Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Akademisi ISBI Aceh: Penambangan di Hulu Krueng Aceh Ancam Ekologi hingga Kebudayaan

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
September 17, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Akademisi ISBI Aceh: Penambangan di Hulu Krueng Aceh Ancam Ekologi hingga Kebudayaan

ACEH BESAR – Akademisi dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Iskandar Tungang, menilai aktivitas penambangan emas di kawasan hulu Krueng Aceh, Aceh Besar, sebagai persoalan serius yang tidak hanya mengancam ekosistem sungai, tetapi juga kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.

“Jangan melihat Krueng Aceh sekadar sebagai aliran air. Ia adalah ruang hidup masyarakat. Di sana ada satwa, hutan, masyarakat, aktivitas ekonomi, dan kebudayaan yang tumbuh dari hubungan manusia dengan sungai. Ketika hulunya rusak, seluruh hubungan itu ikut terancam,” ujar Iskandar.

Sejumlah laporan mengenai aktivitas PETI di kawasan Jantho dan Jalin menyebut kondisi air sungai mengalami kekeruhan. Pengecekan aparat pada April 2026 juga menemukan air Krueng Jalin dalam kondisi keruh. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan penyebab dan tingkat pencemarannya.

Menurut Iskandar, persoalan tersebut tidak cukup dilihat dari perubahan warna air. Kekeruhan sungai perlu dilihat dalam kaitannya dengan kondisi biota, habitat, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai.

“Kalau air semakin keruh, ikan berkurang, habitat terganggu dan masyarakat mulai kehilangan ruang untuk beraktivitas di sungai, maka yang kita hadapi bukan lagi sekadar persoalan air. Kita sedang melihat perubahan sebuah ekosistem dan kehidupan yang bergantung kepadanya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa sungai merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat. Praktik mencari ikan, pemanfaatan air, interaksi sosial, hingga pengetahuan lokal terbentuk melalui hubungan masyarakat dengan lingkungan yang berlangsung secara turun-temurun.

“Kebudayaan itu tidak hanya tersimpan di museum atau benda-benda bersejarah. Kebudayaan juga hidup dalam hubungan manusia dengan alam. Kalau sungainya rusak, bagian dari kebudayaan yang bergantung pada sungai itu juga bisa ikut hilang,” ujarnya.

Karena itu, Iskandar meminta pemerintah tidak hanya menertibkan aktivitas tambang, tetapi juga memastikan kondisi ekologis Krueng Aceh diperiksa secara serius dari hulu hingga hilir, termasuk kualitas air, sedimentasi, kondisi biota, dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Atas nama dan kepentingan apa pun, tidak seharusnya ekosistem yang menjadi ruang hidup masyarakat umum dikorbankan. Kita tidak boleh menunggu sampai kerusakannya menjadi permanen, dan kemudian baru sadar. Itu sangat konyol” tegasnya.[]

Tags: Aceh BesarISBIKrueng Acehtambang ilegal
ShareTweetSendShare

Related Posts

PB RTA Desak Investigasi Independen Kasus Penembakan Tiro dan Penyelesaian Status Quo Bendera Aceh
Daerah

PB RTA Desak Investigasi Independen Kasus Penembakan Tiro dan Penyelesaian Status Quo Bendera Aceh

November 6, 2026
Bupati Aceh Besar Ikuti Rakor Penyaluran Bantuan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana
Daerah

Bupati Aceh Besar Ikuti Rakor Penyaluran Bantuan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana

November 6, 2026
Dari Aceh ke Dunia, Al-Azhar Cairo Banda Aceh Jadi Sorotan Pendidikan Global Apple
Daerah

Dari Aceh ke Dunia, Al-Azhar Cairo Banda Aceh Jadi Sorotan Pendidikan Global Apple

November 5, 2026
Gubernur Mualem Intruksikan Percepat Penyediaan Lahan Integrasi dan Penataan HGU
Daerah

Mualem-Dek Fadh Berduka atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

November 5, 2026
Wali Nanggroe Terima Menko Yusril, Bahas Kekhususan Aceh dan Penyelesaian Isu Bendera Aceh
Daerah

Wali Nanggroe Terima Menko Yusril, Bahas Kekhususan Aceh dan Penyelesaian Isu Bendera Aceh

November 5, 2026
Rahmad Mulia: Jangan Biarkan Polemik Ijazah Jokowi Merusak Marwah Kepemimpinan Bangsa
Daerah

Rahmad Mulia: Jangan Biarkan Polemik Ijazah Jokowi Merusak Marwah Kepemimpinan Bangsa

November 5, 2026
Next Post
Kemiskinan dan Pengangguran di Aceh Tinggi, Pengamat Ekonomi Bisnis Desak Pemda Optimalkan HGU dan Hilirisasi Sawit

Kemiskinan dan Pengangguran di Aceh Tinggi, Pengamat Ekonomi Bisnis Desak Pemda Optimalkan HGU dan Hilirisasi Sawit

Gubernur Mualem Intruksikan Percepat Penyediaan Lahan Integrasi dan Penataan HGU

Gubernur Mualem Minta Bupati/Walikota se-Aceh Siap siaga Potensi Bencana

Discussion about this post

Recommended Stories

Mengapa orang kaya semakin kaya – bahkan selama krisis global?

December 30, 2022
Cegah Eskalasi, Pendekatan Humanis Kapolda Aceh Tangani Kerusuhan di Hari Damai Aceh Diapresiasi

Cegah Eskalasi, Pendekatan Humanis Kapolda Aceh Tangani Kerusuhan di Hari Damai Aceh Diapresiasi

August 18, 2026
Kemendikdasmen Buka Pendaftaran Program Pertukaran Guru Indonesia–Korea 2026

Kemendikdasmen Buka Pendaftaran Program Pertukaran Guru Indonesia–Korea 2026

February 2, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!