Jakarta – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) berlangsung dengan nuansa khas Aceh, Senin (17/8).
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya memimpin upacara sebagai inspektur dengan mengenakan pakaian adat Aceh. Seluruh pejabat Eselon I Kemenekraf turut mengenakan busana tradisional Aceh sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Nusantara sekaligus penghargaan atas kontribusi Aceh dalam sejarah perjuangan bangsa.
Pemilihan busana tersebut mencerminkan pesan bahwa kekuatan Indonesia lahir dari keberagaman daerah yang bersatu dalam semangat kebangsaan. Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia.
Dalam amanatnya, Teuku Riefky mengajak seluruh insan Kementerian Ekraf menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai pengingat untuk terus memperkuat semangat pengabdian, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia melalui karya dan kerja nyata.
“Cinta Tanah Air harus terus ada dalam setiap ikhtiar kita membangun negeri. Dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote, kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan bersama. Karena itu, tugas kita hari ini adalah menjaga persatuan tersebut melalui kerja nyata dan pengabdian untuk bangsa dan negara,” ujar Teuku Riefky.
Ia menambahkan bahwa kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Kekayaan budaya Indonesia, termasuk warisan Aceh, merupakan sumber inspirasi yang dapat terus dikembangkan menjadi karya, produk, dan jenama kreatif yang memiliki nilai tambah serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif menyerahkan Satyalancana Karya Satya kepada 19 Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Ekraf sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian kepada negara. Penghargaan tersebut diberikan kepada empat ASN dengan masa bakti 30 tahun, 13 ASN dengan masa bakti 20 tahun, dan dua ASN dengan masa bakti 10 tahun.
Menanggapi perkembangan situasi di Aceh dalam beberapa hari terakhir, Teuku Riefky mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga suasana damai dan kondusif.
“Forkopimda dan para tokoh Aceh telah duduk bersama dan berikhtiar mencari solusi. Kita percaya, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia, kedamaian, ketertiban, dan kondusivitas di Aceh adalah modal utama pembangunan dan kesejahteraan. Itu menjadi harapan kita bersama,” ungkapnya.
Rangkaian upacara ditutup dengan penyerahan penghargaan Guinness World Records untuk kategori “Largest Gathering of People Wearing Indonesian Woven Textiles (Tenun Wastra)”, yang diterima langsung oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Dalam momentum tersebut, para peserta mengenakan beragam wastra Nusantara, termasuk banyak tenun Aceh, yang menjadi bagian dari kekayaan tekstil tradisional Indonesia dan turut mewarnai pencapaian bersejarah tersebut.[]











Discussion about this post