Hidup sederhana konon mencerminkan budaya para pemimpin negara-negara Nordik yang jadi simbol kesederhanaan. Namun, teladan kesederhanan ini juga bisa ditemukan dalam sosok tokoh Bangsa. Diantaranya Bung Hatta, Jenderal Hoegeng Menteri Ir. Sutami, dan Jaksa Agung Baharuddin Lopa. Puncanya pada Nabi Muhammad SAW.
TINJAUAN.ID | Baru baru ini perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr menjadi sorotan setelah ia terlihat mengenakan sebuah jam tangan sederhana yang harganya berkisar satu jutaan rupiah. Foto itu tampak dalam unggahannya di akun media sosial. Sontak netizen Indonesia membandingkannya dengan gaya oknum para pejabat Indonesia yang tampak glamor dan jauh dari kata membumi.
Pilihan pakaian sederhana konon memang mencerminkan budaya para pemimpin negara-negara Nordik yang menjadi simbol kesederhanaan yang dianggap sebagai salah satu cara merawat kepercayaan dan kedekatan masyarakat.
Namun jika kita cermati, dalam jejak sejarah Indonesia gaya kesederhanan ini juga bisa ditemukan dalam sosok tokoh-tokoh Bangsa.
Sebut saja diantaranya; Bung Hatta (Sang Proklamator) yang hingga akhir hanyatnya tidak sempat membeli sepatu Bally yang merupakan idamannya, Hoegeng (Jendral Polisi) yang menolak fasilitas pengawalan pribadi, demikian pula Menteri Ir. Sutami yang memilih hidup sederhana ketimbang memakai fasilitas negara, Baharuddin Lopa (Jaksa Agung), pejabat yang tidak suka menerima upeti, dan masih banyak lagi yang membuktikan bahwa kita juga tidak kehilangan figur-figur demikian.
Pertanyaannya kemudian, mengapa kita lebih terpukau Ketika melihat kesederhanaan orang lain? Mengapa harus menoleh jauh ke Norwegia untuk menemukan contoh pemimpin bersahaja? Indonesia tidak kekurangan teladan dalam konteks kebangsaan, juga dalam konteks keagamaan.
Ada teladan yang dipuji bukan hanya oleh kawan namun juga lawan dan pujian untuknya mengalir dari zaman ke zaman, Michael Hart dalam “The 100, A ranking of the most Influential Person in History” setelah menempatkan namanya di posisi pertama dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia, ia menulis: “My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the secular and religious level…it is this unparalleled combination of secular and religious influence which I feel entitles Muhammad to be considered the most influential single figure in human history.”
Baginda Muhammad SAW dianggap oleh Hart sebagai sosok yang sukses dalam tingkat sekuler (duniawi) juga dalam hal religiusitas (keagamaan) yang tak tertandingi dan ia layak menjadi tokoh tunggal paling berpengaruh dalam sejarah ummat manusia, demikian komentar Hart dalam karyanya tersebut.
Muhammad SAW bukan sekedar seorang pengkhotbah yang hanya berdiri diatas mimbar, atau rahib yang hanya beribadah semalaman suntuk. Dalam perjalanan hidupnya beliau juga menjadi pemimpin komunitas, panglima yang gagah di medan perang, hakim yang adil dalam memutus perkara, diplomat handal, guru yang inspiratif juga kepala keluarga yang menjadi panutan.
Segala lini beliau menguasai, dan kekuasaan berada dalam genggamannya. Namun hal tersebut tidak mengubah gaya dan cara hidupnya. Ia tetap hidup dalam kesederhanaan, rumah yang sangat sederhana, dengan gaya hidup yang sederhana.
Kesederhanaan Rasulullah
Disebutkan dalam Riwayat; suatu ketika saat Rasulullah Muhammad SAW terbangun dan bergeser, tiba-tiba pakaian beliau tersingkap. Umar bin Khattab melihat garis-garis anyaman tikar kasar berbekas jelas di punggung beliau, melihat kondisi itu, dadanya sesak, matanya mulai berkaca-kaca.
Rasulullah SAW menyadari hal tersebut dan berkata; “Apa yang membuatmu sedih Wahai Umar?” Umar menjawab; “Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis? Tikar kasar ini telah meninggalkan bekas di punggungmu. Aku melihat tidak ada apa-apa di kamarmu ini, padahal Raja Kisra dan Romawi tidur diatas ranjang emas, kasur sutra yang empuk dan tinggal di istana megah yang dialiri sungai-sungai, sementara engakau adalah utusan Allah SWT, kekasih-Nya, namun engkau tidur dalam keadaan seperti ini.”
Mendengar ucapan Umar, Rasulullah SAW tersenyum. Dengan sangat tenang beliau berkata; “Wahai Umar, tidakkah engkau ridha, jika dunia ini menjadi bagian mereka (orang Kafir) dan akhirat menjadi bagian kita?
Kemudian belliau melanjutkan, “apalah artinya dunia ini bagiku? Perumpamaan diriku dan dunia ini seperti seorang Musafir yang berjalan di hari yang panas lalu berteduh sejenak dibawah pohon untuk beristirahat, kemudian pergi dan meninggalkannya” (Hr. Tirmizi).
Kenikmatan Dunia bukan Tujuan
Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan para sahabat bahwa kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya yang sesaat ini bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mendapatkan akhirat
Worldview (cara pandang) yang dibangun Rasulullah SAW ini sukses membuat para sahabat menjadikan kehidupan dunia sebagai sarana akhirat, harta, kuasa tidak membuat mereka buta dan lupa dengan tujuan kehidupan yaitu Ridha Allah SWT.
Worldview (Cara pandang) ini yang perlu Kembali menjadi bahan renungan bagi setiap pribadi muslim juga para pemimpin. Bahwa nikmat yang Allah SWT berikan pada waktunya akan dipertanggung jawabkan. Baik kesehatan, umur, kesempatan, jabatan dan yang lain.
Dengan adanya cara pandang Ilahi ini maka tidak akan ada istilah “Pajan lom, teungoh na”, (kapan lagi, selagi ada), pameo ini terlihat candaan, namun tanpa disadari ia membentuk cara berfikir sebagian orang sehingga kesempatan yang ada seringkali menjadi sarana kesewenang-wenangan.
Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya, namun ia mengarahkan dengan nilai-nilai bagaimana mendapatkan kekayaan yang benar (bukan dengan mengeksploitasi manusia dan alam dengan semena-mena).
Dan setelah mendapatkan kekayaan, untuk apa kekayaan itu digunakan? Islam senantiasa menyeru perihal Mashlahah ‘Ammah (kemashlahatan bersama) sehingga dengan itu terwujudnya keadilan sosial dan jauh dari ketimpangan sosial.
Islam juga tidak mengharuskan seorang Pemimpin harus hidup miskin. Ia mengarahkan bagaimana setiap individu mampu membatasi diri dari hawa nafsu yang mengekangnya. Apalagi para penguasa yang berada di pucuk kekuasaan, dengan segala alat kekuasaan dan fasilititas tentu menjadi godaan tersendiri.
Para pemimpin hari ini dituntut bukan sekedar mampu mengambil manfaat dari sumber daya yang ada, namun di samping itu juga ada satu skill yang patut untuk dikuasai oleh setiap kita, terlebih para pemimpin. Skill itu bernama kemampuan menahan diri agar kekuasaan tidak berubah menjadi keserakahan.
Figur-figur diatas menunjukkan kepada kita bahwa bangsa ini tidak sedang mengalami krisis figur. Kita memiliki banyak figur yang menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus membuat seseorang kehilangan kesederhanaan, dan jabatan tidak mesti menjadi sarana keserakahan.
Maka persoalannya bukan pada ketiadaan figur, namun bersediakah kita meneladani para figur tersebut ketika kesempatan, jabatan, dan kekuasaan ada di tangan kita?
Oleh: Ihsan Sulis, Penulis opini Keislaman yang meyakini bahwa nilai-nilai agama tidak hanya sebatas dalam ruang privat ibadah, namun mengalir dalam sendi-sendi kehidupan.










Discussion about this post