TEHERAN – Pemerintah Iran resmi memulai rangkaian upacara pemakaman kenegaraan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu, 4 Juli 2026, sekitar empat bulan setelah ia tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026.
Upacara penghormatan untuk publik dimulai 4–5 Juli di Masjid Imam Khomeini Mosalla, Teheran, dilanjutkan ke Teheran (6 Juli), Qom (7 Juli), Najaf dan Karbala di Irak (8 Juli), hingga puncaknya di Mashhad pada 9 Juli — kota kelahiran Khamenei, tempat ia dimakamkan dekat makam Imam Reza.
Kehadiran Delegasi Dunia
Delegasi asing yang hadir memberi penghormatan terakhir antara lain Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev sebagai utusan khusus Presiden Putin, Wakil Presiden Turki Cevdet Yilmaz, Presiden Irak Nizar Amidi, Ketua Parlemen Irak Mohammed al-Halbousi, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Ketua Senat Pakistan Yousaf Raza Gillani, serta Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir.
Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi Waleed Al-Khuraiji turut hadir menyampaikan simpati dari kepemimpinan Arab Saudi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan rakyat Iran.
Sampaikan Ucapan Belasungkawa
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyebut kematian Khamenei sebagai tragedi nasional. “Syahidnya Pemimpin Tertinggi di tangan Israel dan Amerika adalah bencana besar bagi negara kami. Amerika dan Israel harus tahu bahwa ini hanya akan membawa mereka pada kehinaan,” ucapnya.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengecam serangan yang menewaskan Khamenei tersebut. “Terimalah belasungkawa terdalam saya atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, yang dilakukan dengan pelanggaran sinis terhadap semua norma moral manusia dan hukum internasional.”
PM Pakistan Shehbaz Sharif, menulis di media sosial, “rakyat Pakistan bergabung dengan rakyat Iran dalam saat duka dan kesedihan mereka dan menyampaikan belasungkawa yang paling tulus atas kesyahidan.”
Hamas, dalam pernyataan resmi menyebut Khamenei sebagai sosok yang: “memberikan semua bentuk dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat kami, perjuangan kami, dan perlawanan kami.”
Imam Salat Jumat Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, menyoroti makna politik dari besarnya jumlah pelayat. “Kehadiran publik yang besar dalam prosesi pemakaman pemimpin syahid dan para syuhada lainnya pada dasarnya akan menjadi referendum lain bagi Republik Islam.”
Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, kini menjadi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, namun dilaporkan mengalami luka parah dalam serangan yang sama sehingga diperkirakan absen dari pemakaman ayahnya.[]











Discussion about this post