Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Pojok Ekraf

Warna Alam dari Pulau Weh, Ecoprint Sabang Jadi Daya Tarik Baru Wisatawan

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
November 8, 2025
Reading Time: 2 mins read
0
Warna Alam dari Pulau Weh, Ecoprint Sabang Jadi Daya Tarik Baru Wisatawan

Semua buatan tangan ibu-ibu dari UMKM Ecoprint Sabang, komunitas perajin di bawah binaan Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) adalah sebuah produk ekonomi kreatif Aceh unggulan Sabang.

SABANG – Ibu-ibu tampak sibuk menempelkan daun-daunan dan bunga-bungaan di atas bentangan kain. Di teras rumah produksi sederhana itu, warna-warni alam berpadu dalam harmoni yang indah.

Daun jati, bunga kenanga, hingga batang secang tertata rapi di atas kain sebelum dikukus. Inilah proses inti dari ecoprint memindahkan pigmen alami daun ke serat kain tanpa bahan kimia.

Etalase di sudut ruangan menampilkan hasil yang memikat kain bermotif dedaunan, tas tangan elegan, hingga selendang bernuansa alam. Semua buatan tangan ibu-ibu dari UMKM Ecoprint Sabang, komunitas perajin di bawah binaan Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) adalah sebuah produk ekonomi kreatif Aceh unggulan Sabang.

“Sekarang sudah ada 20 ibu yang bergabung, masing-masing punya merek sendiri, tapi semuanya tergabung di Ecoprint Sabang,” tutur sang pendiri, Erna Fefilinda, yang akrab disapa Bunda Linda, saat ditemui di rumah produksi, Rabu (5/11/2025).

Komunitas ini lahir pada masa pandemi Covid-19, ketika aktivitas di luar rumah dibatasi. “Kami mulai tahun 2021, waktu itu semua serba diam di rumah. Dari situ kami belajar membuat sesuatu yang bisa dilakukan tanpa keluar rumah,” kenang Linda.

Awalnya, ia belajar secara otodidak. Namun karena “haus ilmu”, Linda melanjutkan pembelajarannya secara daring. Kini, setelah empat tahun berjalan, para perajin di Sabang telah menghasilkan karya yang diminati wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Kalau dulu orang hanya tahu bapia dan dodol Sabang, sekarang sudah ada ecoprint khas Sabang,” ujarnya bangga.

Ecoprint sendiri berasal dari Australia dan pertama kali diperkenalkan oleh India Flint. Kini, teknik ini telah berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pengrajin Ecoprint Sabang tengah menata daun di atas kain sebelum dikukus untuk menghasilkan motif alami.

Motifnya dibuat dari daun, bunga, dan batang tumbuhan yang menghasilkan pigmen alami. Kain kemudian dikukus selama dua jam, lalu didiamkan tiga hari agar warna menempel sempurna tanpa bahan kimia sedikit pun.

“Ini bukan batik biasa, tapi batik go green. Semuanya alami dan ramah lingkungan,” kata Linda sambil memperlihatkan kain berwarna kuning yang dibuat dari campuran kunyit. Ada pula warna merah muda dari kayu secang dan hijau dari teh hijau.

Limbah daun sisa produksi pun tidak terbuang. “Kami rebus lagi untuk pewarna, atau dijadikan pupuk organik. Jadi semuanya bermanfaat,” ujarnya.

Kini, produksi Ecoprint Sabang meningkat tajam dari hanya lima lembar di awal usaha menjadi 25 lembar kain per hari.

Peningkatan ini didukung Bank Indonesia (BI) yang menyediakan peralatan produksi seperti kukusan besar, dandang pewarna, dan ruang penyimpanan daun segar.

Produk-produk mereka kini bisa ditemukan di Matai Resort dan Restoran Putro Ijo, dua lokasi favorit wisatawan di Sabang. Selain itu, setiap perajin juga menjual karyanya secara daring dengan merek masing-masing.

Hasil tangan para ibu-ibu Sabang tak hanya jadi kebanggaan lokal, tapi juga incaran wisatawan mancanegara seperti Malaysia. Produk ecoprint mereka kerap diborong turis karena kualitasnya yang baik dengan harga bersahabat.

“Kalau di Jawa bisa sampai sejuta, di sini cuma tiga ratus sampai lima ratus ribu. Tapi kualitasnya sama,” ujar Linda.

Ia menegaskan, selain bernilai ekonomi, karya ini juga membawa pesan kelestarian alam. “Kami tidak ingin hanya membuat kain indah, tapi juga menjaga lingkungan. Karena setiap helai kain ini membawa jejak daun yang hidup dari tanah Sabang,” ucapnya.

Bagi Erna, Ecoprint Sabang kini bukan sekadar karya seni, tapi juga simbol kesadaran ekologis yang tumbuh dari tangan-tangan perempuan. Dari daun yang jatuh, lahirlah karya yang hidup mengikat warna dan cerita di setiap helainya. (*)

ShareTweetSendShare

Related Posts

TikTok Go Jadi Partner Ekosistem Digital ACF 2026, Dorong UMKM Kuliner Aceh Go Digital
Daerah

TikTok Go Jadi Partner Ekosistem Digital ACF 2026, Dorong UMKM Kuliner Aceh Go Digital

September 10, 2026
Sanger Day Fest 2026 Digelar 11–14 September, Bagikan 1.001 Gelas Sanger Gratis
Daerah

Sanger Day Fest 2026 Digelar 11–14 September, Bagikan 1.001 Gelas Sanger Gratis

September 10, 2026
‎Rilis Annabi Shallu, Nazar Apache Musisi Aceh Pertama yang Menggunakan Full AI untuk Video Klip Resmi
Pojok Ekraf

‎Rilis Annabi Shallu, Nazar Apache Musisi Aceh Pertama yang Menggunakan Full AI untuk Video Klip Resmi

August 24, 2026
Teuku Riefky Pimpin Upacara HUT RI Kemenekraf Dengan Kharisma Budaya Aceh
Nasional

Teuku Riefky Pimpin Upacara HUT RI Kemenekraf Dengan Kharisma Budaya Aceh

August 19, 2026
Presiden Prabowo Teken Perpres Rindekraf 2026–2045, Peta Jalan Baru Ekonomi Kreatif Indonesia
Nasional

Presiden Prabowo Teken Perpres Rindekraf 2026–2045, Peta Jalan Baru Ekonomi Kreatif Indonesia

July 13, 2026
Desainer Wastra Pidie Jaya Ukir Sejarah, Tiga Motif Khas Pidie Jaya Raih HAKI
Pojok Ekraf

Desainer Wastra Pidie Jaya Ukir Sejarah, Tiga Motif Khas Pidie Jaya Raih HAKI

June 16, 2026
Next Post
Cokbang, Cokelat Lokal Sabang yang Jadi Buruan Wisatawan

Cokbang, Cokelat Lokal Sabang yang Jadi Buruan Wisatawan

ISBI Aceh Gagas “Seni Assalamu’alaikum”, Rayakan Hari Seni Islam Internasional 2025

ISBI Aceh Gagas “Seni Assalamu’alaikum”, Rayakan Hari Seni Islam Internasional 2025

Discussion about this post

Recommended Stories

Wagub Aceh Buka Seminar Internasional Sawit: Tata Kelola dan Rantai Pasok Jadi Kunci

Wagub Aceh Buka Seminar Internasional Sawit: Tata Kelola dan Rantai Pasok Jadi Kunci

August 13, 2025
Bersama Banleg DPR RI, Mualem Tegaskan Revisi UUPA sebagai Langkah Penting bagi Aceh

Bersama Banleg DPR RI, Mualem Tegaskan Revisi UUPA sebagai Langkah Penting bagi Aceh

October 22, 2025
“Saya bukan kombatan”, Catatan Risman Semasa Konflik Aceh

“Saya bukan kombatan”, Catatan Risman Semasa Konflik Aceh

August 8, 2025
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!