Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Opini

Strategi “Cato Rimueng” Geopolitik Aceh-Pusat di Atas Papan Blok Andaman

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
June 24, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Blok Andaman dan Ancaman Kutukan Sumberdaya Alam

Hari ini, di tengah riuh rendah penemuan cadangan gas alam raksasa di lepas pantai utara Sumatera, kontestasi di atas papan permainan antara Aceh dan Pemerintah Pusat itu kembali digelar dengan nama baru, yaitu “Perebutan Kontrol Blok Andaman”.

Sejarah hubungan antara Aceh dan Pemerintah Pusat mengingatkan saya pada sebuah permainan papan tradisional Aceh yang menuntut pemainnya untuk memainkan strategi jitu, yaitu Cato Rimueng (Catur Harimau).

Di satu sisi, ada Jakarta sang entitas raksasa dengan logistik melimpah dan taring regulasi tajam yang bertindak bagai “Rimueng” (Harimau). Di sisi lain, ada kolektivitas pemerintah dan masyarakat Aceh yang kerap diposisikan sebagai “Kameng” (Kambing) yang tampak ringkih mengepung dari sudut-sudut papan percaturan geopolitik Aceh-Pusat.

Hari ini, di tengah riuh rendah penemuan cadangan gas alam raksasa di lepas pantai utara Sumatera, kontestasi di atas papan permainan antara Aceh dan Pemerintah Pusat itu kembali digelar dengan nama baru, yaitu “Perebutan Kontrol Blok Andaman”.

Ketika Mubadala Energy bersama SKK Migas menyodorkan cetak biru Plan of Development (PoD) dengan skema Floating Production Storage and Offloading (FPSO), Jakarta sedang memainkan watak alamiah sang Rimueng.

Skema pengolahan terapung di tengah laut lepas (offshore) ini adalah langkah taktis yang efisien secara bisnis, namun sayangnya, berwatak “isolatif”.

Skema ini dirancang untuk menguras isi perut bumi Aceh tanpa perlu menyentuh daratan, meminimalkan serapan tenaga kerja lokal, dan mengabaikan infrastruktur pasca-kejayaan gas yang kini mangkrak. Jakarta ingin bergerak cepat, memanen hasil, lalu melompat ke sarang berikutnya.

Namun, Jakarta lupa bahwa dalam pakem Cato Rimueng, kebuasan fisik Harimau selalu diikat oleh satu aturan etis yaitu “Hana Pantak, Deunada” atau jika Harimau tidak memakan, maka akan didenda. Dalam hal ini, ketika sang pemangsa lengah atau sengaja mengabaikan perimeter di sekitarnya demi keuntungan sepihak, ia justru berjalan menuju jebakannya sendiri.

Langkah intervensi politik yang diambil oleh Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Muzakir Manaf baru-baru ini dengan menolak menandatangani kesepakatan awal dan menuntut revisi PoD agar dialihkan ke darat (onshore pipelining) melalui KEK Arun—adalah bentuk “kepungan” taktis yang presisi.

Ini bukan sekadar urusan bagi-bagi hasil atau romantisme sempit daerah, melainkan upaya memaksakan “denda” konstitusional kepada Pusat. Aceh sedang memaksa Harimau turun ke darat, masuk ke dalam arena di mana regulasi kekhususan daerah dan kalkulasi dampak sosial-ekonomi rakyat tidak bisa lagi dikesampingkan.

Memindahkan megaproyek ini ke darat adalah harga mati untuk menghidupkan kembali denyut nadi industri petrokimia lokal dan menyelamatkan Aceh dari kutukan sumber daya alam (resource curse).

Kita tidak ingin mengulang memori kolektif masa lalu, di mana gas alam Aceh mengalir menerangi jalur industri global, sementara desa-desa di sekitar kilang justru meraba-raba dalam kegelapan kemiskinan.

Jika Jakarta tetap berskeras memaksakan skema kapitalistik yang mengisolasi peran daerah, mereka harus siap membayar “denda” terbesar dalam sejarah perdamaian: hilangnya legitimasi moral dan kembalinya resistensi sosial di tingkat tapak.

Memaksa memenangkan Harimau dengan cara merusak papan permainan hanya akan melahirkan instabilitas yang merugikan semua pihak.

Blok Andaman adalah pembuktian mutakhir. Di atas papan geopolitik yang timpang ini, kolektivitas, ketepatan momentum, dan ketegasan sikap adalah modal utama bagi Aceh.

Kita tidak sedang mencari sekadar sisa remah makanan dari meja perundingan Jakarta. Kita sedang memastikan bahwa di tanah ini, sang “Rimueng” harus tunduk pada aturan main yang adil, atau bersiap angkat kaki karena terkunci total oleh kepungan taktik yang kita bangun dengan sabar.

Oleh: T. Auliya Rahman, Ketua IKA IPM USK. Mahasiswa konsentrasi Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tags: Acehblok andamanmigasopini
ShareTweetSendShare

Related Posts

Aceh–Turki: Kemanusiaan, Kurban, dan Jaringan Alumni
Opini

Aceh–Turki: Kemanusiaan, Kurban, dan Jaringan Alumni

June 16, 2026
Blok Andaman dan Ancaman Kutukan Sumberdaya Alam
Opini

Blok Andaman dan Ancaman Kutukan Sumberdaya Alam

June 16, 2026
Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia di Usia 86 Tahun
Opini

Obituari: Abu Doto Pergi, Aceh Kehilangan Penjaga Ingatan

June 13, 2026
Menjawab Kritik Usman Lamreung: Penataan Birokrasi Aceh Besar Adalah Upaya Membenahi Warisan Masalah Masa Lalu
Opini

Menjawab Kritik Usman Lamreung: Penataan Birokrasi Aceh Besar Adalah Upaya Membenahi Warisan Masalah Masa Lalu

May 30, 2026
JKA, Mualem, dan Nafsi-Nafsi
Opini

JKA, Mualem, dan Nafsi-Nafsi

May 20, 2026
MBG, Kopdes Merah Putih, dan Program Padat Karya ala Keynesian
Opini

MBG, Kopdes Merah Putih, dan Program Padat Karya ala Keynesian

May 11, 2026
Next Post
Menteri Ekraf: Presiden Ajak Publik Pilih Logo HUT ke-81 Republik Indonesia

Menteri Ekraf: Presiden Ajak Publik Pilih Logo HUT ke-81 Republik Indonesia

Proses Transformasi Politik Islam di Turki

Proses Transformasi Politik Islam di Turki

Discussion about this post

Recommended Stories

Dari Pining, Harapan Pulihnya Pendidikan Aceh Pascabencana Semakin Dekat

Dari Pining, Harapan Pulihnya Pendidikan Aceh Pascabencana Semakin Dekat

February 1, 2026
Gubernur Mualem Surati BPJS: Buka Blokir Kepesertaan JKA

Kak Na Sumbang 3 Canting Batik Cap dan 1 Mesin Tenun untuk Perajin Binaan Dekranasda Aceh Besar

May 21, 2026
Kunjungan Dapil Anggota DPR Aceh Kunjungi Lokasi Tambang di Abdya, Romi Syah Putra: Perusahaan Tambang Perhatikan Dampak Lingkungan dan Serap Tenaga Kerja Lokal

Kunjungan Dapil Anggota DPR Aceh Kunjungi Lokasi Tambang di Abdya, Romi Syah Putra: Perusahaan Tambang Perhatikan Dampak Lingkungan dan Serap Tenaga Kerja Lokal

August 5, 2025

Popular Stories

  • Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!