Banda Aceh – Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama [PW ISNU] Aceh menggelar diskusi bertajuk “Disabilitas dan Pembangunan” bersama Agus Hasan Hidayat, Aktivis Mental Disabilitas Mental dan Pegiat Sosial, Kamis [25/6/2026] di Kantor Sekretariat PW ISNU Aceh, Banda Aceh.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara perspektif akademik dan pengalaman lapangan untuk mendorong pembangunan yang lebih inklusif di Aceh.
Ketua Pelaksana sekaligus Anggota Bidang Pendidikan PW ISNU Aceh, Dr. Muhammad Rizki, M.Pd, menyampaikan diskusi ini penting agar pembangunan tidak meninggalkan penyandang disabilitas.
“Pembangunan berkelanjutan hanya mungkin jika akses pendidikan, kerja, dan ruang publik benar-benar ramah untuk semua, termasuk 15% warga kita yang hidup dengan disabilitas,” ujar Dr. Rizki.
Sekretaris PW ISNU Aceh, Dr. Rahmad Syah Putra,M.Pd., M.Ag menegaskan komitmen organisasi dalam isu ini.
“Diskusi ini adalah langkah awal ISNU Aceh untuk menerjemahkan semangat inklusi ke dalam kerja nyata. Kami ingin sarjana NU hadir memberi gagasan dan solusi konkret agar kebijakan pembangunan di Aceh tidak lagi timpang. Disabilitas harus dilihat sebagai bagian dari kekuatan, bukan keterbatasan,” tegas Dr. Rahmad.
Dalam pemaparannya, Agus Hasan Hidayat menekankan tiga pilar utama: aksesibilitas, pemerataan pendidikan dan kesempatan kerja yang layak serta perubahan cara pandang masyarakat.
“Disabilitas bukan persoalan individu, melainkan persoalan hambatan dalam berpartisipasi di masyarakat. Hal ini termasuk masalah infrastruktur dan kebijakan yang belum inklusif, maka kita harus melihat kelompok disabilitas sebagai subjek pembangunan, bukan hanya penerima manfaat, tegasnya.
Diskusi dihadiri pengurus ISNU Aceh, akademisi, mahasiswa, pegiat disabilitas, dan unsur pemerintah. Peserta bersepakat mendorong ISNU Aceh menjadi pusat gagasan kebijakan publik yang berpihak pada kelompok rentan. []













Discussion about this post