuk mengulas aspek narasi humanisme bagaimana air gratis ini meringankan beban ekonomi mahasiswa perantauan, atau bagaimana strategi komunikasi filantropi internasional ini bisa terjalin melalui jejaring digital.
Ini adalah bukti nyata betapa komunikasi massa kita sering kehilangan indra penciuman terhadap “berita baik” yang memiliki dampak struktural bagi kesejahteraan publik.
New Media
Di era new media, tantangan dan peluang bagi gerakan kemanusiaan sebenarnya telah bergeser ke ruang siber melalui konsep kemanusiaan digital (digital humanitarianism).
Sebuah gerakan sosial tidak lagi dibatasi oleh batas geografis. Kerja kolaboratif internasional seperti yang diikhtiarkan Yayasan Tarara Global Humanity membuktikan bahwa komunikasi yang efektif di new media mampu menggerakkan kepedulian lintas negara.
Jika media massa ingin mengoptimalkan ruang digital untuk narasi-narasi seperti ini, akan tercipta efek penularan sosial (social contagion effect) di mana masyarakat terinspirasi untuk ikut berkontribusi.
Komunikasi tidak lagi sekadar menjadi alat penyampai informasi (transmission of information), melainkan sarana transformasi sosial (transformation of society).
Kita tidak sedang meminta media online mengabaikan fungsi kontrol sosialnya terhadap pemerintah, karena kritik politik tetap dan harus krusial demi menjaga ritme demokrasi. Namun, harus ada keseimbangan porsi yang adil di ruang redaksi melalui redefinisi nilai berita (news value) yang mengutamakan dampak kemaslahatan, optimalisasi narasi multimedia, dan kolaborasi erat dengan aktor filantropi.
Harus dipahami pula, Aceh merupakan tanah yang subur bagi tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Kehadiran fasilitas air bersih gratis di UIN Ar-Raniry menjadi salah satu wujud nyata bagaimana kepedulian ini dapat diterjemahkan ke dalam aksi sederhana serta berdampak luas bagi masyarakat kampus.
Ke depan, di era komunikasi massa dan new media, tantangannya bukan hanya menghadirkan praktik-praktik baik, tetapi juga memastikan kisah di baliknya mampu menjangkau ruang percakapan publik.
Narasi tentang penyediaan air bersih ini perlu dikemas sebagai inspirasi kemanusiaan yang memiliki daya tarik dan nilai lebih, sehingga mampu mengalir dari satu percakapan ke percakapan lain, melahirkan gagasan, menggerakkan kepedulian, serta menumbuhkan semangat untuk terus menyebarkan kabar baik kepada setiap kalangan.











Discussion about this post