Banda Aceh – Pemerintah Aceh melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis biosolar dan pertalite untuk wilayah Aceh terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Meskipun alokasi dinaikkan, keluhan masyarakat terkait antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) masih menjadi pemandangan sehari-hari dan menimbulkan keresahan di tengah publik.
Kepala Bidang Minyak dan Gas Dinas ESDM Aceh, Dian Budi Dharma, menjelaskan bahwa pada tahun 2026, kuota biosolar Aceh ditetapkan sebesar 430.078 kiloliter, mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2025 yang tercatat 410.544 kiloliter. Sementara itu, jatah pertalite juga bertambah dari 576.147 kiloliter pada 2025 menjadi 588.680 kiloliter pada tahun ini. Menurutnya, peningkatan alokasi ini merupakan langkah antisipasi pemerintah terhadap tingginya permintaan publik akan bahan bakar minyak murah tersebut.
“Kuota kita terus melonjak setiap tahunnya. Di 2026, biosolar mencapai sekitar 430,78 juta liter, dan angka itu bertambah dibanding tahun lalu. Pertalite juga terus kami tambahkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Dian saat memaparkan dinamika pasokan BBM subsidi di Aceh.
Kendati demikian, Dian mengakui bahwa antrean panjang masih menjadi persoalan serius, khususnya di wilayah Banda Aceh, Aceh Barat, hingga Nagan Raya. Pemerintah menduga faktor utama yang memicu mengularnya antrean adalah meningkatnya jumlah pengguna biosolar subsidi, yang didorong oleh tingginya disparitas harga antara solar subsidi dan BBM nonsubsidi di jaringan SPBU Pertamina. Saat ini, harga Dexlite (nonsubsidi) di Aceh dibanderol sekitar Rp23.500 per liter, sementara Pertamina Dex dipatok Rp25.350 per liter. Selisih harga yang cukup lebar ini mendorong masyarakat dan pelaku usaha beralih ke biosolar subsidi yang lebih terjangkau, yang pada akhirnya memicu aksi pembelian berlebihan (panic buying) dan kepadatan kendaraan di SPBU.
Menyikapi kondisi yang meresahkan ini, Pemerintah Aceh bersama Area Manager Aceh PT Pertamina Patra Niaga terus memperketat pengawasan terhadap rantai distribusi BBM subsidi. Selain itu, Pemerintah Aceh berencana mengirimkan surat resmi kepada BPH Migas sebagai langkah antisipasi guna memastikan pasokan BBM tetap aman hingga akhir tahun. Masyarakat pun terus diimbau untuk menggunakan BBM sesuai dengan peruntukannya, agar subsidi benar-benar tepat sasaran dan antrean panjang tidak semakin menyulitkan aktivitas warga, terutama pasca perayaan Idul Adha.












Discussion about this post