KOTA JANTHO – Teknologi pemantauan laut berteknologi tinggi kini hadir di Aceh Besar. Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris (Syech Muharram) meresmikan High Frequency (HF) Radar Array di kawasan Pantai Ujong Batee, Kecamatan Mesjid Raya, Kamis (8/10/2026). Teknologi ini diharapkan memperkuat pemantauan kondisi laut, mendukung keselamatan pelayaran, hingga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di wilayah pesisir.
HF Radar Array merupakan teknologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memanfaatkan gelombang radio frekuensi tinggi untuk memantau kondisi permukaan laut. Teknologi tersebut menghasilkan informasi secara real time mengenai arus laut, gelombang, dan kondisi perairan yang dapat digunakan untuk mendukung keselamatan masyarakat pesisir.
Keberadaan radar ini dapat membantu aktivitas nelayan dan pelayaran, informasi yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk pemantauan kondisi perairan serta memperkuat sistem mitigasi bencana, termasuk potensi tsunami.
Peresmian fasilitas tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris bersama Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D.
Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris menyampaikan apresiasi kepada BMKG yang terus memperkuat layanan meteorologi maritim di Aceh, khususnya di wilayah Aceh Besar.
“Kehadiran High Frequency Radar Array di Lamtengoh dan Ujong Batee menunjukkan bahwa Aceh Besar memiliki peran dalam mendukung penguatan sistem observasi laut dan layanan informasi maritim BMKG,” ujar Syech Muharram.
Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut juga menunjukkan kepercayaan kepada Aceh Besar untuk mengambil bagian dalam memperkuat pelayanan publik, terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan kebutuhan masyarakat pesisir.
Muharram mengatakan, Aceh Besar memiliki wilayah pertanian yang luas dan menghadapi berbagai dampak perubahan iklim serta bencana hidrometeorologi. Salah satu persoalan yang hampir setiap tahun terjadi adalah kekeringan yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar berharap dukungan BMKG tidak terbatas pada penyediaan informasi cuaca dan kelautan. Pemerintah daerah juga mengharapkan bantuan dalam penanganan kekeringan melalui teknologi modifikasi cuaca, penyediaan informasi bagi nelayan, serta pemantauan aktivitas Gunung Seulawah yang merupakan salah satu gunung api aktif di Aceh.
“Kami berharap BMKG dapat membantu melalui teknologi modifikasi cuaca untuk mengatasi kekeringan, sekaligus memberikan dukungan informasi yang dibutuhkan nelayan dan masyarakat di sekitar Gunung Seulawah,” katanya.
Muharram juga meminta agar informasi kebencanaan dan cuaca yang disampaikan kepada masyarakat mencantumkan waktu secara jelas, termasuk tanggal dan tahun. Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat dapat membedakan informasi terbaru dari informasi lama yang kembali beredar di media sosial.
Ia menegaskan, dukungan terhadap penguatan fasilitas BMKG di Aceh Besar bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan bagian dari sinergi pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menyambut baik kehadiran dan penguatan layanan BMKG di daerah, serta akan terus mendukung sinergi yang telah terbangun sebagai bagian dari komitmen bersama untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.
BMKG Targetkan 10 Unit Radar Terpasang hingga Akhir 2026
Sementara itu, Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., mengatakan peresmian HF Radar Array merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem observasi laut sekaligus meningkatkan kapasitas mitigasi bencana di Indonesia.
BMKG menargetkan sebanyak 10 unit HF Radar Array terpasang di berbagai wilayah Indonesia hingga akhir 2026. Jaringan tersebut nantinya akan dikombinasikan dengan perangkat pemantauan milik Badan Keamanan Laut (Bakamla) untuk memperkuat observasi kondisi laut secara nasional.
“Radar ini memancarkan gelombang frekuensi tinggi yang dapat memantau arus permukaan, gelombang, arah angin hingga potensi terjadinya tsunami. Informasi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan oleh nelayan, sektor pelayaran, serta untuk memperkuat mitigasi bencana dan keselamatan masyarakat di wilayah pesisir,” ujar Teuku Faisal.
Ia menjelaskan, HF Radar Array yang dipasang di Aceh akan menjadi bagian dari jaringan pemantauan BMKG sekaligus memperkuat sistem mitigasi tsunami.
Data dari berbagai perangkat pemantauan gempa, tsunami, dan kondisi atmosfer akan dihimpun dalam sistem Multi-Hazard Early Warning System (MHEWS), yakni sistem peringatan dini yang dirancang untuk menghadapi berbagai jenis ancaman bencana.
Semua sistem akan terintegrasi dan saling mendukung, dengan pusat operasional di Kemayoran dan Denpasar yang berfungsi sebagai sistem utama sekaligus saling membackup.
“Sistem ini tidak hanya untuk gempa dan tsunami, tetapi juga mencakup berbagai potensi bencana hidrometeorologi serta mendukung sektor pertanian, perikanan, energi, sumber daya air, infrastruktur dan pariwisata,” jelasnya.
Peresmian HF Radar Array tersebut turut dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh Robby Irza, S.SiT., M.T.; Economic Counsellor Embassy of France in Indonesia Fabrice Fize; Country Director AFD Indonesia Sandrine Boucher; Direktur Meteorologi Maritim BMKG Dr. Agie Wandala Putra; Kepala Biro Hukum, Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama BMKG Raden Rara Rima Eryani, S.H., S.E., M.Ec.Dev.; Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Dr. Teguh Rahayu, S.Kom., M.M.; serta Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda beserta jajaran.[]












Discussion about this post