Bung Hatta adalah seorang pahlawan dan negarawan paripurna yang perlu terus dikenang. Hatta adalah tauladan, harapan dan cita-cita tentang bagaimana menjadi Indonesia sebenarnya.
Mohammad Hatta meninggal di hari Jumat, bulan Desember tahun 1980. Yang paling membuatku takjub, sebelum meninggal di hari itu, Hatta sempat menunaikan ibadah shalat Jumat meski dengan susah payah.
Hatta semasa hidupnya dikenal sebagai muslim yang taat. Semasa kuliah di Belanda, Hatta tidak pernah mengonsumsi alkohol dan punya hubungan bebas dengan perempuan.
Meski tidak bicara soal Islam secara gamblang, Islam sendiri menjadi ruh kehidupan Hatta. Islam garam, bukan Islam gincu, istilahnya. Ia mengamalkan Islam bukan sebagai pemanis atau sesuatu yang tampak di permukaan. Islam baginya ibarat garam yang terasa namun tak perlu tampak terang wujudnya. Spirit ini jelas terlihat dari kejujurannya sebagai pemimpin.
Hatta memimpin dengan tujuan mewujudkan kemaslahatan rakyat, bukan kepentingan diri dan memperkaya pribadi. Hatta pun tak gila kekuasaan. Ia berhenti sebagai wakil presiden di saat yang ia anggap tepat. Ia tak memaksakan kekuasaannya untuk tetap langgeng, sebagaimana hasrat dan birahi kebanyakan politisi.
Naskah proklamasi didikte oleh Hatta dan ditulis tangan oleh Soekarno. Peristiwa ini merupakan perumpamaan dari kenyataan bahwa ide dan gagasan Hatta lah yang menjadi dasar dari ide dan konsep negara Indonesia, sementara Soekarno hanya menjalankannya.
Hatta benar-benar seorang pemikir. Pancasila dan semua poin-poin undang-undang dasar yang menekankan keadilan sosial, keberpihakan negara kepada rakyat banyak (fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara), juga prinsip ekonomi yang berorientasi kepada hajat hidup orang banyak, bisa dikatakan adalah isi pikiran Hatta.
Hatta hidup cukup sederhana meski ia akhirnya bisa punya sepasang sepatu Bally idamannya. Ia telat menikah karena hanya ingin menikah setelah Indonesia merdeka.
Setelah Hatta berhenti jadi wakil presiden dan ditawari jabatan komisaris di perusahaan negara, ia menolak dengan mengatakan, “apa kata rakyat nantinya?”
Hatta hidup pas-pasan dengan gaji pensiun wakil presiden di era orde baru yang agak ia keluhkan sebenarnya, karena tak lagi cukup untuk membiayai dirinya, istri dan ketiga anaknya.
Hatta setelah berhenti menjadi wakil presiden tetap menjadi seorang pemikir yang menumpahkan gagasannya, menyurati menteri-menteri untuk memberikan saran, dan tentunya ia terus menulis.
Jika sebagian tokoh hanya bisa dikagumi lewat ide, gagasan, tulisan sebagai pemikir, atau lewat kebijakan yang diambil selaku pemimpin dan pejabat publik, Hatta melampaui itu.
Sosok pribadi Hatta sebagai seorang manusia di luar jabatan politik dan gagasan intelektualnya mencerminkan sikap dan kepribadian yang layak menjadi panutan bagi bangsa ini, hingga kapanpun.
Hatta adalah seorang pahlawan dan negarawan paripurna yang perlu terus dikenang. Hatta adalah tauladan, harapan dan cita-cita tentang bagaimana menjadi Indonesia sebenarnya.
Jabal Sab












Discussion about this post