Sejak dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dikelilingi oleh lingkaran kecil orang-orang yang telah lama dikenalnya. Sebagian dari dunia militer, sebagian dari Partai Gerindra, dan sebagian lagi dari keluarga sendiri.
TINJAUAN.ID | Sejumlah tokoh dianggap sebagai orang-orang kepercayaan Presiden Prabowo dan menjadi lingkaran utama di sekeliling presiden. Lingkaran ini menempati posisi-posisi strategis di Istana, kabinet, DPR, hingga BUMN, dan dinamikanya terus bergeser seiring berjalannya pemerintahan.
Sjafrie Sjamsoeddin: Sahabat Lama dari Akademi Militer
Sjafrie Sjamsoeddin dikenal sebagai sahabat lama Presiden Prabowo sejak masa pendidikan di Akademi Militer Magelang. Ia kini menjabat Menteri Pertahanan. Yang menarik, dalam momen-momen krisis, Prabowo kerap memercayakan tugas sensitif kepadanya.
Saat reshuffle 2025, alih-alih memberi kewenangan kepada Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Prabowo justru menunjuk Sjafrie untuk memimpin stabilitas keamanan dalam negeri dan meredakan gejolak kerusuhan massa di sejumlah daerah, sembari tetap menjabat Menteri Pertahanan.
Pengamat politik bahkan menilai rangkaian peristiwa ini menunjukkan siapa sosok yang benar-benar dipercaya Prabowo ketika situasi negara genting , meski publik selama ini menganggap posisi “ring satu” presiden dipegang oleh Sufmi Dasco Ahmad.
Ketika kerusuhan pecah menyusul tewasnya seorang pengemudi ojek daring akibat kendaraan taktis Brimob, Prabowo memilih membatalkan kunjungan kenegaraan ke China, sementara Sjafrie tampil di hadapan publik mewakili presiden untuk menyampaikan hasil sidang kabinet, sedangkan Menko Polhukam Budi Gunawan dan Sufmi Dasco Ahmad justru tidak terlihat.
Sufmi Dasco Ahmad: Mesin Politik Gerindra
Dasco, yang akrab disapa “Don Dasco”, menjabat Wakil Ketua DPR sekaligus Wakil Ketua Bidang Organisasi Gerindra. Posisi yang dianggap Prabowo sangat penting terutama untuk mengegolkan kebijakan dan program pemerintahan. Ia dikenal sebagai Ketua Harian DPP Partai Gerindra yang menjadi mesin politik utama presiden.
Namun beberapa laporan belakangan mengindikasikan bahwa pengaruh Dasco di lingkaran dalam Istana agak tergeser oleh figur-figur yang lebih dekat secara operasional dengan Prabowo sehari-hari, sebuah dinamika yang akan dibahas di bagian berikut.
Teddy Indra Wijaya: Sekretaris Kabinet yang Naik Daun
Salah satu pergeseran paling disorot dalam setahun terakhir adalah menguatnya pengaruh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. Politisi senior Amien Rais bahkan menilai posisi Teddy kini memiliki pengaruh yang sangat dominan, bahkan disebut telah melampaui tokoh-tokoh kunci lama seperti Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin.
Kekhawatiran Amien bukan sekadar soal personal, ia memperingatkan bahwa dominasi satu figur yang dianggap “orang baru” berpotensi berdampak pada stabilitas politik pemerintahan jika dibiarkan. Terlepas dari kontroversi itu, Teddy secara rutin tampil mendampingi presiden dalam rapat-rapat penting, termasuk penanganan bencana dan pemberian mandat kepada jajaran menteri di awal tahun.
Prasetyo Hadi dan Sugiono: Poros Administrasi dan Diplomasi
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Menteri Luar Negeri Sugiono juga masuk dalam lingkaran figur yang secara rutin mendampingi Prabowo dalam agenda-agenda kenegaraan, mulai dari penerimaan surat kepercayaan duta besar asing hingga rapat terbatas penanganan bencana.
Sebuah kajian komunikasi kabinet menyebut Sjafrie Sjamsoeddin, Sufmi Dasco Ahmad, Sugiono, Teddy Indra Wijaya, Angga Raka Prabowo, Prasetyo Hadi, dan Sudaryono sebagai figur-figur yang dinilai mampu menjalin komunikasi paling efektif dengan presiden.
Hashim Djojohadikusumo: Adik Kandung dengan Peran yang Terus Meluas
Di luar lingkaran militer dan partai, keluarga tetap menjadi sumber kepercayaan utama Prabowo. Adik kandungnya, Hashim Djojohadikusumo — pengusaha pemilik Grup Arsari — memegang beragam peran resmi sekaligus.
Hashim pernah menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Perubahan Iklim serta Ketua Satuan Tugas Perumahan, sebelum pada April 2026 ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.
Satgas taman nasional ini bukan tugas kecil. Dibentuk karena pendanaan untuk 57 taman nasional di Indonesia selama ini dinilai sangat minim, dengan tujuan menjadikan kawasan taman nasional sebagai sumber pendapatan (profit center) lewat eco-tourism, bukan sekadar beban anggaran negara.
Meski dekat dengan presiden, Hashim tak segan bersuara kritis. Pada Juli 2026 ia mengaku telah mendengar dan menerima banyak laporan soal indikasi penyimpangan dalam program-program prioritas Prabowo, termasuk Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, sembari meminta pengawasan yang lebih ketat.
Pengaruh keluarga Djojohadikusumo juga melebar ke dunia usaha dan politik generasi berikutnya. Pada Maret 2025, Hashim menjabat Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, sementara kedua anaknya turut mendapat posisi strategis: Aryo Djojohadikusumo dan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menjadi pengurus Kadin periode 2024-2029.
Keponakan Prabowo dan Hashim lainnya, Thomas Djiwandono, sempat menjabat Wakil Menteri Keuangan sebelum kini menduduki kursi Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Ketika Kepercayaan Diuji: Kasus Dadan Hindayana
Kedekatan personal dengan presiden tidak selalu berarti kekebalan hukum. Mantan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, diketahui memiliki kedekatan khusus dengan Prabowo yang terjalin jauh sebelum ia masuk pemerintahan. Namun ketika Kejaksaan Agung menetapkannya sebagai tersangka korupsi dalam program Makan Bergizi Gratis, Prabowo tetap menegaskan agar proses hukum berjalan.
Ia menyampaikan kepada BPKP untuk terus mengusut kasus tersebut tanpa pandang bulu, seraya menekankan bahwa jabatan publik adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada negara dan rakyat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di lingkaran Prabowo, kedekatan personal berjalan beriringan dengan ekspektasi akuntabilitas publik — setidaknya secara retorika resmi presiden.
Lingkaran yang Dianggap Rentan Diserang
Kedekatan sejumlah tokoh dengan Prabowo juga membuat mereka menjadi sasaran empuk dalam manuver politik.
Seorang pengamat intelijen dan geopolitik menyebut adanya upaya sistematis untuk melemahkan Prabowo secara internal dengan menyasar orang-orang kepercayaannya satu per satu, baik di ranah politik maupun militer — dengan tiga nama yang paling sering disebut sebagai target: Sufmi Dasco Ahmad, Hashim Djojohadikusumo, dan Sjafrie Sjamsoeddin.
Logikanya, karena Prabowo sendiri sulit diserang langsung akibat kekuatan elektoral dan posisi politiknya yang kokoh, pelemahan terhadap orang-orang terdekatnya dianggap sebagai jalan untuk melumpuhkannya secara perlahan dari dalam.
Dinamika ini kembali terlihat pada pertengahan 2026, ketika konflik antara Polri dan Kejaksaan Agung memanas. Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad disebut memainkan peran kunci dalam meredam dan mengawal dinamika konflik tersebut, yang dipicu oleh penetapan tersangka terhadap mantan pejabat kejaksaan dan mengusiknya dugaan korupsi proyek Makan Bergizi Gratis yang melibatkan aparat kepolisian.
Pergeseran pengaruh di antara lapisan-lapisan orang-orang terdekat Presiden Prabowo — seperti naiknya bintang Teddy Indra Wijaya atau kesan persaingan pengaruh antara Sjafrie dan Dasco dalam mempengaruhi keputusan Prabowo — menunjukkan bahwa lingkaran dalam Istana bukan struktur statis, relasi kedekatan dengan presiden terus dinegosiasikan seiring tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo.[]












Discussion about this post